Quisiera Que Estuvieras Aquí – 2. Sevilla
Posted: November 30, 2011 Filed under: Travel | Tags: sevilla, spain, Travel 8 Comments »We build a bridge of hope from memories. It stretches from here to there—connecting you and me, the structure’s as still as our faith.
Ada beberapa jembatan di Sevilla, yang dibangun menjelang La Seville de la Exposición Universal de 1992. Yang paling terkenal di antaranya adalah Quinto Centenario (mereka bilang banyak kecelakaan yang terjadi di sini), juga jembatan Barqueta dan Alamillo—yang dirancang oleh arsitek kenamaan, Santiago Calatrava. Jembatan-jembatan itu mengingatkanku pada jarak di antara kita. Jarak yang terentang di antara dua hati. Mereka memberikan harapan—jembatan-jembatan itu, seperti mengatakan bahwa jarak selalu bisa diseberangi.
“Sevilla, good! Good! Dance! Flamenco! Very good! Barcelona, flamenco, not good!” kata Salvador bersemangat. Dengan bahasa Inggris yang patah-patah, Salva—demikian ia biasa dipanggil, memperagakan tarian flamenco di atas trotoar yang ramai sebelum menutup pintu taksinya.
Tetapi aku tidak menonton flamenco selama berada di Sevilla, juga tidak mengunjungi Plaza de Toros yang terkenal itu (kamu tahu, kan, aku tak terlalu suka membayangkan ratusan banteng yang sudah mati di arena di dalam sana itu, dalam sebuah pertarungan yang menurutku tak seimbang). Aku menghabiskan dua hari di Sevilla untuk pergi ke kebun raya,
mencelupkan churros ke dalam cokelat,
lalu berjalan-jalan berkeliling kota ketika semua orang tengah siesta. Rasanya seperti berjalan-jalan di kota mati, tanpa penghuni.
Matahari di bagian selatan Spanyol menyorot panas—merambat pelan dari dataran sepanjang sungai Guadalquivir yang melintasi kota dari Utara ke Selatan. Kulitku mulai terasa perih. Sunglasses-ku berembun. Tapi tak mengapa. Aku merasa puas karena bisa memotret dengan bebas: rumah-rumah, gang, gereja, jalanan, juga atap-atap tanah liat, tanpa harus menghindari kepala orang-orang yang tiba-tiba saja lewat.
Kemudian, begitu saja, aku menemukan Basilica de la Macarena, yang menyimpan patung The Virgin of Hope (Nuestra Señora de la Esperanza). Orang-orang lokal menyebutnya La Macarena, imaji pelindung para matador dan kesayangan kaum gipsi.
Matador kelahiran Sevilla, Joselito, menghabiskan sebagian besar harta kekayaannya untuk membelikan empat butir batu permata bagi sosok Sang Perawan yang dipahat Pedro Roldán pada abad ke-17 itu. Ketika Joselito tewas di atas ring pada tahun 1920, La Macarena—dengan lima butir air mata yang bergulir di pipinya, didandani sebagai “janda” selama sebulan.
Aku melangkahkan kaki ke dalam gereja yang gelap itu, duduk di sana, dan berdoa. Ya, aku memang bukan Katolik, tetapi bukankah—seperti Hafiz, kita percaya bahwa kita selalu bisa berdoa di mana saja? Karena bukankah Tuhan, seperti cinta, ada di mana-mana, selama kita percaya?
Dan begitulah.
Apa yang mengada di antara kita akan tetap ada, selama kita percaya. Selama hati kita berkelip dalam jeda-jeda terang-gelap, seperti kode Morse yang disampaikan lewat cahaya senter di malam hari:
.. .– .. … …. -.– — ..- .– . .-.. .-..
.- -. -.. .. .– .. … …. -.– — ..- .– . .-. . …. . .-. .
Quisiera que estuvieras aquí,
H.
11 views that remind me of you.
Posted: November 11, 2011 Filed under: Love, Posts in English | Tags: 111111, photos, you 17 Comments »1. The beach. Don’t you just love going to the beach? This one is the view of Natsepa beach in Ambon, Molucca. We can sit side by side on the sand, enjoying a plate of the famous fruit ‘rujak’ and spend the rest of the day island-hopping on a speedboat.
