Selamat Tinggal Burung Biru!

Meraih reputasi baik itu sulit. Mempertahankannya lebih sulit lagi.

Soalnya, ketika kita sudah dikenal memiliki reputasi baik, orang punya ekspektasi lebih terhadap kita. Mereka berharap kita ‘sebaik’ reputasi yang sudah sering mereka dengar. Ketika ekspektasi tidak terpenuhi, jatuhnya kecewa.

Ini beda dengan orang yang punya reputasi buruk. Karena kita sudah mengetahui bahwa orang itu reputasinya buruk, maka kita tidak berharap. Kalau kinerjanya bagus, kita terkejut (eh, wah, kok kinerjanya bagus, padahal dengar-dengar reputasinya buruk); kalau kinerjanya buruk kita tidak kecewa (yah, memang reputasinya sudah buruk, nggak perlu berharap).

Sama dengan brand yang punya reputasi baik. Menjaganya setengah mati. Apalagi jika brand itu berkembang pesat. Semakin banyak orang yang terlibat di dalamnya, semakin sulit menjaga reputasi tersebut. Ibaratnya, semakin banyak yang bisa menjadi ‘nila setitik’—yang lantas akan merusak susu sebelanga itu. Demikian halnya dengan layanan taksi. Dari dulu sampai beberapa waktu lalu, layanan taksi yang paling baik itu lekat dengan si Burung Biru. Setidaknya untuk saya.

Belakangan? Tidak lagi. Read the rest of this entry »


Kita Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

Ada kritik pedas dalam cerpen “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi“.

Seno Gumira Ajidarma dengan santai berkisah perihal [SPOILER ALERT] sebuah komplek perumahan yang tiba-tiba ‘heboh’. Pasalnya, ada seorang perempuan yang suka menyanyi di kamar mandi. Suaranya yang dianggap seksi oleh para lelaki di perumahan tersebut diklaim meresahkan masyarakat.

Kok?

Iya, soalnya gara-gara mendengar suara perempuan yang suka menyanyi di kamar mandi, para lelaki jadi punya imajinasi liar, berpikiran yang macam-macam. Para istri pun mengeluh. Bahkan setelah Pak RT meminta perempuan itu tidak lagi menyanyi di kamar mandi, masalah belum selesai. Karena bahkan setelah si perempuan tak lagi menyanyi di kamar mandi, para lelaki di komplek perumahan itu masih saja membayangkan yang tidak-tidak ketika mendengar suara ‘jebyar-jebyur’ air di kamar mandi ketika si perempuan sedang mandi.

Suara air tersebut, menurut mereka, mengingatkan mereka pada suara perempuan yang dahulu suka menyanyi di kamar mandi. Maka, perempuan itu—meskipun tak lagi suka menyanyi di kamar mandi, harus diusir pergi dari komplek perumahan tersebut.

Apakah kepergian si perempuan menyelesaikan masalah dan membuat warga menjadi damai kembali? Silakan baca akhir ceritanya di sini.

Mengapa tiba-tiba saya berkisah mengenai Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi? Nggak apa-apa, sih :D Cerpen ini hanya mengingatkan saya pada pemblokiran situs porno di Internet yang sedang ramai-ramainya itu :D Dalam cerpen Seno, warga masih tidak puas bahkan ketika perempuan itu sudah tidak lagi menyanyi di kamar mandi.

Iya, masih tidak puas, lho ;)

Pertanyaannya, setelah situs porno yang diblokir, selanjutnya apa?

Ini juga mengingatkan saya dengan petikan berita kemarin: MUI minta rumah makan tutup selama bulan Ramadhan. Padahal kan nggak semua orang berpuasa. Marilah kita juga menghormati mereka yang tidak berpuasa, dan membiarkan orang tetap bisa menyanyi riang di kamar mandi.

Bukankah kata pepatah, untuk mencegah udara dingin masuk ke dalam rumah ada dua cara: menutup dan menyegel semua celah di sekeliling rumah agar udara dingin tidak masuk ke dalam, atau menyalakan perapian di dalam sehingga kita merasa hangat meskipun udara di luar dingin :)


Ramadhan Tahun Ini


Salahkan Hujan.

