HongKong in February #3

Ada pagi yang dingin dan detak langkah kakiku di atas aspal, menyusuri Central Pier yang masih sepi dan tersaput kabut. Segelas caramel machiato terpaksa menjadi substitusi jemarimu untuk menghangatkan telapak tanganku.

Tentu, rasanya tidak sama. Kamu tidak akan pernah bisa terganti oleh segelas kopi. Karena jemarimu bukan hanya melingkupi jemariku, tetapi juga hatiku, dan semua kenangan tentang perjalanan kita: yang telah lalu, dan yang akan datang.

Jadi terkutuklah aku, yang berjalan pelan-pelan dengan gigi gemeletuk kedinginan, menatap punggung pasangan-pasangan yang saling berangkulan dan berciuman diam-diam seraya menaiki trem menuju The Peak, mendengarkan lagu-lagumu yang berputar dari iPod-ku.

Nada-nada itu malah semakin membuatku kangen kamu.

Turun dari trem menuju The Peak, dan terdampar di Museum Lilin Madame Tussaud juga tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Aku merasa jadi satu-satunya orang yang datang ke situ sendirian. Jadi aku mendahului rombongan orang-orang dan berlari ke level lainnya yang masih cenderung sepi. Satu-satunya penghiburanku adalah mengetahui bahwa aku harus memotret semua ini untuk kuperlihatkan padamu ketika kita bertemu nanti.

Lalu kabut turun siang itu. Di The Pearl on The Peak. Semuanya putih. Aku setengah berharap di dalam kabut itu, kamu akan mengejutkanku, memelukku dari belakang, lalu aku akan memekik, memelukmu erat, dan berlari bersamamu menuju pagar pembatas dan berteriak pada dunia yang terbentang luas di bawah kita.

Tetapi ketika kuulurkan tanganku, jemariku hanya menepis selapis udara tipis.


HongKong in February #2

Merah itu menghangatkan.

Menceriakan pukul delapan pagi di HongKong yang masih berkabut dan bersabut ungu-kelabu. Mengusir dingin pada suhu udara yang nampaknya jatuh ke titik lebih rendah selagi aku melewati Victoria Park menuju The Excelsior Hotel di Causeway Bay.

Membuat kamu terasa dekat.

Selepas makan siang, aku akan menyeberang beberapa langkah melewati pintu belakang hotel dan mendamparkan diri di Starbucks.

Makes me feel at home. Secangkir kopi, peta HongKong di atas meja, dan wi-fi gratisan untuk meraihmu. Dunia kecil yang termampatkan dalam layar telepon genggam berukuran 2.4 inci.

I wanna fall from the stars / straight into your arms / I, I feel you / I hope you comprehend / – Simply Red

Malam harinya, menembus udara dingin dan sosok-sosok modis di trotoar, aku akan berlari-lari kecil menuju 7-11, mengisi ulang pulsa telepon genggamku, membeli mie instan dan susu kotak, cemilan, dan puding tofu yang kamu suka itu.

Lalu memilih jalan memutar memasuki gang-gang sempit yang dipadati penjual mie rebus, obat-obatan herbal Cina dari akar-akaran kering, serta dendeng babi dan cumi. Stand penjaja koran. Toko Ramayana.

Deretan restoran yang mengepulkan asap, dengan bebek-bebek tergantung di jendela; dan pasangan muda-mudi dengan mata-mata mereka yang tertawa dari balik mangkuk dan sumpit.

Lalu aku akan memilih untuk kembali pada kehangatan tempat tidurku di Empire. Bicara denganmu. Dan menghabiskan malam itu memimpikan kamu.


HongKong in February #1

Hong Kong (香港). Tanpa kamu.

Koper merahku nampak mencolok di atas MTR Airport Express yang nyaris kosong itu. Aku menempelkan hidung di jendela yang dingin, memandang ke luar dengan sedikit bosan, mengabaikan peta yang tergeletak di atas pangkuan. Sampai sebuah pemandangan yang agak kekanak-kanakan membuat mataku berbinar.

Rasanya aku ingin menjawilmu dan berteriak “Lihat! Lihat!” (dengan suara yang akan membuat telingamu pekak) ketika melewati MTR menuju Disneyland Hong Kong di Lantau dengan jendela-jendelanya yang berbentuk kepala Mickey Mouse.

Tapi nggak ada kamu di sampingku.

Bersama ratusan komuter yang tumpah-ruah dari pintu-pintu geser otomatis dan membanjiri Central Station di City, kusentuhkan kartu Octopus-ku di pintu detektor, kemudian melangkah pada 14oC.

Kurapatkan overcoatku dalam antrian di balik palang-palang besi. Tujuan berikutnya, Wing Hing Street di dekat Tin Hau station. Betapa keberadaan kamu di sini akan sedikit menghangatkan telapak tanganku.

