dua puluh tujuh

Mungkin ia memang sudah berhenti merayakan. Sejak lama. Kini, setiap hari merupakan sebuah perayaan dan pemenuhan rasa syukur yang lain. Jeda satu tahun tak menjadikan satu hari lebih istimewa ketimbang yang tiga ratus enam puluh empat.

Dua puluh tujuh adalah perjalanan. Perjalanan jiwa. Perjalanan hati. Tak ada lagi yang menahannya di belakang. Dan mungkin, tak ada juga yang menunggunya di depan. Tapi tak mengapa. Ia sudah berhenti mencari tujuan.

Perjalanan adalah persinggahan demi persinggahan. Ia tahu, tidak ada yang selamanya. Ia juga tahu, langkah kaki bisa berubah arah. Tetapi biarkanlah hatinya yang menempuh perjalanan itu; dan langkahnya hanya menuruti bahagia.

Karena bukankah itu yang semua orang cari?


If I Sit in My Own Place

Hari ini, saya cuma mau berbagi sebuah puisi dari Rumi. Silakan dibaca dulu :) Boleh juga berbagi apa perasaan/pemikiran yang timbul ketika membaca puisi ini. Kalau perasaannya mau disimpan sendiri juga boleh :D Besok-besok akan saya bagikan apa arti puisi ini buat saya ;)

Have a nice weekend! :)

IF I SIT IN MY OWN PLACE
A poem by Rumi

I know that God will give me my daily bread. There is no need to run about and waste my energies needlessly. In fact, when I gave up any ideas of money, food, clothes, of satisfying physical desire, then everything began to come to me naturally.

When I run after what I think I want, my days are a furnace of distress and anxiety; if I sit in my own place of patience, what I need flows to me, and without any pain.

From this I understand that what I want also wants me, is looking for me and attracting me; when it cannot attract me any more to go to it, it has to come to me. There is a great secret in this for anyone who can grasp it.

What I am saying is: busy yourselves with the business of the Other World, and everything in this world will run after you. When I said, “I am sitting in my own place in patience,” what I meant by “sitting” is sitting as applied to the business of the world to come.

If you sit occupied with the world to come you are in fact running; if you run about for the affairs of this world you are actually staying still and not doing anything real. Didn’t the Prophet say: “Make all your concerns one single concern and God will look after all your other concerns”?

Say there are ten worries nagging at you; choose the one about the Divine World, and God personally will see to the other nine worries without any need for you to do anything. There is a great secret in this for anyone who can grasp it.

—————

PS: Thank you, Eva, for the poem! :)


Makan-makan di Jogja

Berhubung ini akhir minggu, dan siapa tahu ada yang mau jalan-jalan; kalau kamu akan bertandang ke Yogyakarta akhir minggu ini, saya akan menyarankan kamu untuk mencoba dua makanan berikut ini: gudeg mercon, dan nasi langgi Bu Chandra. Memang butuh agak perjuangan mendapatkan keduanya. Untuk gudeg mercon kamu mesti rela begadang hingga pukul 2 pagi, untuk nasi langgi kamu harus sampai di sana pukul 8 pagi supaya tidak kehabisan.

1. GUDEG MERCON

Perjuangan mendapatkan gudeg mercon yang katanya enak dan luar biasa pedas itu memang luar biasa. Warung gudeg ini baru buka sekitar pukul setengah dua pagi. Ya, benar. Pukul setengah dua pagi.

Dijajakan oleh seorang ibu dari balik meja penuh baskom-baskom, kita bisa memilih mau diisi dengan apa saja nasi gudeg kita: sate, suwiran ayam, telur… semua ada. Dan tentunya, mau dikasih mercon atau tidak, alias bumbu campuran tempe dan cabe dan kerecek yang PEDAS nian.

Bikin keringetan, pastinya, tapi pasti jadi pengalaman seru buat pecinta masakan pedas! (Mohon dimaklumi kalau fotonya jelek, kombinasi lapar dan ngantuk sangat memang nggak mendukung, hehehe)

2. NASI LANGGI BU CHANDRA

Kalau untuk yang satu ini, sambangilah toko kecil Bu Chandra pagi-pagi, sekitar pukul tujuh hingga setengah delapan. Kita juga bisa memilih isi nasi langgi: telur, empal, ayam… wah, macam-macam!

