Footsteps.

Senin pagi. Sepertinya kita masih saja berjalan sendiri-sendiri. Aku pun menjadi semakin terbiasa akan sekian perjalanan yang dilalui sendirian. Sendirian seperti waktu. Ia adalah teman yang baik. Sendirian selalu membuatku merasa ringan. Segalanya menjadi lebih sederhana. Nggak ada yang perlu diperbincangkan atau diperdebatkan. Nggak perlu lari mengejar atau lelah menunggu. Sendirian membuatku bebas melakukan apa yang diinginkan. Bebas berdiam diri sambil memandangi langit sepanjang malam tanpa perlu memikirkan apakah ada yang akan merasa terabaikan. Bisa berlama-lama melakukan banyak hal dan menikmati momen tanpa takut terlambat memenuhi janji dengan seseorang.

Kamu selalu bilang, kamu takut sendirian. Aku nggak tahu kenapa demikian. Sendirian itu bisa jadi menyenangkan, selama kamu nggak kesepian. Kamu bilang, mungkin itu karena aku memilih untuk sendirian. Sementara untukmu, sendirian adalah kutukan. Entahlah. Tapi… begini. Ada sebuah kutipan dari film Bones. You can love many, but there will only be one you love the most.

Katakanlah, aku baru pulang ke rumah sehabis lembur. Pukul 12 malam. Aku mandi, memakai piyama, membaca buku sebentar, kemudian tidur menjelang pukul satu dinihari. Pukul tiga pagi, telepon genggamku berdering. Kamu. Kamu bilang, kamu butuh aku, sekarang. Untuk datang ke tempat kamu berada. Dan kamu tahu, kan? Aku nggak akan bertanya lebih jauh lagi. Aku akan bangun dari tempat tidur, ganti baju, memanggil taksi, lalu meluncur untuk menemui kamu. Hanya untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja.

Semua orang punya sosok itu. Sosok di pukul 3 pagi yang membuat kita terjaga dan ingin pergi menjaganya. Kamu juga punya. Dan kamu, adalah pukul 3 pagiku. Karena itu, setiap kali kamu sedang merasa sangat sendirian, kamu tinggal mencari namaku di memori telepon genggammu, lalu menekan tombol itu: call.


The Unspoken.

Kalau ada satu hal yang selalu kamu jaga baik-baik, itu adalah perkataanmu. “Karena apa yang kita katakan, bisa melukai perasaan orang lain,” katamu. Saat itu, aku cenderung setuju. Tetapi kemudian, hidup mengajariku satu hal. Hal-hal yang kita simpan dalam diam serupa stoples kecil yang terus disesaki cangkang-cangkang kerang. Ada rasa terganggu yang menunggu setiap kali menatap cangkang-cangkang kerang itu bersesakan di dalamnya. Rasa takut ketika cangkang-cangkang di lapisan teratas sudah semakin mendekati bibir stoples. Rasa cemas ketika stoples mulai sulit untuk ditutup. Rasa sakit ketika kita melesakkan cangkang-cangkang kerang itu lebih dalam. Rasa tercekik ketika kita memaksakan tutup stoples agar bisa tetap terpasang pada tempatnya; menghancurkan cangkang-cangkang di bagian bawah stoples menjadi bubuk-bubuk halus dalam prosesnya. Rasa bersalah ketika kulit-kulit kerang di lapisan tengah ikut berderak dan retak saat kita berusaha mengadakan ruang untuk kulit-kulit kerang baru di bagian atas. Waktu menyadarkanku, bahwa hal-hal yang tidak (pernah) kita katakan ternyata bisa melukai perasaan orang lain jauh lebih dalam, sekaligus melukai perasaan kita sendiri. Menimbulkan sesak di dada. Semacam sesak yang tak mau pergi, tak peduli seberapa dalam kita menghirup udara. Lama-lama, ia membuat kita lupa seperti apa rasanya bernapas lega.

 


Sebuah Jalan.


It sometimes feels like a strange movie, you know, it’s all so weird that sometimes I wonder if it is really happening | Eminem

Mungkin kita memang masih berjalan beriringan, tetapi tanganmu sudah terlanjur lepas dari genggaman. Jalan ini masih panjang. Terlalu panjang, hingga aku tak yakin apakah nanti kita akan bertemu di ujung jalan–yang masih belum kelihatan juga sampai sekarang. Terkadang aku takut tak punya cukup waktu untuk sampai ke sana.

Dari tempatku berdiri, aku masih bisa melihatmu, melangkah pelan di kejauhan. Langkahmu berat, tetapi kamu telah memutuskan untuk tidak berhenti. Aku seperti ingin mengabadikanmu pada momen itu, sehingga aku tak akan merasa terlalu kehilangan. Tapi memotret punggungmu yang menjauh adalah sesuatu yang terlalu sepi. Aku tak ingin menorehkan ingatan tentang perpisahan ketika melihatnya kembali di kemudian hari.

