The Lemongrass Journey (6): Hanoi

Hanoi di malam hari begitu menyenangkan. Trotoar sepanjang Old Quarter yang penuh dengan muda-mudi yang modis, lampu-lampu yang berkelap-kelip dan berpendar-pendar, bangunan-bangunan bergaya kolonial, suara musik dan percakapan orang-orang…

semuanya membuat kota ini begitu hidup dan hangat; mengingatkan kita pada kota Bandung.

Dari penginapan kita di Especen, kita berjalan kaki beberapa menit saja menuju Old Quarter yang ramai dan bermandikan cahaya lampu.

Dari St. Joseph Cathedral, kita memutari taman di seputar Hoan Kiem Lake menuju Thang Long Water Puppet Theater.

Water Puppet sendiri merupakan kesenian tradisional Vietnam; seperti wayang golek, sebenarnya, yang dimainkan di atas air. ‘Wayang’ digerakkan dengan bambu-bambu panjang dari dalam air–sehingga para pemain Water Puppet ini juga memainkan ‘wayang’ mereka dari dalam air, terendam hingga setengah badan.

Keluar dari pertunjukan Water Puppet ini, kita pun mengikuti indera penciuman kita dan perut yang mulai keroncongan, kemudian mendamparkan diri di semacam angkringan yang rupanya cukup mudah ditemukan di sepanjang trotoar di Old Quarter Hanoi. Alih-alih lesehan di atas tikar, kita duduk di bangku-bangku plastik pendek yang dipasangkan dengan meja-meja mungil.

Menu bakar-bakaran tersedia di atas sebuah meja, dan kita bebas memilih lauk-pauk apa yang hendak dibakar: mulai dari sosis, seafood, daging, enoki, hingga salmon…

Semuanya disajikan panas-panas dengan baguette yang dibakar dengan madu dan sambal yang sangat pedas dan sedikit manis.

Malam itu berlanjut dengan penelusuran kota Hanoi di malam hari. Kita menyusuri Hoan Kiem Lake dan taman yang mengelilinginya di bawah cahaya rembulan.

Taman ini begitu menyenangkan, dengan jalan setapak yang lapang, pohon-pohon yang rindang, bangku-bangku taman yang nyaman dan digunakan muda-mudi Hanoi untuk berpacaran — sementara para manula berolahraga ringan di sekitar mereka.

Seperti layaknya tempat-tempat lain di mana muda-mudi berpacaran, di taman sekitaran Hoan Kiem Lake terdapat sebuah gerbang kecil yang cantik — dan ketika kita lewat di bawahnya, kita bisa melihat nama-nama pasangan muda-mudi dan ikrar cinta mereka tertulis dengan pena atau tip-ex di bagian dalam dinding-dindingnya.

Hanoi has the best morning.

Pagi itu kita terbangun pada sinar matahari yang hangat, kemudian kembali menyusuri Old Quarter dan memandangi St. Joseph Cathedral yang baru nampak keagungannya di bawah cahaya pagi.

Dari sana, kita berjalan kaki menuju Highlands Coffee (tidak terlihat Starbucks di Vietnam; yang bertebaran di kota adalah gerai kopi Gloria Jean’s dan Highlands Coffee) dan memesan kopi dalam gelas-gelas karton,

untuk dinikmati dari bangku taman di pinggir Hoan Kiem Lake,

seraya bertanya-tanya mengapa waktu begitu cepat berlalu. Kita masih menginginkan lebih banyak waktu hanya untuk duduk diam di sini. Tetapi segala sesuatu yang indah memang selalu terasa lebih cepat usai, and Hanoi has the best morning, afterall.

Leave your traces here. I want to hear :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.