Nasi langginya enak banget, rasanya gurih, dan semua lauk-pauknya empuk. Sambelnya pas pedas, manis dan asin. Terus ada juga keripik cabe-nya yang bikin rasa nasi langgi ini makin sulit dilupakan :D

*nulisnya aja bikin pingin balik lagi dan pesan gudeg mercon dan nasi langgi, yang memperkenalkan saya pada kedua makanan ini tolong tanggung jawab!* T_T

Selamat jalan-jalan dan makan-makan! :D


Kegembiraan itu Menular! :)

Kenapa blog ini dinamai Squeezing Marshmallow?

Because that’s one of the best feeling in the world. When I’m squeezing marshmallow.

Lucu rasanya. Nyenengin. Sama seperti bengong mandangin tetes-tetes hujan dari balik jendela atau lari-lari di rumput basah telanjang kaki.

Ngeliat bunga lili putih. Atau nebak-nebak bentuk awan yang lucu-lucu. Those are the things that make me happy. Simple things.

Buat saya, orang paling beruntung di dunia adalah mereka yang bisa nemuin kegembiraan dalam hal-hal yang paling sederhana :) So, I considered myself lucky! :p

Dan kepercayaan saya bahwa yang namanya kegembiraan itu menular ternyata benar. Riset Harvard University dan San Diego University yang diterbitin di British Medical Journal:

“The happiness effect that spreads through social networks can last for up to one year. Conversely, sadness does not spread through social networks as robustly as happiness.”

LA Times

Knowing someone who is happy makes you 15.3% more likely to be happy yourself, the study found. A happy friend of a friend increases your odds of happiness by 9.8%, and even your neighbor’s sister’s friend can give you a 5.6% boost.

“Your emotional state depends not just on actions and choices that you make, but also on actions and choices of other people, many of which you don’t even know,” said Dr. Nicholas A. Christakis, a physician and medical sociologist at Harvard who co-wrote the study.

They discovered that happy people in geographic proximity were most effective in spreading their good cheer. They also found the happiest people were at the center of large social networks.

Reuters

“Among other benefits, happiness has been shown to have an important effect on reduced mortality, pain reduction, and improved cardiac function. So better understanding of how happiness spreads can help us learn how to promote a healthier society,” he said.

The study also fits in with other data that suggested — in 1984 — that having $5,000 extra increased a person’s chances of becoming happier by about 2 percent.

“A happy friend is worth about $20,000,” Christakis said.

Daily Mail

Having happy neighbours sends an individual’s happiness levels soaring by 34 per cent.

Living close by to happy people counts, with a person 42 per cent more likely to be happy if a friend who lives half a mile away becomes happy but the effect falls to 22 per cent for two or more miles and drops away entirely at greater distances.

———————————————————————————————————-————-——–————-

DISCLAIMER: Perusahaan minuman yang akan Anda baca di bawah ini adalah salah satu klien saya. Tetapi saya tidak diminta untuk menulis mengenai mereka di blog saya, dan tidak memiliki kewajiban untuk itu. Saya menulis mengenai hal ini karena saya merasa ada sesuatu yang bisa saya bagikan di sini.

———————————————————————————————————-————-——–————-

Waktu tim Expedition 206 bertandang ke Jakarta, Indonesia, saya sempet ketemuan sama mereka. Antonio (Mexico), Kelly (Belgia) dan Tony (Jerman) adalah tiga orang yang terpilih menjadi Ambassador of Happiness-nya salah satu perusahaan minuman multi-nasional; untuk sebuah program kampanye global yang bertujuan untuk nyebarin kegembiraan (kenapa saya nggak denger program ini, sih? kan bisa ikutan T_T).

Jadi, misi ketiga orang ini adalah untuk berkunjung ke 206 negara dalam waktu 365 hari saja, dan menemukan apa yang membuat orang-orang di negara-negara ini merasa gembira. Kedengerannya seru, ya! Paspor pasti langsung penuh :D

Tapi saya juga tau mereka capek banget, karena harus terus pindah-pindah dari satu negara ke negara lain tanpa sempat istirahat yang cukup. Kadang-kadang paginya sampai, malamnya sudah harus terbang ke negara lain lagi. Dan selama perjalanan, mereka juga harus bikin reportase perjalanan, nge-tweet, nulis blog, bikin video, dan masih banyak lagi.

