Will You Still Love Me When I’m 64?

Nggak tau. Aku nggak tau apakah lima puluh tahun lagi aku masih akan tetap mencintai kamu (seperti lagu yang belakangan ini sering diputar di radio pagi-pagi dan terpaksa kudengarkan ketika sedang berada di dalam taksi). Dan aku juga nggak mau berjanji. Karena aku nggak suka kalau nggak bisa menepati janji.

Selamanya serta selalu adalah dua hal yang nggak akan pernah bisa kujamin kebenarannya—apalagi kita bicara masalah perasaan; yang bisa berubah dalam waktu semalam karena hal yang nggak akan pernah bisa dijelaskan secara memuaskan. Ditambah lagi, kita bicara soal masa depan, yang bahkan peramal paling handal pun nggak bisa memastikan.

Jadi, aku nggak tau, apakah aku masih akan mencintaimu ketika kamu berusia 64 tahun. Dan aku nggak bisa berjanji. Dan aku juga nggak tau apakah hal semacam itu perlu untuk kamu tanyakan; karena setiap kali bersama kamu, aku cuma ingin menikmati setiap momen, setiap detiknya, setiap ‘sekarang’ yang akan jadi kenang-kenangan buatku di masa depan—yang masih nggak ketahuan apakah akan kulewati dengan atau tanpa kamu.

Buatku, adalah sebuah kesia-siaan bermimpi soal masa depan selagi kamu ada di hadapanku sekarang. Saat-saat bersamamu ingin kunikmati tanpa andai-andai yang malah membuatku lupa dan teralihkan dari apa yang sedang kamu ceritakan, jins baru yang kamu pakai, taro bun yan hendak kamu pesan, seperti apa rasa jemarimu yang menghangatkan jemariku…

Cuma satu hal yang perlu kamu tau, dan bisa kujawab dengan pasti.

Bahwa kalau ditanya apakah ‘saat ini’ aku mencintai kamu, jawabannya adalah: iya.

——————-

*) pertanyaan dari status Twitter yang saya lihat di timeline dan menginspirasi saya menulis postingan ini 😀

17 thoughts on “Will You Still Love Me When I’m 64?

  1. Aku sering takut dan bertanya hal yang sama… Sekarang sudah jauh lebih stabil dan pertanyaan berbalik menyerang, “bisakah 50 tahun lagi aku mencintai seperti sekarang?”

    Jawabannya aku temukan di kuliah transfer massa. My feeling has met its saturated point and leveling off, i can’t love him more or less. It’d be just like this under any circumstances.

  2. Pertanyaan yang mengerikan, menurutku. Karena ya… tidak ada yang tahu masa depan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Sekarang kita bisa mencintai seseorang segenap jiwa raga, tapi siapa yang tahu akankah perasaan yang sama akan tetap ada esok pagi?

  3. sekarang atau lima puluh tahun lagi, ku tetap mencintaimu
    tak ada bedanya rasa cintaku, masih sama seperti pertama bertemu..

    *nyanyi-nyanyi*

    :mrgreen:

  4. cinta pilihan bukan perasaan. Gw bisa suka sama Hanny, tapi gak memilih menikahinya *Hanny jg gak mau Joe!! analogi yg absrud*

    Cinta seperti berjudi, kita memilih di awal dan dg alasan apapun tidak dapat mengubah pilihan. Kalah bayar, menang bawa uang. Alasan untuk memilih itu yg gak logis dan errr… butuh perasaan.

    1. lo bisa berjanji utk setia, to stick together, tapi janji utk mencintai… itu susah. krn lo bisa ngontrol sikap, bisa setia, bisa terus sama-sama, bisa commit, tapi perasaan lo bisa aja ga sama lagi 🙂 you can control what you do, but you can’t control what you feel 😀 *gebuk drum* ihiy

      1. Aih Hanny malam-malam bikin saya gak bisa tidur karena berpikir (maka saya apa). Hampir satu jam sejak gw baca comment lu…

        Tapi gw setuju, itu susah. Tapi gak mustahil. Seharusnya. Karena manusia yg sehat mengendalikan perasaan mereka dg akal, bukan mengendalikan akal dg perasaan *gebuk bantal, bersiap tidur*

  5. wa sbenarnya baca judul ini sudah lama baru tergerak baca pagi ini mbk hehe #jujursekali, iya saya juga baru sadar kalo “you can control what you do, but you can’t control what you feel” itu kalo ngomongin diri sendiri apalagi yang ada di hati orang, yang bisa dijalani hari ini ya dijalani saja, perkara nanti ada masanya sendiri tapi memang kadang kita terlalu egois menuntut saat nanti dipindahkan pada waktu sekarang, ah manusia

Leave a Reply