HongKong in February #3

Ada pagi yang dingin dan detak langkah kakiku di atas aspal, menyusuri Central Pier yang masih sepi dan tersaput kabut. Segelas caramel machiato terpaksa menjadi substitusi jemarimu untuk menghangatkan telapak tanganku.

Tentu, rasanya tidak sama. Kamu tidak akan pernah bisa terganti oleh segelas kopi. Karena jemarimu bukan hanya melingkupi jemariku, tetapi juga hatiku, dan semua kenangan tentang perjalanan kita: yang telah lalu, dan yang akan datang.

Jadi terkutuklah aku, yang berjalan pelan-pelan dengan gigi gemeletuk kedinginan, menatap punggung pasangan-pasangan yang saling berangkulan dan berciuman diam-diam seraya menaiki trem menuju The Peak, mendengarkan lagu-lagumu yang berputar dari iPod-ku.

Nada-nada itu malah semakin membuatku kangen kamu.

Turun dari trem menuju The Peak, dan terdampar di Museum Lilin Madame Tussaud juga tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Aku merasa jadi satu-satunya orang yang datang ke situ sendirian. Jadi aku mendahului rombongan orang-orang dan berlari ke level lainnya yang masih cenderung sepi. Satu-satunya penghiburanku adalah mengetahui bahwa aku harus memotret semua ini untuk kuperlihatkan padamu ketika kita bertemu nanti.

Lalu kabut turun siang itu. Di The Pearl on The Peak. Semuanya putih. Aku setengah berharap di dalam kabut itu, kamu akan mengejutkanku, memelukku dari belakang, lalu aku akan memekik, memelukmu erat, dan berlari bersamamu menuju pagar pembatas dan berteriak pada dunia yang terbentang luas di bawah kita.

Tetapi ketika kuulurkan tanganku, jemariku hanya menepis selapis udara tipis.

Leave your traces here. I want to hear :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.