Everyday is Monday for us,” kata Kelly, waktu kita semobil malam-malam, mau nonton IronMan 2. “Dan kita selalu berdoa dapet long flights biar bisa tidur di pesawat. Tapi gue nggak bisa komplain, walau capek tapi pengalaman ini nyenengin banget!”

Malam itu Kelly memang rewel minta ditemani kami–cewek-cewek untuk nonton dan hang out, padahal itu sudah jam 10 malam. Dia bilang dia kangen jalan bareng cewek-cewek, berhubung selama 365 hari dia cuma bergaul sama Antonio dan Tony. “I miss hanging out with girls,” katanya merajuk. “Please, please, I’m only here for one night. One night! Masa gak mau nemenin siiih…” :D Kasihan :D

Tapi yang paling menyentuh saya adalah waktu siangnya; dalam konferensi pers dengan tim Expedition 206, ada wartawan yang nanya: “Kalo kalian berkunjung ke negara miskin atau negara yang lagi ada konflik gitu, gimana orang-orang di sana nemuin kegembiraan?”

Seingat saya waktu itu Kelly yang jawab: “Justru di negara-negara miskin itulah kita nemuin arti kegembiraan yang sesungguhnya. Misalnya pas di Ethiopia, mereka itu negara miskin. Jadinya mereka nggak bisa nyari kegembiraan dari hal-hal di luar diri mereka. Akhirnya, ya, mereka hanya bisa gembira dari apa yang mereka punya di dalam diri mereka. Kegembiraan yang asalnya dari dalam… dan itu bikin kita belajar dan bersyukur.”

Sumpah, saya merinding dengernya. Di belahan dunia lain, orang bisa bangun tidur dan menemukan dirinya masih hidup aja udah jadi sumber kegembiraan tersendiri. Di belahan dunia lain ada orang yang udah bisa makan enak, belanja, jalan-jalan, tapi masih aja rajin mengeluhkan ini-itu.

Padahal kegembiraan itu menular.

Kegembiraan itu bisa didapat dengan sekadar melihat wajah orang senyum, ketawa… seperti kumpulan wajah-wajah yang di Website of Happy Faces-nya Expedition 206 chapter Jakarta. Wajah-wajah yang sudah ikut nyumbangin 200 buku anak-anak buat Taman Bacaan Pelangi di Flores. Kegembiraan yang menyebar dari dunia maya, Jakarta, terus ke Flores sana.

Saya terkesan banget dengan definisi ‘happiness‘ yang ditulis sama Tony:

Happiness is: My mom likes the sound of leaves crunching on her feet so she steps on them and acorns in the fall time. I step on them now too when she’s not around because it always makes me smile to think of how happy she hears the sound.

Buat saya, yang paling berbekas dari pertemuan sama Antonio, Kelly, dan Tony adalah kenyataan bahwa kegembiraan itu bisa didapat di mana-mana, dalam kondisi seperti apapun juga. Jadi, saya akan keluar menyambut matahari pagi, bersyukur akan hangatnya, dan tersenyum pada dunia :)

*) Di bawah ini adalah video ketika saya dan kawan-kawan bersama tim Expedition 206 masuk ke sebuah distro di kawasan Tebet. Mendadak, lagu The Waving Flag-nya World Cup diputar, dan kami pun menari-nari di sana :D


Mengenai Citra Diri: Pensil Durjana

Baiklah. Posting ini akan menyerupai kolom psikologi di majalah-majalah wanita. Tetapi, yakinlah, ini kejadian nyata. Senyata-nyatanya.

Suatu siang, Pak Zaenal datang ke ruangan New Media di kantor saya, membawa-bawa sebatang pensil.

Pak Zaenal: Jonathan, ini pensil kamu…
Jonathan: Itu bukan pensilku.
Nena: Pak Zae, itu pensilku!

Pak Zae: Lho, ini punya Jonathan, tadi kan Jonathan yang bawa pas mau nulis pesanan Quickly.
Nena: Itu pensilkuuu!
Jonathan: Oh, kayaknya itu punya Kapkap…

Pak Zae: Kapkap, ini pensilnya Kapkap, ya?
Nena: Itu pensilku, Pak Zae!!!
Kapkap: He–(melepas earphone), bukan kayaknya itu pensilnya Hanny.
Nena: Iih, itu pensilkuuu…

Pak Zae: Hanny, ini pensil kamu, ya?
Nena: Itu pensilku!!!!!!!!!!!!!!
Saya: Oh, bukan, itu pensilnya Nena.
Pak Zae: Oh, punya Nena (memberikan pensil)

Nena: KENAPA SIH NGGAK ADA YANG PERCAYA SAMA AKU?!!!