2. A cup of coffee. This one is a cup of hot Balinese coffee, with its delicate sweetness and gentle acidity.

3. Pastries. A great company for a cup of coffee (or we can substitute the pastry with… #you, and that would be as sweet!). This one is taken in a small restaurant in La Rambla, Barcelona.
4. An old typewriter. Probably because you’re good with words—or your daily ‘proximity’ with words. And somehow I have always pictured you as an ‘old soul’: someone with such maturity beyond your years, as if you’ve lived for more than 100 years. This one is a vintage typewriter I came across in Triwindu Antique Market, Solo.
5. Artworks, paintings, and galleries. You have a love of art, and it shows in the way you view the world, the way you appreciate beauty unconventionally. This is a picture of a wonderful mess in Hector Fernández’s gallery at Double Beates, Barcelona.
6. Rain. From the black low-hanging clouds to the smell of the wet soil, from gazing at the droplets and listening to the calming sound of it. This one is taken from behind my working desk. The rain had just subsided.
7. Sunset. Because we share the love of capturing it. This one is taken in Telunas, Sugi Island, Batam.
8. Clouds. You know you’re happy at heart when you’re gazing at the funny-looking clouds and a smile appear on your lips. This one is taken in Lagos, from the balcony of the beach house. Do you see the huge cat-head below?
9. The sky. It makes me feel close to you. At times, we probably are looking at the same sky, at the same time, without actually realizing it. This one is taken in Sevilla (and–oh, look at those birds!)
10. A small café or restaurant. This one is taken in Lisboa. Look closely and you’ll see a man and a woman inside. One day, there will be you and me, meeting up for a late lunch and enjoying a small talk over our meals, discussing the most trivial things.
11. Beautiful light patterns. This one is taken in a winery in Jerez. The sunlight peers through the ‘grapevined’ roof, making those beautiful light patterns along the walls. Or maybe you simply reminded me of anything bright and beautiful.
————
*) a posting to celebrate 11.11.11
glow.
Posted: November 7, 2011 Filed under: Love 26 Comments »Hold me, you shall never ever see me
Blankets will not hesitate me
Flowers shant even wake*
Jika hidup adalah pertaruhan, aku akan mempertaruhkan semuanya untuk kita. Kamu bilang aku bodoh. Aku bilang aku jatuh cinta. Orang-orang yang jatuh cinta seperti anak burung yang baru belajar terbang. Mereka tak tahu apakah sayap mereka sanggup mengangkat mereka di udara dan bisa mengepak sempurna. Mereka tak tahu apakah sayap berupa berkah atau kutuk—apakah terbang jauh dari rumah akan mengantarkan mereka menyaksikan pemandangan indah dari tempat-tempat yang jauh, atau membuat mereka rawan diketapel. Lalu, ketika jatuh, mereka juga tak tahu apakah ada ranting dan dedaunan yang akan menangkap mereka, atau akankah mereka tewas terhempas ke tanah keras.
Semua ini adalah tentang rasa percaya.
Jadi bahkan ketika aku meninggalkanmu hari itu, aku percaya. If it’s meant to be, it will happen.
Semua orang bicara tentang takdir: bahwa jika dua orang ditakdirkan untuk bersama, mereka akan bersatu juga pada akhirnya. Tetapi takdir—seperti semua hal yang ada di dunia ini, bisa jadi hanya sementara. Kita perlu bertanya dan mempersiapkan diri: seberapa lama kita ditakdirkan untuk bersama?
Takdir, juga bisa menjelma jadi serangkaian pelajaran berharga. Bersama belum tentu membawa bahagia. Mungkin kebersamaan membawa air mata atau sakit hati. Tetapi setidaknya kita belajar. Bahwa kita ditakdirkan untuk belajar dari satu sama lain. Mungkin kita ditakdirkan untuk bersatu lalu berpisah lagi, ketika masing-masing sudah cukup belajar dan bisa berdiri sendiri-sendiri.