Lalu kamu katakan padaku: kita adalah serupa gramofon tua dan piringan hitam yang sedih. Yang terus memutar suara-suara dari masa lalu. Yang hanya akan tetap berputar selama kita meletakkan jarum di atas piringannya.

Perih.

The truth is you don’t know what is going to happen tomorrow. Life is a crazy ride, and nothing is guaranteed | Eminem


Burden.

Berapa banyak di antara kita yang berjalan dengan menyeret-nyeret beban masa lalu di belakang?

Masa lalu memang sulit untuk direlakan lepas begitu saja. Mungkin karena masa lalu menyimpan banyak kenangan. Dan kenangan sesungguhnya adalah ingatan yang tereduksi angan-angan. Impian. Maka masa lalu bukan hanya ada di belakang, tetapi juga ingin kita seret ke muka: menjadikannya sebagai masa depan.

Saya selalu berkata, kenangan itu berbahaya. Kenangan itu candu. Jika ingatan adalah tentang segala yang sungguh-sungguh terjadi, kenangan adalah ingatan akan hal-hal yang pernah terjadi sebagaimana kita ingin mengingatnya. Kenangan memberikan kesan seolah-olah masa lalu–suatu hari nanti, akan menjadi masa depan kita. Inilah yang membuat kita, tanpa sadar, merasa bahwa kita sedang bergerak maju—dan lupa bahwa ada beban berat yang masih terseret-seret di belakang.

Beban ini bukan hanya membuat langkah kita lamban. Tapi juga menyulitkan. Ketika kita harus maju dengan berenang, beban berat ini akan menyeret kita tenggelam. Di kala kita harus mendaki tebing curam untuk sampai ke tujuan, beban berat ini akan menyeret kita jatuh ke dalam jurang.

Terkadang, kita sayang membuang beban masa lalu. Sudah terlalu lama ia menjadi bagian dari perjalanan kita. Sudah sejauh ini kita berjalan dengan menyeret-nyeretnya di belakang. Kita toh masih baik-baik saja. Mungkin kita takut merasa kehilangan. Kita takut merasa tidak lengkap. Sama seperti mengangkat tas yang terasa ringan. Lalu kita menjadi ragu-ragu: apakah ada sesuatu yang ketinggalan?

Maka sebagian dari kita terus memilih untuk berjalan dengan menyeret-nyeret beban masa lalu di belakang. Terkadang, kita sengaja berdiri di pinggir jurang agar beban masa lalu itu menarik kita kembali ke saat-saat itu: saat-saat di mana kita paling menginginkannya.

Selamat datang di dunia kenangan: di sini, semua orang tidak benar-benar hidup. Mereka bermimpi. Setelah sekian lama, sebagian orang terbangun dari mimpi mereka, memutuskan untuk memotong beban masa lalu, kemudian mendaki maju untuk hidup dalam kenyataan. Sebagian lagi masih menikmati ilusi, terus bermimpi, dan tak pernah bangun-bangun lagi.


Ero dietro di te.

Sepertinya kamu sedang berlari, meninggalkan jejak-jejak kecil di hatiku. Jejak-jejak yang selintas. Jejak-jejak yang lama-lama jadi banyak. Karena lama kudiamkan saja, kini jejak-jejak itu melekat seperti kerak. Enggan memudar walau sudah keras-keras kusikat. Bekas-bekas langkahmu memutar. Sirkular. Mengulari hatiku seperti sesuatu yang melilit erat. Tetapi mungkin kamu masih bermain-main. Masih berlari untuk kesenangan. Dan sesungguhnya, kamu tidaklah sedang mengejar apa-apa. Sama seperti aku. Aku sedang tidak kehilangan apa-apa. Tapi kemudian…

                            aku menemukan kamu.


Jarak.

Jarak punya caranya sendiri untuk memberi kita waktu. Memberi kita ruang. Membuat kita melihat lebih jelas.

Terkadang kita perlu mendekat demi terekspos pada detail: derai hujan semalaman, aroma kopi yang tertinggal di udara, halusnya pasir dalam genggaman, cinta yang mendekati selesai, sebuah akhir. Terkadang kita perlu menjauh demi terpapar pada kenyataan: jalanan yang banjir akibat hujan seharian, cangkir kopi yang sudah lama kosong, sampah lengket yang menyangkut dekat garis pantai, kesempatan kedua, sebuah awal.

Tak mudah mengakrabi jarak. Ia hadir secara acak. Jauh-dekat hanya merupa garis-garis buram ketika dilewati dalam kecepatan maksimum. Ada saatnya kita tak tahu kapan harus menarik jarak, dan kapan harus melesak dalam. Ada saatnya kita tak tahu kapan harus memagari hati atau menitipkannya pada orang lain.

Tapi jarak adalah teman yang baik. Pelan-pelan, jarak mengajari kita bahwa sesuatu yang indah akan tetap indah, baik ketika dilihat dari jauh maupun ketika dilihat dari dekat.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,858 other followers