Apa yang bisa kamu katakan tentang Nena dari kisah di atas? :D


10 Alasan SPG Jutek

1. SPG itu baru masuk, hari pertama, seniornya galak, nggak mau ngajarin dan nggak mau ngasih tau SPG baru ini harus berbuat apa

2. SPG ini tantenya meninggal dunia tetapi tidak diperbolehkan ijin melayat oleh manajemen

3. SPG ini kesal karena teman-teman sekerjanya menyebalkan

4. SPG ini sedang demam dan meriang, keringat dingin mengucur, tapi tidak diperbolehkan pulang oleh manajemen, katanya “Sudah, kamu tahan saja!”

5. SPG ini cemberut terus karena sudah tidak betah di tempat kerjanya yang sekarang ini

6. SPG itu capek menghadapi SPG yang lebih senior, karena SPG senior ini “mulutnya seperti silet”

7. SPG ini sedang khawatir karena banyak kawan-kawannya yang berhenti kerja

8. SPG ini sudah tidak niat bekerja dan sudah berencana hendak mengundurkan diri saja

9. SPG ini tidak peduli lagi apabila dia hendak dipecat, karena ia memang sudah melamar-lamar lagi ke perusahaan lain

10. SPG itu, pada hari kamu bertemu dengannya, sudah menyerahkan surat pengunduran diri kepada manajemen dan hari itu adalah hari terakhirnya menjalani pekerjaan yang tidak disukainya, sehingga ia bisa jutek untuk yang terakhir kali

*) sumber: curhat seorang SPG yang duduk di sebelah saya di dalam bis tadi pagi, kepada kawannya via telepon. berhubung tidak membawa iPod, percakapan ini mau tidak mau terdengar, membuat saya batal tidur lelap di pagi hari.


Hijau-Hijau Horta

Kalau lagi jalan-jalan ke Puncak, saya paling suka main ke Melrimba Garden. Yang saya incar bukan makanannya, sih, walaupun di sini memang ada restoran dengan view yang cantik;

di mana kita bisa minum teh poci hangat dengan gula batu dan makan poffertjess atau pisang kipas goreng dengan saus karamel, dikelilingi wangi pinus dan udara yang dingin-dingin sejuk :D

Tapi, yang paling menyenangkan buat saya adalah jalan-jalan di kebun bunganya! Saya suka sekali melihat bunga-bunga dan tanaman cantik! Apalagi kebun bunga di Melrimba ini dilatari pinus-pinus tinggi, pegunungan, dan kabut yang menyelimuti perkebunan teh di sekitarnya.

Mata rasanya ‘adem’ bisa memandangi hijau-hijau meraya, setelah biasanya hanya memandangi layar komputer seharian :D

Lalu ada juga kaktus-kaktus centil ini, yang sempat membuat saya terkikik-kikik geli (karena teringat @kapkap yang beberapa hari lalu sempat berkata bahwa dia pingin memelihara kaktus di kantor) dan merasa tengah berada di Cactusville…

Lalu, di Melrimba Garden ini jugalah akhirnya saya menemukan Horta! Apa itu Horta?

Horta adalah boneka yang dibentuk dari bungkusan berisi serbuk gergaji dan bibit rumput. Nama Horta berasal dari kata ‘horticulture’ atau ‘hortikultura’. Cukup sirami Horta dengan air dan berikan sinar matahari yang cukup, maka rumput akan tumbuh di tubuh Horta. Bangganya, yang menemukan boneka Horta ini orang Indonesia, lho! Tepatnya 7 orang mahasiswa Institut Pertanian Bogor, di bawah bimbingan dosen mereka Dr.Ir. Ni Made Armini Wiendy, MS.

Sebenarnya sih, awalnya boneka Horta ini dibuat untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap lingkungan dan memperkenalkan mereka pada pemeliharaan tumbuhan. Anak-anak akan menyukai Horta karena boneka ini tersedia dalam bentuk-bentuk binatang yang lucu dan mudah perawatannya.