Kiss me, this the last time you may see me
This the last time light shall harm me
I shall cry myself to death*
Karena itulah kukatakan, bahwa jatuh cinta adalah pertaruhan demi pertaruhan. Ketika kita bertemu, aku mempertaruhkan hatiku untuk kutinggalkan bersamamu. Ketika kita berpisah, aku mempertaruhkan kemungkinan bahwa kita tak akan pernah bertemu lagi. Tetapi begitulah, dalam setiap pertaruhan, kita harus mengambil keputusan. Karena kita tidak punya banyak waktu. Dan sebesar apapun keinginan kita untuk menunggu, waktu tetap bergegas lewat. Sepertinya tidak bijaksana jika kita sekadar menunggu terlalu lama. Membiarkan momen-momen yang seharusnya mengada terbuang percuma.
Karena bukankah kita bisa menunggu sambil melakukan sesuatu: membaca buku, menanam bunga, mengupas apel, memotret sayuran segar di pasar, membuat istana pasir di tepi pantai, berbelanja di supermarket, minum kopi bersama sahabat, menonton film-film festival…
… jatuh cinta.
Funny, how you never showed your love to me
Lovely, oh the lights I can see
It is gleaming in my eyes like when you*
Ya, bukankah sementara menunggu itu kita masih bisa saling jatuh cinta?
Aku masih bisa memikirkanmu setiap saat. Mengunjungi tempat-tempat yang suatu hari nanti akan kutunjukkan kepadamu ["Di kedai kopi ini, mereka menyeduh Illy. Biasanya aku ke sini sendirian dan duduk di pojok sana itu, membaca Yoshimoto sambil mendengarkan denting piano," aku berkisah sambil menggenggam tanganmu]. Merancang kata-kata cantik yang akan kukirimkan ke awan dan kutiupkan di atas kotamu, membasuhmu dalam guyuran hujan. Mengirimkan kartu-kartu pos dari tempat yang jauh [supaya kamu tahu bahwa di manapun aku berada, aku selalu mengingatmu]. Mencari-cari bintang yang tengah kau pandangi di kegelapan. Mendengarkan musik-musik yang sedang kau putar di tempatmu lewat tengah malam. Menuliskan surat-surat untukmu yang suatu hari nanti [mungkin] akan kukirimkan.
Burned me, tear my skin off and leave me
This the last time you may hold me
This the last time I shall say goodbye*
Jadi biarkanlah kita menikmati jeda kala menunggu itu. Sendiri-sendiri. Sampai suatu hari nanti kita bertemu lagi. Bersama. Berpisah lagi. Dan demikian seterusnya. Karena aku sadar, tidak akan pernah ada seseorang yang bisa memiliki yang lain seutuhnya. Demikian pula, selalu ada rentang waktu untuk setiap ‘selamanya’. Tetapi kita masih bisa menyimpan kenangan selama jeda menunggu itu. Dia akan tersimpan selama ingatan kita masih baik-baik saja.
Dan kalau memang hanya setumpuk kenangan ini yang bisa kumiliki di akhir hari, itupun tak mengapa.
*) diiringi dentingan Glow dari Frau.
tentang ekowisata dan pulau komodo
Posted: November 1, 2011 Filed under: Life | Tags: ecotourism, ekowisata, n7w, new seven wonders, pariwisata, pulau komodo 9 Comments »Jelek-jelek begini, waktu kuliah dulu saya pernah menang lomba karya tulis se-DKI Jakarta, lho! Saya khusus membahas mengenai ecotourism. Mengapa saya jadi menyombong teringat kembali mengenai karya tulis ini? Tidak lain dan tidak bukan, karena ribut-ribut di linimasa saya: perihal voting Pulau Komodo untuk program New 7 Wonders yang kontroversial itu. Sebagai orang Indonesia, kita tentu bangga jika Pulau Komodo dinobatkan menjadi salah satu dari 7 Keajaiban Dunia. Mungkin ini juga yang membuat voting SMS untuk Pulau Komodo masih deras mengalir. Tetapi, pertanyaan selanjutnya adalah: untuk apa?
Apa manfaat memenangkan New 7 Wonders ini bagi Pulau Komodo, penduduk lokal di Pulau Komodo, oleh penduduk lokal di Pulau Komodo, maupun para komodo itu sendiri? Jika jawabannya adalah: semakin banyaknya turis lokal maupun asing yang datang ke Pulau Komodo, pertanyaan saya berikutnya: apakah banjirnya turis lokal maupun asing berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat maupun konservasi di daerah wisata?
Idealnya demikian, sementara pada kenyataannya… sama sekali tidak.
