Wisata Kuliner Bogor feat. @Didut

Ceritanya adalah menjemput Didut–kawan blogger asal Semarang di stasiun pada suatu akhir pekan yang panjang.

Setelah beberapa hari sebelumnya Didut mengirimi saya lumpia Semarang yang di-vacuum ke kantor, saya gantian menculik Didut untuk berwisata kuliner di Bogor.

Dan inilah perjalanan kuliner kami, dilengkapi dengan sesi foto-foto, tentunya :D

1. RM Sahabat (YunSin): Rumah Makan yang sudah ada sejak jaman dahulu kala. Waktu ada larangan penggunaan bahasa asing untuk nama-nama tempat usaha, YunSin pun berubah menjadi RM Sahabat. Yang dijual di sini adalah bermacam-macam chinese food. Tapi yang paling terkenal adalah mie yamin (mie ayam). Bisa pilih, mau yang asin atau yang manis. Jangan lupa coba juga sambel andalan yang mereka sediakan. Sambelnya warna coklat, mirip sambel kacang.

2. De Koffie Pot: Tempat ngopi-ngopi yang asyik karena luas dan cantik, nggak terlalu ramai seperti Starbucks. Harganya sih nggak jauh beda dari Starbucks. Penuh dengan sofa-sofa merah yang lebar dan cozy, terus sekarang di bagian luar juga ada semacam lesehan al fresco. Jadi kita bisa tidur-tiduran sambil memandangi langit dan pepohonan. Selain kopi, coba juga smoothies-nya. Enak! :)

3. PIA Apple Pie: Mungkin karena Bogor kota hujan. Ketika hujan, dingin-dingin, enaknya makan yang hangat-hangat. Salah satunya pie apel yang biasanya disajikan panas-panas ini. Selain pie apel, sekarang restoran ini juga sudah menjual beragam jenis pie, salah satunya adalah Black Russian Pie, yang terbuat dari campuran cokelat, kahlua dan krim vanila. Di samping itu, ada pula penganan kecil manis dan hangat macam tape atau pisang bakar.


Mau wisata kuliner di Bogor juga? Yuk! Masih ada lagi begitu banyak makanan yang harus dicoba! :D


A Time to Talk.

When a friend calls to me from the road
And slows his horse to a meaning walk,
I don’t stand still and look around
On all the hills I haven’t hoed,
And shout from where I am, What is it?
No, not as there is a time to talk.
I thrust my hoe in the mellow ground,
Blade-end up and five feet tall,
And plod: I go up to the stone wall
For a friendly visit.

~ A Time to Talk, by Robert Frost ~


Small Hours.

Kamu masih saja menemani cangkir-cangkir kopiku yang kesekian.

Aku selalu bilang bahwa kafein adalah stimulan yang terlalu melankolis. Apalagi ketika diiringi Owl City yang mengalun samar-samar di kejauhan; juga gerimis malam-malam. Rintiknya turun satu-satu seperti air mata. Kadang sulit buatku membedakannya. Sampai kemudian dia turun semakin deras. Dan yang ada bukan lagi hembusan dingin, tapi panas yang membakar. Di mata, pipi, hati… lalu aku akan beringsut turun dari tempat tidur, menyeret langkah ke dapur, dan menyeduh secangkir kopi lagi.

Ada saat-saat di mana kita tidak ingin tertidur. Terkadang ketika kita sedang teramat bahagia. Atau ketika kita sedang teramat sedih. Dan pada saat-saat seperti itu, mengapa selalu saja kamu? Selalu saja kamu yang masih menemaniku pada cangkir-cangkir kopi yang kesekian. Mungkin memang hanya kamu yang mengerti. Mungkin karena kita sudah sejak dulu terjaga bersama setiap akhir pekan. Mungkin karena aku percaya: bahwa walaupun kamu selalu lebih banyak diam, kamu selalu mendengarkan.

Terkadang kamu menemaniku dengan suara jangkrik dari kebun. Atau ributnya kucing-kucing yang sedang kawin. Terkadang cuma ada detik jam. Atau tiang listrik yang dipukul tiga kali. Terkadang kamu usil; mengirimiku tokek yang bersuara dari langit-langit di suatu tempat. Lalu aku akan mulai menghitung. We’ll meet again. We won’t. We’ll meet again. We won’t. We’ll meet again. We won’t. We’ll meet again…


Done.

Ya, sudah. Masih banyak masalah yang lebih penting di dunia ini ketimbang masalah cinta-cintaan. Masih ada impian, masih ada jalan-jalan, masih ada kelaparan, masih ada peperangan, masih ada hewan, masih ada hutan yang kebakaran. Masih banyak yang bisa kita pikirkan selain asmara yang berantakan.

Lagipula, selain menjadi pacar, selingkuhan, istri, suami, atau simpanan, kita toh masih punya peran-peran lain di kehidupan yang lain: anak, orang tua, majikan pudel, tukang koran, penjaga toilet, drama queen, aktivis, private banker, penyiar radio, pemimpin partai politik, anak sekolahan, penyapu jalan…

Jadi, kenapa mesti resah? Ya, sudah. Terima saja kenyataan bahwa hidup akan tetap berjalan—tak peduli apakah kita sedang jatuh cinta atau patah hati. Meski selingkuhan sedang baku-hantam dengan mantan; atau hati kita yang sudah rompal lantas disiram ibu-ibu dan hanyut ke selokan, toh pabrik-pabrik masih akan terus berproduksi. Jakarta masih akan terendam setiap kali hujan. Dan televisi masih akan memutar sinetron picis, acara hipnotis dan gosip artis.

Ya, sudah. Sekarang tinggal pilih: mau hidup dalam ilusi tapi bahagia; atau hidup dalam kenyataan tapi menderita?

—————————

*) tulisan menjelang #UWRF 2011


Oh, hi.

No wonder Einstein was so curious about time. Time, indeed, is a curious matter. The way it flexes still perplex me. Unstoppable, it marks you with invisible scars and unseen beauty. It’s like an old record store where your whole life’s on display. Browsing through the shelves, you pick the one with the prettiest sleeve on summer; the gloomiest during winter. Sometimes I wonder, whether lovers are made for a lifetime or (only) for a lovetime. And memories, are those actually traces of our long-gone past, or silent prayers for the wishful future?

*)written over Owl City’s Hello Seattle. and if you love the illustration I’m using here, please visit Alicia’s blog: http://depapelesytelasi.blogspot.com/ for more beautiful illustrations to provoke your imagination :)


Saturday Morning

Sinar matahari dan selimut yang ditarik-tarik. Salak anjing. Lompatan-lompatan kecil. Kibasan ekor. Cepat. Begitu bersemangat melihat saya akhirnya membuka mata. Pagi hari. Rambut yang awut-awutan. Saya bahkan belum mandi. Atau sikat gigi. Tapi dia sudah cukup senang. Menandak-nandak bersemangat. Kemudian melesat mengambil boneka beruangnya. Ditaruh di atas kaki saya. Lalu ia menandak-nandak lagi. Mengantisipasi saat ketika saya memutuskan meraih bonekanya itu. Melemparkannya jauh-jauh. Dan ia akan berlari sekencang-kencangnya, kuku-kukunya membuat suara ketak-ketik di atas lantai. Lalu ia datang lagi. Boneka beruang di mulut kecilnya. Diletakkan di dekat kaki saya. Lompatan-lompatan kecil dan salak itu lagi…

Seandainya manusia bisa sejujur itu ketika hatinya bilang: “I need you. I want you. Keep me company.”


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,771 other followers