Nah, belakangan ini kawan-kawan kantor saya (walau di sini tidak ada anak kecil—eh atau justru banyak anak kecil :D hihihi) sedang tergila-gila Horta.

Mereka mulai menggelar Horta Party (doh); dan boneka-boneka rumput ini semakin bertambah jumlahnya, sementara saya masih belum juga memiliki Horta. Akhirnya, di Melrimba Garden saya menemukan Horta kucing, yang kemudian saya beri nama Monalisa :D

Tumbuhlah besar dan hijau meraya, Monalisa! :D



PS: eh, eh, Hijau-Hijau Horta kalau disingkat jadi HHH dibacanya “hahaha” :D #randomonmonday


HongKong in February #5

I just love Kowloon!

Ini adalah bagian dari HongKong yang selalu kubayangkan dalam angan-anganku: lampu-lampu yang berwarna-warni di atas restoran-restoran yang berasap, bangunan yang rapat, orang-orang yang memenuhi jalanan dan menyeberang beramai-ramai.

Kota ini hidup, berdenyut, berkelip, dan pemandangan itu membuatku sedikit merasa hangat di atas bis. Pemandangan pasangan manula Kaukasia di depanku yang saling berangkulan juga menghangatkan; sekaligus membuatku iri :)

Tsim Sha Tsui juga nampak cantik sore itu.

Mengitari Kowloon di tengah suhu udara yang terus menukik tajam; ladies market yang luar biasa padat, jalan-jalan yang dipenuhi lampu-lampu kafe, bar, dan harum dim sum, yang terlintas dalam benakku hanyalah kenyamanan di dalam kamar hotelku ditambah segelas cokelat panas!

Turun dari bis di Avenue of Stars, aku kembali menentang dingin menyusuri jalan yang penuh dengan pemusik jalanan menuju pelabuhan. Sampai sebuah aroma yang membuatku meneteskan air liur menghentikan langkahku di depan sebuah ‘warung’ kecil berbentuk lucu dengan antrian luar biasa panjang:

cumi bakar!

Sambil mencuil cumi bakar, aku setengah berlari menuju pelabuhan; berhenti sebentar di sebuah kios kecil untuk membeli koran (kamu selalu membeli koran ketika kita bepergian ke luar).

Koran HongKong (dan siaran televisi HongKong) baru-baru ini dipenuhi berita mengenai hendak ditebangnya sebuah pohon pinus berusia 71 tahun di dekat sekolah Maryknoll–didasari kekhawatiran bahwa pohon tua itu dapat tumbang dan mencelakai murid-murid atau orang yang lewat. Namun alumni Maryknoll dan para siswa habis-habisan menentang rencana ditebangnya Ghost Pine mereka ini. Personally, I think this news is cute and touching.

Terombang-ambing dingin di atas air ketika senja mulai turun dan langit gelap menebar di atas HongKong, aku memandang keluar dari feri dan berpikir bahwa semua ini akan menjadi ratusan kali lebih indah jika kamu ada di sini.

Karena keindahan itu akan memberikan makna ketika kamu memiliki seseorang untuk membaginya.


HongKong in February #4

Meninggalkan The Peak di siang hari yang masih kelabu dan berkabut, aku kembali pada udara dingin dan angin yang bertiup semakin kencang di Central Pier. Star Ferry Terminus–menyeberang menuju Kowloon untuk menjelajahi Tsim Sha Tsui.

Kurapatkan overcoat-ku, tapi dingin itu masih enggan pergi. I want you here.

Merapat di pelabuhan; aku melompat turun dan menyusuri Avenue of Stars (dan aku hanya mengenal Jackie Chan dan Andy Lau di antara barisan nama-nama itu).

Aku lebih tertarik pada pemandangan kota HongKong yang menakjubkan dari sini. Aku ingin berdiri di sana, merapat pada pagar pembatas itu, bersamamu–menentang dingin yang semakin menusuk dan membuat telingaku nyaris kebas.

Dan tahukah kamu? Yang paling kuinginkan saat ini adalah berbagi pemandangan ini denganmu. Dan pemandangan lainnya yang masih berupa ‘akan’. Sebagaimana sore itu, di sebuah kota, aku memotret senja yang cantik dari jendela kamar hotelku dan membaginya denganmu.

Karena semua keindahan selalu mengingatkanku akan kamu.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,772 other followers