Go Ahead, Paris! #1

DISCLAIMER: Beberapa waktu lalu, saya diundang meliput perjalanan dua pemenang kompetisi Go Ahead Challenge dalam gelaran Paris Fashion Week 2014; dengan tiket pesawat, akomodasi, serta uang saku selama perjalanan ditanggung oleh tim penyelenggara. Meskipun demikian, saya berangkat dalam kapasitas sebagai independent blogger yang berhak menuliskan dan melaporkan (ataupun tidak) mengenai apapun yang saya lihat, alami, dan rasakan selama perjalanan tersebut; tanpa sensor maupun suntingan dari pihak penyelenggara.

Passion is overrated. Yang jadi pertanyaan besarnya adalah: seberapa keras kau mau bekerja untuk impian-impianmu? Relakah kau tak tidur bermalam-malam demi terus menyempurnakan apa yang sedang kau ciptakan; absen bertemu kawan-kawan demi menyelesaikan sebuah karya yang selalu kau impi-impikan; menghemat lembar demi lembar rupiah demi kesempatan-kesempatan menghadirkan buah pemikiranmu jadi kenyataan? Seberapa tebal kulitmu untuk menerima penolakan demi penolakan, cibiran dan hinaan, atau pandangan sebelah mata ketika kau dianggap masih bukan siapa-siapa?

***

Pagi itu, Paris berwarna ungu dan abu-abu. Angin bertiup dingin, membawa gerimis yang berhenti sebentar-bentar, sebelum kemudian menderas kembali. Hari Minggu. Kota ini berdenyut terlalu pelan di bawah hujan: jalanan lengang, dan toko-toko yang kebanyakan tutup hanya memperbolehkan kami mengintip gelapnya ruangan di balik jendela pajang. Bersama Sylvester dan Bram, saya menyusuri trotoar Paris yang basah dan becek perlahan-lahan, mencoba mengusir rasa kantuk dan penat setelah penerbangan panjang dari Jakarta demi secangkir kopi dan sarapan hangat.

Seraya memasang topi Totoro saya untuk melindungi kepala dari rintik halus hujan yang terbawa angin, saya bertanya-tanya, apa yang sesungguhnya tengah berkecamuk dalam benak kedua lelaki yang kini telah menjejak Paris itu. Sylvester Basssang desainer, dan Ignatius Bramantya–sang fotografer. Keduanya baru saja menapaki awal karir setelah merampungkan studi; dan kini tiba-tiba saja, menemukan diri mereka berada di Paris untuk bekerja di belakang layar sebuah perhelatan internasional sekelas Paris Fashion Week.

Saya teringat kebahagiaan yang memuncak ketika dulu sekali, untuk yang pertama kali (tepat sehari setelah ulang tahun saya), salah satu tulisan blog saya difitur dalam kolom Freshly Pressed oleh WordPress. Atau ketika cerita pendek saya untuk pertama kalinya diterbitkan dalam sebuah omnibus dan bisa didapatkan di toko-toko buku. Jadi, saya tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Sylvester dan Bram saat itu. Dari 30 ribu (ya, 30 ribu!) karya dari seluruh Indonesia yang masuk dalam ajang Go Ahead Challenge–kompetisi kreatif yang mereka ikuti–karya keduanya berhasil keluar sebagai pemenang. Dan kini mereka dapat bekerja langsung bersama figur-figur internasional dalam dunia fashion di Paris.

***

“Keluargaku memang suka memotret,” kata Bram–yang baru saja memulai karirnya sebagai fotografer di sebuah perusahaan media. “Ayahku sempat bekerja di industri media pada tahun 90an. Kami tiga bersaudara. Kakakku yang pertama bekerja di perusahaan periklanan di Jerman, sedangkan kakakku yang kedua bekerja di sebuah harian sebagai wartawan daerah di Jawa Tengah. Melihat mereka berproses, aku belajar banyak hal. Pendidikanku di film juga erat kaitannya dengan fotografi. Dengan fotografi, aku bisa mengisahkan sesuatu kepada orang lain.”

Malam itu, setelah hujan pergi tertiup angin dan hanya menyisakan dingin yang menggigit, kami berkumpul berdesakan di lantai atas sebuah restoran di salah satu sudut kota Paris bersama Michel Dupré. Ia fotografer fashion asal Perancis dengan bahasa tubuh yang hangat, mata yang jenaka, dan senyum yang mengembang. Melihatnya, saya langsung teringat pada tipikal wajah lelaki Perancis yang biasa saya lihat di komik-komik Eropa–lengkap dengan kumis dan rambut ikal sebahu.  Di sela-sela makan malam ala Perancis (yang bisa berlangsung selama 3 jam), Sylvester, Bram, dan Michel larut mendiskusikan konsep pemotretan, rencana scouting lokasi, casting model yang akan dilakukan esok hari, serta waktu terbaik untuk mendapatkan cahaya natural yang mereka inginkan selama pemotretan.

