Don’t cry because it’s over, smile because it happened.โ€ | Dr. Seuss

Suatu hari kawanmu bertanya: “What’s the worst thing that ever happened to you?”

Tanpa pikir panjang, kamu menjawab: “Being 17.”

Usia tujuh belas (juga dua atau tiga tahun sebelum dan sesudahnya), merupakan masa-masa paling sulit dalam hidupmu. Saat itulah kamu sungguh-sungguh berpikir untuk lari. Meninggalkan semua yang kamu miliki (atau semua yang tidak kamu miliki) di belakang. Memulai kehidupan baru di suatu tempat, di mana tak ada seorang pun yang mengenalmu.

Kamu mulai berpikir dan membuat daftar tentang barang-barang yang akan kau bawa di dalam ranselmu ketika kamu pergi: dompet, uang tabungan, akte kelahiran dan ijazah, buku-buku harian, novel-novel favoritmu, walkman dan kaset-kaset Eminem, juga kertas dan pensil. Ya, banyak kertas dan pensil. Kamu mulai memikirkan apa yang akan kamu makan nanti, di mana kamu akan tinggal, apa yang akan kamu kerjakan (warung makan, loteng atau gudang di rumah seseorang, menjadi pelayan di toko atau restoran).

Kamu juga sungguh-sungguh memikirkan tentang bunuh diri. Tentang siapa yang akan kehilanganmu, apa yang akan kau tuliskan di surat perpisahanmu, cara bunuh diri apa yang bersih, cepat dan tidak menyakitkan. Tentu ini berarti kamu tidak ingin menyayat nadi, menenggelamkan diri, atau terjun dari lantai atas sebuah gedung bertingkat. Mungkin kamu akan memilih arsenik jika kamu tahu di mana dan bagaimana kamu bisa mendapatkannya (lalu kamu tersadar bahwa kamu terlalu banyak membaca novel-novel detektif Hitchcock dan Agatha Christie).

Tetapi kamu tidak.

Tidak lari dan tidak bunuh diri.

Kamu memagari kamarmu dengan tumpukan buku-buku, tulisan-tulisanmu, kertas-kertas dari kehidupan yang lalu, cerita-cerita yang mengisi setiap ruang kosong dalam laci-lacimu, bunyi ketak-ketik di atas keyboard komputermu. Eminem marah dan menangis di dalam kepalamu. Kamu menemukan cara untuk merasa tidak sendirian. Akhirnya kamu bisa merasa bahwa kamu bukan satu-satunya. Kamu mencari lirik-lirik gelap dan sedih itu di Internet, menerjemahkannya menggunakan kamus Inggris-Indonesia, kemudian membacanya lagi berkali-kali hingga kertasnya lusuh dan nyaris sobek karena terlalu sering tertetesi air mata.

Kamu membawa walkman dan Eminem ke mana-mana; juga sebatang pensil untuk memutar kaset di dalamnya kalau kamu sedang ingin menghemat baterai.


Tadi pagi, kamu terbangun menjelang subuh. Ada suara burung kunti di kejauhan (kamu tak tahu nama burung itu, tetapi kamu menyebutnya burung kunti karena ia bersuara mengerikan), ditingkahi suara adzan dari masjid di dekat rumah.

Kamu bergelung kedinginan di tempat tidur, merapatkan selimut, dan mendengarkan. Kamu selalu suka suara-suara pagi. Suara-suara lewat tengah malam hingga sebelum matahari terbit. Suara-suara kesunyian. Tokek berbunyi dari suatu sudut di teras rumahmu. Dulu, kamu biasa menghitung dalam hati: he loves me, he loves me not, he loves me, he loves me not…

Tetapi kini kamu menikmatinya saja. Tak tahu harus mempertanyakan apa.

Perjalanan, sedianya membawa seseorang berpindah dari satu titik ke titik lain. Hanya saja, titik-titik ini tak selalu ditandai dengan tiket pesawat atau kereta api, bis malam menuju kota-kota yang tak bercahaya, atau sebuah rumah dengan teras lucu dan dapur kecil di dalamnya. Perjalanan tak menuntutmu bertemu orang-orang baru atau membawa kamera, atau membuat paspor dan membawa peta.

Terkadang yang kamu butuhkan hanya kesunyian. Mengheningkan tubuh, pikiran, dan hatimu. Kamu duduk di tempat yang sama, melihat jauh ke belakang, menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum: menyadari bahwa satu perjalanan besar telah kamu lewati tanpa beranjak pergi.

Hatimu lapang.

Ya, kamu sudah pulang.

Leave your traces here. I want to hear :)