Lihat saja Bali dengan segala permasalahannya kini. Saya ingat, pertama kali saya datang ke Pantai Dreamland, pantai itu baru dibuka dan masih sepi. Saya bisa merasakan keindahannya. Terpesona dengan pasirnya, lautnya… cantik! Tahun lalu saya kembali ke Dreamland untuk mereguk keindahan itu. Apa yang saya temukan? Pantai penuh sesak dengan manusia, penuh sampah, dan berbau.
Sedih? Tentu. Kecewa? Pasti.
Tetapi ini adalah masalah klasik di berbagai kawasan wisata di Indonesia. Baru-baru ini, UNESCO yang sudah menobatkan Borobudur sebagai warisan budaya dunia pun mengancam akan mencoret candi tersebut dari daftar mereka, karena kebersihan candi yang sangat memprihatinkan: mulai dari kompleks candi yang sangat kotor dan tidak terawat; sampai bau pesing yang menyengat. Jika Borobudur—yang sudah masuk daftar warisan budaya dunia UNESCO saja—berakhir menyedihkan seperti ini, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa memenangkan New 7 Wonders akan membantu konservasi komodo dan lingkungan sekitar Pulau Komodo?
Untuk saya, yang menjadi masalah adalah: kita terlalu banyak memusatkan perhatian untuk menarik turis datang ke Indonesia, tetapi kurang memberikan perhatian bagi kesejahteraan penduduk lokal maupun konservasi di daerah wisata. Saking sibuknya beraktivitas ‘di luar’, kita sampai lupa melihat ‘ke dalam’.
Bagaimana kita bisa mengharapkan penduduk di daerah wisata menjaga dan merawat lingkungan sekitarnya jika mereka sendiri masih tidak sejahtera dan terdesak secara ekonomi? Bagaimana kita bisa mengharapkan mereka ikut dalam kegiatan konservasi jika merasa sendiri tidak merasakan dampak pariwisata bagi kesejahteraan mereka? Bagaimana kita bisa mengharapkan penduduk lokal menjadi ‘jagawana’ di daerah mereka, jika mereka sendiri masih sulit perekonomiannya?
Karenanya, saya kemudian sangat mengerti, ketika—seperti yang dikatakan Wahyuana Wardoyo: jika kita ingin menolong komodo dan Pulau Komodo, kita juga harus menolong penduduk lokal Komodo agar mereka sejahtera.
Ecotourism—atau ekowisata, sebenarnya bukan konsep yang baru. Ekowisata diartikan sebagai: “Perjalanan wisata yang bertanggung jawab ke daerah alami, yang ditujukan untuk konservasi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal”. Jika wisata alam atau “nature-based tourism” hanya mendeskripsikan perjalanan wisata ke daerah alami, ekowisata secara spesifik ditujukan juga untuk mendatangkan keuntungan bagi komunitas/penduduk lokal dan daerah tujuan wisata tersebut. Keuntungan ini bisa dalam bentuk konservasi lingkungan atau budaya, maupun keuntungan ekonomis.
Ada enam prinsip utama dalam ekowisata:
- Meminimalkan dampak buruk dari pariwisata. Dampak buruk ini justru yang seringkali kita lihat. Bahwa pariwisata justru membawa lebih banyak sampah, hotel-hotel beton yang justru merusak keindahan alam sekitar, membawa masyarakat pendatang yang bekerja di sektor-sektor pariwisata sehingga menimbulkan kecemburuan dari masyarakat/penduduk lokal, lunturnya budaya serta tradisi lokal yang tergerus oleh wisatawan asing, dan lain sebagainya.
- Membangun kesadaran akan pentingnya menghargai alam dan budaya. Mari kita iseng-iseng bertanya, ada berapa sekolah sih, di Indonesia yang mewajibkan siswanya belajar menarikan satu tarian daerah, menyanyikan satu lagu daerah, dan memainkan satu alat musik daerah di tempat sekolah tersebut berada? Atau ada berapa anak SD yang mengetahui apa-apa saja kekayaan alam atau kekayaan budaya yang ada di daerah tempat tinggal mereka? Bagaimana kalau yang mempelajari budaya-budaya ini dengan serius justru orang-orang dari luar negeri? Bayangkan, misalnya, jika suatu hari nanti ada pakar gamelan Jawa yang berasal Amerika… padahal gamelannya sendiri ada di sini, orang-orang yang memainkan dan mengambil tempat dalam sejarahnya juga ada di sini.