Ya, malam pertama di Paris sudah langsung mereka habiskan untuk mendiskusikan pekerjaan. Beberapa hari lagi, di bawah arahan langsung Michel dan timnya, Bram akan melakukan photo shoot di Paris untuk koleksi rancangan desainer muda Indonesia, Tex Saverio, yang akan disandingkan dengan koleksi Sylvester.

“Aku sangat terinspirasi dengan budaya Timur Tengah,” kata Sylvester. “Suatu hari, aku menonton tayangan televisi mengenai Islam, Timur Tengah, dan terorisme. Aku merasa ada sesuatu yang salah di sana. Aku melihat bahwa budaya Timur Tengah adalah budaya yang indah. Mereka yang berpakaian dengan gaya Timur Tengah bukan berarti teroris. Di sinilah aku merasa ingin menyampaikan sesuatu lewat rancanganku. Aku ingin mengangkat keindahan budaya Timur Tengah dengan menciptakan busana yang indah. Aku tak ingin orang-orang melihat Timur Tengah untuk hal-hal yang negatif saja.”

Saya tak bisa menahan diri untuk tersenyum ketika mendengar penjelasannya yang berapi-api. Terus terang, saya bukan tipe perempuan yang terlalu kerap mengikuti perkembangan dunia fashion. Seringkali, saya hanya melihat dunia fashion lewat sisi konsumerisme, kesinisan, dan keglamorannya–yang kerap dipertontonkan lewat media cetak dan elektronik. Mendengar Sylvester bertutur mengenai kisah di balik rancangannya, dan bersentuhan langsung dengan keramahan dan kehangatan seorang fotografer fashion sekelas Michel Dupré, saya merasa mulai memiliki pandangan berbeda tentang dunia fashion; dan orang-orang yang berkecimpung di dalamnya. Maybe it’s not such a bitter industry, after all. Mungkin saya memang sekadar perlu menambah referensi.

Keesokan harinya, ketika kami berkunjung ke Museum Louvre–dan hanya punya waktu dua jam untuk dihabiskan di sana (sesuatu yang menurut saya nyaris mustahil, mengingat betapa besar, luas, dan banyaknya koleksi museum itu); saya memutuskan untuk menggunakan sebagian besar waktu yang saya miliki untuk menelusuri satu sayap saja.

Tidak, saya tidak mencari Mona Lisa yang termashyur itu. Saya lebih memilih untuk tersesat dalam lorong-lorong yang menampilkan seni dan sejarah Islam. Rasanya tak terlalu kebetulan ketika kemudian saya dan Sylvester tiba-tiba saja berpapasan di lorong Egyptian Art.

***

Menelusuri kota Paris seraya merapatkan overcoat untuk mengusir dingin yang sesekali mampir, saya mulai dapat melihat kota ini dari sisi berbeda. Paris tidaklah selalu seglamor dan seromantis yang dibayangkan orang-orang. Kau masih bisa menemukan puntung-puntung rokok yang seenaknya saja dibuang di pinggir jalan, para pengemis yang mengerut kedinginan di trotoar dengan selimut koyak dan tulisan J’ai Faim (saya lapar) yang dicoretkan di atas kertas kardus, tuna wisma yang duduk di depan toko-toko besar dengan tas-tas plastik berisi pakaian bekas dan sisa-sisa makanan seraya memeluk anjing mereka, gelandangan yang berkeliaran di stasiun metro dan mendatangi orang-orang untuk minta uang–kemudian memaki-maki ketika tak diberi, anak-anak muda yang mabuk dan mengganggu orang-orang yang lalu-lalang di jalan, kakek-kakek dan nenek-nenek yang mengomel atau bicara sendiri keras-keras di tempat umum, serta bau pesing yang menguar di udara ketika kau berlari melewati lorong-lorong kecil.

Di sisi lain, kau juga tetap bisa mendengar sayup-sayup lagu tema dari film Amélie yang dimainkan pemusik jalanan selagi kau menapaki jalan-jalan berbatu di seputaran Montmartre, mencium manis dan renyahnya Nutella crepe yang tengah mendesis hangat di atas wajan, menepuk-nepuk kucing-kucing gemuk yang bekeliaran dari sudut-sudut yang nyaris tak kelihatan, tersipu memandangi mereka yang tengah bergandengan tangan dan melepaskan ciuman di sepanjang kanal Saint Martin, berpikinik di taman-taman kota dengan sebotol anggur, roti, dan aneka jenis keju ketika matahari sedang hangat, atau mengagumi gereja-gereja seperti Notre Dame dan Sacre Coeur yang dipenuhi burung-burung dan tersenyum pada dentang lonceng serta gita puja yang mengalun megah dalam keramaian.

