HongKong in February #3

Ada pagi yang dingin dan detak langkah kakiku di atas aspal, menyusuri Central Pier yang masih sepi dan tersaput kabut. Segelas caramel machiato terpaksa menjadi substitusi jemarimu untuk menghangatkan telapak tanganku.

Tentu, rasanya tidak sama. Kamu tidak akan pernah bisa terganti oleh segelas kopi. Karena jemarimu bukan hanya melingkupi jemariku, tetapi juga hatiku, dan semua kenangan tentang perjalanan kita: yang telah lalu, dan yang akan datang.

Jadi terkutuklah aku, yang berjalan pelan-pelan dengan gigi gemeletuk kedinginan, menatap punggung pasangan-pasangan yang saling berangkulan dan berciuman diam-diam seraya menaiki trem menuju The Peak, mendengarkan lagu-lagumu yang berputar dari iPod-ku.

Nada-nada itu malah semakin membuatku kangen kamu.

Turun dari trem menuju The Peak, dan terdampar di Museum Lilin Madame Tussaud juga tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Aku merasa jadi satu-satunya orang yang datang ke situ sendirian. Jadi aku mendahului rombongan orang-orang dan berlari ke level lainnya yang masih cenderung sepi. Satu-satunya penghiburanku adalah mengetahui bahwa aku harus memotret semua ini untuk kuperlihatkan padamu ketika kita bertemu nanti.

Lalu kabut turun siang itu. Di The Pearl on The Peak. Semuanya putih. Aku setengah berharap di dalam kabut itu, kamu akan mengejutkanku, memelukku dari belakang, lalu aku akan memekik, memelukmu erat, dan berlari bersamamu menuju pagar pembatas dan berteriak pada dunia yang terbentang luas di bawah kita.

Tetapi ketika kuulurkan tanganku, jemariku hanya menepis selapis udara tipis.

HongKong in February #2

Merah itu menghangatkan.

Menceriakan pukul delapan pagi di HongKong yang masih berkabut dan bersabut ungu-kelabu. Mengusir dingin pada suhu udara yang nampaknya jatuh ke titik lebih rendah selagi aku melewati Victoria Park menuju The Excelsior Hotel di Causeway Bay.

Membuat kamu terasa dekat.

Selepas makan siang, aku akan menyeberang beberapa langkah melewati pintu belakang hotel dan mendamparkan diri di Starbucks.

Makes me feel at home. Secangkir kopi, peta HongKong di atas meja, dan wi-fi gratisan untuk meraihmu. Dunia kecil yang termampatkan dalam layar telepon genggam berukuran 2.4 inci.

I wanna fall from the stars / straight into your arms / I, I feel you / I hope you comprehend / – Simply Red

Malam harinya, menembus udara dingin dan sosok-sosok modis di trotoar, aku akan berlari-lari kecil menuju 7-11, mengisi ulang pulsa telepon genggamku, membeli mie instan dan susu kotak, cemilan, dan puding tofu yang kamu suka itu.

Lalu memilih jalan memutar memasuki gang-gang sempit yang dipadati penjual mie rebus, obat-obatan herbal Cina dari akar-akaran kering, serta dendeng babi dan cumi. Stand penjaja koran. Toko Ramayana.

Deretan restoran yang mengepulkan asap, dengan bebek-bebek tergantung di jendela; dan pasangan muda-mudi dengan mata-mata mereka yang tertawa dari balik mangkuk dan sumpit.

Lalu aku akan memilih untuk kembali pada kehangatan tempat tidurku di Empire. Bicara denganmu. Dan menghabiskan malam itu memimpikan kamu.

HongKong in February #1

Hong Kong (香港). Tanpa kamu.

Koper merahku nampak mencolok di atas MTR Airport Express yang nyaris kosong itu. Aku menempelkan hidung di jendela yang dingin, memandang ke luar dengan sedikit bosan, mengabaikan peta yang tergeletak di atas pangkuan. Sampai sebuah pemandangan yang agak kekanak-kanakan membuat mataku berbinar.

Rasanya aku ingin menjawilmu dan berteriak “Lihat! Lihat!” (dengan suara yang akan membuat telingamu pekak) ketika melewati MTR menuju Disneyland Hong Kong di Lantau dengan jendela-jendelanya yang berbentuk kepala Mickey Mouse.

Tapi nggak ada kamu di sampingku.

Bersama ratusan komuter yang tumpah-ruah dari pintu-pintu geser otomatis dan membanjiri Central Station di City, kusentuhkan kartu Octopus-ku di pintu detektor, kemudian melangkah pada 14oC.

Kurapatkan overcoatku dalam antrian di balik palang-palang besi. Tujuan berikutnya, Wing Hing Street di dekat Tin Hau station. Betapa keberadaan kamu di sini akan sedikit menghangatkan telapak tanganku.

(Dan hatiku).

Bánh mì @ Cali Deli

Vietnamese sandwich ini di Vietnam sana, namanya Bánh mì. Roti baguette yang diisi macam-macam sayuran segar dan daging membuat hidangan ini jadi ‘rame’ rasanya.

Di Ho Chi Minh City, ada banyak sekali penjaja Bánh mì berjajar di sepanjang jalan dengan gerobak, mengingatkan kita pada tukang gorengan di Jakarta sini. Harga Bánh mì asli di Vietnam sana hampir 1/3 lebih murah dari yang di Cali Deli ini. Tapi rasa Bánh mì BBQ chicken di Cali Deli ini dekat sekali dengan rasa Bánh mì yang asli Vietnam 🙂

Cali Deli Vietnam Sandwich & Coffee.
Jl. Surabaya No. 22. Jakarta Pusat.

It’s all about dessert!!!

Episode “Soulmates on A Plate” kali ini adalah hidangan pencuci mulut alias dessert! Semuanya serba cantik dan manis seperti saya 😀

Saya dan cewek-cewek sekantor memang sedang giat-giatnya ber-dessert hunt, alias berkelana ke restoran-restoran di sekitar Jakarta Selatan dan memesan dessert untuk dinikmati bersama-sama (baca: satu dessert untuk lima orang, atau empat dessert untuk delapan orang, tergantung kapasitas lambung).

Yang satu ini adalah skillet cookie sundae-nya Tony Roma’s. Disajikan dalam wajan hangat-hangat. Rasanya? Bayangkan kue yang chewy (tidak renyah) berpadu dengan lelehan cokelat hangat dan es krim vanila. Tempting! 🙂

Tony Roma’s Restaurant
Panin Bank Center, Ground Floor
Jl. Jend. Sudirman Kav 11. Sudirman
Jakarta Pusat 10270 – Indonesia

Yang satu ini sih sudah tidak asing lagi. Es krim! Berikan saya es krim dan saya sudah akan cukup bahagia menjalani sisa hari. Ini adalah Cold Stone, campuran antara rum raisin dan kopi.

Cold Stone
Plaza Senayan, Jalan Asia Afrika No. 8 – 3rd Floor
Jakarta

Dan yang di bawah ini, wah… ada empat dessert yang lezat-lezat dari Koi Restaurant. Ada Choco Tart, yang rasanya mirip-mirip chocolate melt dengan paduan es krim cokelat.

Lalu Mille Feuille dan Mille Red Fruit dengan rasa asam buah beri yang segar ditingkahi es krim vanila.

Dan yang terakhir (dan paling spektakuler) adalah Krakatau: sponge cake dengan es krim vanila di dalam, yang bagian luarnya disiram dengan rum.

KOI Gallery Restaurant
Jl. Mahakam I no. 2
Jakarta Selatan