- Memberikan pengalaman yang menyenangkan dan positif bagi pengunjung maupun penduduk di daerah tujuan wisata. Ketika banyak penduduk lokal yang agresif memaksa turis-turis membeli cinderamata, menipu mereka dengan pura-pura berbaik hati menjadi ‘tour guide‘ gratisan tetapi lalu meminta bayaran mahal setelah selesai mengantar berkeliling—atau bermunculannya lokalisasi di daerah-daerah yang ramai oleh turis… bayangkan pengalaman macam apa yang akan kita rasakan ketika berwisata ke daerah-daerah ini. Di sisi lain, bayangkan perasaan kita jika kita adalah penduduk lokal, tetapi lahan dan tempat usaha kita “digusur” oleh kehadiran hotel-hotel, bar, restoran, serta jasa pariwisata asing—yang justru mempekerjakan atau mendatangkan orang-orang dari luar daerah untuk bekerja di sana.
- Menyediakan keuntungan finansial yang bisa langsung dirasakan untuk konservasi. Ini adalah satu hal lagi yang perlu diperhatikan. Dalam ekowisata, keuntungan dari pariwisata harus bisa dirasakan dan dialokasikan juga untuk konservasi lingkungan sekitar. Berkaca kepada Pulau Komodo, beberapa kawan mengatakan bahwa pulau tersebut bukannya kekurangan wisatawan, tetapi justru terlalu penuh dengan wisatawan. Ini mendatangkan masalah untuk konservasi, dan tentunya mengganggu penduduk lokal. Bayangkan kalau rumah kita kedatangan tamu sampai penuh sesak. Pasti rasanya tidak nyaman, kan? Pemikiran nakal pun mampir di benak saya: bagaimana jika Pulau Komodo menjadi pulau yang sedemikian alami dan ‘prestisius’, sedemikian dijaga konservasinya, sehingga ada batas maksimum turis yang bisa singgah di pulau (akan ada ijin khusus yang diberikan bagi para peneliti). Jika batas maksimum ini sudah terpenuhi dan pulau memang sudah ‘penuh’, turis lain harus berada dalam daftar tunggu atau waiting list. Semacam principle of scarcity. How cool is that!
- Memberikan keuntungan finansial dan pemberdayaan bagi masyarakat/penduduk lokal. Nah, ini juga yang perlu diperhatikan. Pernah pergi ke suatu daerah wisata dan melihat rumah-rumah penduduk atau anak-anak yang berkeliaran di sekitarnya? Bagaimana keadaan mereka? Sejahtera atau tidak? Jika tidak, bisakah kita seratus persen menyalahkan mereka kalau mereka kemudian tak peduli terhadap keberlangsungan pariwisata di daerah tersebut?
- Meningkatkan sensitivitas terhadap keadaan politik, lingkungan, dan sosial di negara tujuan wisata.
Bayangkan jika Indonesia, dengan keindahan alam, keanekaragaman hayati, serta kekayaan budayanya yang luar biasa, mengedepankan ekowisata dalam keseluruhan program pariwisatanya!
Saya bukan pakar ekowisata—saya hanya gemar berwisata. Tulisan saya di atas, juga mungkin banyak salah-salahnya. Tetapi pepatah Minang ini mungkin ada benarnya: anjuik labu dek manyauak, hilang kabau dek kubalo. Atau artinya kurang lebih: karena mengutamakan urusan yang kurang penting, yang lebih penting menjadi tertinggal karenanya.
Saya tak ingin ini menjadi perdebatan telur atau ayam. Mana yang harus didahulukan: membenahi pariwisata di dalam atau mempromosikannya ke luar? Menurut saya, keduanya penting. Hanya saja, dengan gempuran kampanye dan iklan untuk New 7 Wonders Pulau Komodo yang luar biasa gencarnya itu, perasaan saya mengatakan bahwa kita terlalu sibuk mempromosikan pariwisata kita ke luar tetapi kurang membenahinya di dalam.
Please correct me if I’m wrong.






