Segala yang ada di sekelilingmu, sekecil apapun itu, bisa menjelma gangguan yang menyebalkan; atau inspirasi yang mengilhami. Orang-orang yang kau temui setiap hari bisa kau abaikan; atau kau sapa dengan penuh keingintahuan. Kau bisa selalu merasa punya jawaban atas segala sesuatu; atau punya pertanyaan akan segala sesuatu. Karena kau bukan hanya tentang mimpimu–kau juga bagian dari mimpi orang-orang di sekitarmu. Apa hal kecil sederhana yang bisa kau lakukan untuk membantu mereka yang kau sayangi mengejar impian-impian mereka?

***

“Aku nggak bisa menggambar,” kata Sylvester suatu hari. “Ini yang awalnya membuatku merasa tidak percaya diri untuk sekolah fashion. Tapi, lama-lama, aku belajar–dan memang tidak pernah hebat dalam menggambar, tapi setidaknya sekarang aku bisa membuat sketsa rancangan. Untungnya, kedua orangtuaku mendukung keputusanku untuk masuk sekolah fashion, bahkan mereka yang menyuruhku melakukannya. Awalnya, aku ingin sekolah kuliner dan menjadi chef. Lalu orangtuaku berkata, Kamu ingin sekolah kuliner? Masuk dapur saja tidak pernah,” ia tertawa.

“Awalnya, kupikir fotografi tidak akan bisa menghidupiku. Aku hanya senang bikin gambar saja, kok, dan tidak berpikir komersial,” ujar Bram. “Beberapa karya fotoku juga susah dimengerti oleh orang lain. Aku banyak berangkat dari kegelisahan pribadi manusia dan lingkungannya. Dalam perjalanan, aku mengerti bahwa pasar pun butuh seseorang yang bisa berpikir luas. Karena saat ini fotografi tidak lagi bicara hanya perihal teknis, tapi juga ide dan gagasan. Foto nge-blur pun sekarang menjadi hal yang sah. Bahkan aku pernah diminta Jakarta Fashion Week untuk membuat foto nge-blur dan absurd dari sisi art. Itu pengalaman yang menyenangkan.”

***

Sore itu, ketika Bram dan Sylvester memutuskan mendaki ke puncak menara Eiffel, saya memilih berpiknik di taman seraya menyesap cokelat hangat dalam gelas kertas; memandangi ikon kota Paris yang dari rerumputan terlihat seperti silang-silang rumit berwarna abu-abu gelap yang menanjak terus ke langit.

Ketika pembangunan menara ini berlangsung di Champs de Marts, sekitar 300 seniman, pemahat, penulis, dan arsitek, mengirimkan petisi kepada komisioner Paris Exposition. Mereka menuntut agar pembangunan menara ini dihentikan. Menurut mereka, menara itu menggelikan; dan akan membuat Paris terlihat seperti tumpukan jelaga raksasa. Namun, Gustave Eiffel tak peduli dengan banjir protes itu, dan kini Menara Eiffel dinilai sebagai salah satu seni struktural yang paling menakjubkan di dunia.

***

Seberapa besar nyalimu untuk meninggalkan penilaian orang-orang di belakang, lalu mengejar apa yang selama ini selalu kau inginkan? Seberapa tangguh kau menghadapi orang-orang yang berkata bahwa kau akan menyakiti orang-orang kau sayangi jika kau mengejar hal-hal yang membuatmu bahagia? Seberapa sabar kau menapaki langkah demi langkah yang bahkan kau sendiri tak tahu akan membawamu ke mana? Kau hanya tahu bahwa inilah yang selalu kau inginkan dalam hidupmu–dan inilah hal yang terpenting bagimu: sesuatu yang akan kau kenang tanpa sesal jika suatu saat nanti tiba waktumu. Tetapi, akankah kau mengambil pilihan-pilihan yang sulit itu?

Mereka bilang, jalan menuju impianmu adalah jalan yang akan membuatmu merasa kesepian di tengah keramaian. Maka, ketika hari ini kau berhenti sejenak dan memikirkan semua itu, apakah kau ingin terus berlari?

Screen Shot 2016-04-03 at 7.01.55 PM

(bersambung…)

Leave your traces here. I want to hear :)