Karena belakangan ini tiap sore selalu hujan, jadinya saya nggak bisa main sepatu roda atau lompat tali di luar -____- (errr…). Akhirnya, ya harus mengisi sore dengan kegiatan yang bisa dilakukan di dalam kantor, misalnya menyanyi riang, merajut, bikin berondong jagung, dengerin musik, nyoba-nyoba kombinasi resep kopi, cokelat, sirup karamel dan krimer, atau… mewarnai dengan cat air! :D

Jadilah gambar lama Ms. Kapkap (sketsa Nena menjadi peseluncur) sekarang sudah berwarna; dan tidak hitam-putih lagi. Oh ya, satu hal lagi yang bisa dilakukan di sore hari yang berhujan: nge-blog mengenai hal-hal aneh dan nggak penting kayak gini. Dan yaaa, biarkan saja kalau postingan ini nggak memecahkan masalah dunia. Yang penting kan bisa bikin hati riang :D

Apa yang biasanya kamu lakukan di dalam kantor rumah ketika hari hujan?


Cupcake

Bahkan bertahun-tahun kemudian, aku masih bisa menemukan serpihanmu dalam setangkup kue mangkuk yang berdiri manis di balik rak-rak kaca berpendingin udara itu. Masa lalu hadir dalam sekelebat wangi vanila dan gula-gula yang terendus secara tak sengaja, lama setelah kamu tidak lagi berada di sini.

“Di Inggris, dulu orang-orang bilang kue mangkuk ukurannya pas untuk dinikmati sekelompok peri yang sedang berpesta,” katamu sambil memasukkan kue-kue mangkuk dengan campuran gula blueberry ke dalam panggangan. “Karenanya, cupcake sering disebut juga fairy cake. Kue para peri.”

Peri.

Hei, mungkin selamanya kamu akan tetap menjadi peri di mataku. Peri rumah yang selalu sibuk di dapur dengan celemek hijau terangmu yang sudah dipenuhi noda-noda lama dan membuatnya kelihatan vintage, dikelilingi mixer, loyang, panci, tepung, telur, susu, juga aneka permen dan buah, membuat kue-kue cantik berukuran mini diiringi senandung Edith Piaf.

Mungkin itulah sebabnya. Sebagaimana peri yang hanya terlihat bagi kanak-kanak dan mereka yang percaya, ketika aku beranjak dewasa, kamu menghilang dari hidupku.


Pusat bayi-bayi yang hilang dan ditemukan…

Pas lagi jalan-jalan di Universal Studio Singapore, tiba-tiba saya melihat sesuatu yang membuat langkah terhenti. Baca dua kali. Tiga kali. Lalu ketawa.

Karena tulisannya rapat-rapat gitu kalo dibaca sekilas artinya jadi terkesan lain :D


Di Sini Senang Di Sana Senang

Felicia Nugroho, 2010 | 306 halaman

Berhasil dengan menjatuhkan orang lain itu gampang. Berhasil seraya mengangkat dan membagi kesuksesan dengan orang lain itu sulit, tapi terhormat.

Itulah pesan yang saya dapatkan setelah membaca buku DI SINI SENANG DI SANA SENANG yang mengisahkan perjalanan Sukyatno Nugroho–juragan Es Teler 77 yang cabangnya kini sudah tersebar di seluruh Indonesia, bahkan sampai Singapura dan Australia. “Hidup itu untuk dilakoni bukan untuk dikhayalkan,” begitu kata Sukyatno.

Dulu, sewaktu Es Teler 77 sudah membuka cabang di mana-mana, mereka masih beroperasi di restoran kecil di pinggir-pinggir jalan. Tentu saja, mereka juga bersaing dengan penjaja makanan gerobak seperti nasi goreng, sate, dan semacamnya. Sukyatno, yang pernah merasakan menjadi ‘wong cilik’ dan tahu sakitnya digusur dan ditekan pihak yang lebih kuat, enggan berkompetisi dan mematikan usaha pihak kecil. Maka, agar tak berlomba dengan pedagang kecil, mereka pindah masuk ke mall dan plaza. Justru niat baik inilah yang membuat Es Teler 77 menjadi besar dan berkembang pesat. Read the rest of this entry »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,004 other followers