The Lemongrass Journey (5): Lan Ha Bay

Terbangun menjelang pukul setengah enam pagi, kita beranjak ke beranda untuk memandangi kabut dan perbukitan di sekitar Cat Ba Town.

Suara sayup-sayup lagu kebangsaan Vietnam dari pengeras suara; suhu udara yang berkisar antara 17-18 derajat Celcius; langit yang ungu-kelabu; angin lembap dan rinai gerimis yang menyapu wajah kita… semuanya berbaur dengan kehangatan secangkir kopi dan teh yang dinikmati berdua saja.

Setelah menikmati sarapan ala Western di hotel, kita keluar terbungkus pakaian hangat dan scarf; berjalan kaki beberapa langkah menuju kantor penyedia tur kecil di dekat situ. Sebuah bis sudah menanti; yang akan membawa kita ke pelabuhan untuk menelusuri keindahan Lan Ha Bay di pagi hari — yang ditetapkan sebagai World Heritage-nya UNESCO di tahun 1994.

Perahu Cina yang kita sewa telah menunggu di sana. Melewati pasir yang basah dan menghiraukan rinai gerimis, kita naik ke atas kapal. Awak kapal kemudian menaikkan matras ke dek atas yang terbuka, sehingga kita bisa duduk-duduk di sana memandangi keindahan gugusan batuan kapur di sekeliling kita. Hanya ada suara pagi: sepi, kapal motor di kejauhan, riak air, dan kita.

Pemandangan batu-batu kapur, kabut yang dingin,  pantai tersembunyi di antara dua batu kapur yang tinggi, langit yang tidak berbatas, gerimis yang datang dan pergi sesuka hati, keberadaan kamu dan lagu-lagu di dalam iPod yang kita kumpulkan selama beberapa hari sebelumnya; jauh sebelum ini…

semuanya menandai perjalanan yang hening dan mengagumkan.

Menjelang pukul sepuluh, kita mendarat di Monkey Island — yang juga merupakan bagian dari Taman Nasional Cat Ba.

Pasir putih dan air yang tenang serta bening; koral-koral yang indah, dan monyet-monyet jinak yang duduk-duduk di atas pasir membuat kita betah diam saja di sana dan memandangi.

Menjelang pukul sebelas siang, kita melambai pada kapal sewaan kita yang tertambat tak jauh dari situ, memberi isyarat bahwa sudah saatnya kita kembali ke Cat Ba Town.

Duoy–dan mobil sewaan kita sudah menunggu. Perjalanan selama sekitar 5 jam menuju Hanoi akan ditempuh dengan ransum berupa kacang wasabi, keripik ubi, dan aneka cemilan, serta minuman ringan macam WinterMelon. Penyeberangan kita dengan feri terasa lebih menyenangkan, karena di siang hari kita menaiki feri besar dengan dek bertingkat.

Kita tak lagi perlu bersesakan dengan sepeda-sepeda motor, dan dapat naik ke dek teratas yang lapang, menikmati panasnya matahari dan angin dingin yang masih bertiup dari Cat Ba Town.

Sambil menunggu feri berikutnya di Hai Phong, kita duduk-duduk di tepi pelabuhan, memandangi perempuan-perempuan Vietnam mencari kerang-kerangan di lumpur,

seraya memandangi perahu-perahu dan menyodorkan Lonely Planet kita pada Duoy — yang dengan senang hati memberitahukan kita cara pengucapan kata-kata tertentu dalam bahasa Vietnam.

Dari pelabuhan, perjalanan menuju Hanoi yang panjang dimulai. Teriknya matahari membuat kita tertidur di jok belakang; namun kita tak melewatkan senja di Hanoi sore itu. Melewati lalu-lintas yang padat, jembatan-jembatan, serta billboard yang berpendar dalam cahaya matahari.

Sebentar lagi perjalanan ini usai. Tetapi kita masih memiliki sebuah malam dan sebuah pagi di Hanoi. Jadi, mari kita simpan sebanyaknya kenangan di kota yang dikenal romantis ini.

Leave your traces here. I want to hear :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.