(Dan hatiku).


Bánh mì @ Cali Deli

Vietnamese sandwich ini di Vietnam sana, namanya Bánh mì. Roti baguette yang diisi macam-macam sayuran segar dan daging membuat hidangan ini jadi ‘rame’ rasanya.

Di Ho Chi Minh City, ada banyak sekali penjaja Bánh mì berjajar di sepanjang jalan dengan gerobak, mengingatkan kita pada tukang gorengan di Jakarta sini. Harga Bánh mì asli di Vietnam sana hampir 1/3 lebih murah dari yang di Cali Deli ini. Tapi rasa Bánh mì BBQ chicken di Cali Deli ini dekat sekali dengan rasa Bánh mì yang asli Vietnam :)

Cali Deli Vietnam Sandwich & Coffee.
Jl. Surabaya No. 22. Jakarta Pusat.


It’s all about dessert!!!

Episode “Soulmates on A Plate” kali ini adalah hidangan pencuci mulut alias dessert! Semuanya serba cantik dan manis seperti saya :D

Saya dan cewek-cewek sekantor memang sedang giat-giatnya ber-dessert hunt, alias berkelana ke restoran-restoran di sekitar Jakarta Selatan dan memesan dessert untuk dinikmati bersama-sama (baca: satu dessert untuk lima orang, atau empat dessert untuk delapan orang, tergantung kapasitas lambung).

Yang satu ini adalah skillet cookie sundae-nya Tony Roma’s. Disajikan dalam wajan hangat-hangat. Rasanya? Bayangkan kue yang chewy (tidak renyah) berpadu dengan lelehan cokelat hangat dan es krim vanila. Tempting! :)

Tony Roma’s Restaurant
Panin Bank Center, Ground Floor
Jl. Jend. Sudirman Kav 11. Sudirman
Jakarta Pusat 10270 – Indonesia

Yang satu ini sih sudah tidak asing lagi. Es krim! Berikan saya es krim dan saya sudah akan cukup bahagia menjalani sisa hari. Ini adalah Cold Stone, campuran antara rum raisin dan kopi.

Cold Stone
Plaza Senayan, Jalan Asia Afrika No. 8 – 3rd Floor
Jakarta

Dan yang di bawah ini, wah… ada empat dessert yang lezat-lezat dari Koi Restaurant. Ada Choco Tart, yang rasanya mirip-mirip chocolate melt dengan paduan es krim cokelat.

Lalu Mille Feuille dan Mille Red Fruit dengan rasa asam buah beri yang segar ditingkahi es krim vanila.

Dan yang terakhir (dan paling spektakuler) adalah Krakatau: sponge cake dengan es krim vanila di dalam, yang bagian luarnya disiram dengan rum.

KOI Gallery Restaurant
Jl. Mahakam I no. 2
Jakarta Selatan


Hadiahi Aku Langit Malam!

The best gift someone could ever gave me is the clear view of the night sky–Hanny

Sedari dulu, saya memang tergila-gila pada langit malam. Memandangi bintang atau bahkan langit malam yang gelap berawan, bisa memberikan kepuasan tersendiri selama berjam-jam.

Beberapa hari yang lalu, ketika melewati jalan bebas hambatan, langit malam di sebelah kiri saya (hamparan rerumputan dan tanah lapang) dipenuhi bintang. Rasanya baru saat itulah saya melihat langit yang sepenuh itu dengan bintang; dengan titik-titik terang yang besar-besar… yang membuat saya tidak bisa berpaling dan menempelkan hidung di balik jendela taksi: hanya memandangi.

Tentunya, keindahan langit malam itu, one of the most beautiful view of the night sky I’ve ever seen in my life, saya bagikan lewat pesan singkat kepada seseorang–yang saya harap berada di sisi saya saat itu; untuk menyaksikan keindahan yang sama.

Mendekati kota hujan, bintang-bintang tersebut menghilang dan mengabur dari pandangan. Patut disesalkan, memang. Kota yang terang-benderang dengan lampu-lampu dari bangunan tinggi memang mengakibatkan polusi cahaya. Akibat cahaya yang berlebih, langit malam jadi nampak menyilaukan, sehingga benda-benda langit tidak bisa terlihat dengan jelas.

Dalam kunjungan ke observatorium Bosscha di Lembang pada April 2008 lalu, masalah polusi cahaya juga sudah menjadi hal yang memprihatinkan. Pasalnya, daerah penyangga di sekitar observatorium yang seharusnya ‘steril’ kini sudah dipenuhi pemukiman, vila, restoran serta kafe yang buka hingga larut malam dan melepaskan polusi cahaya dengan lampu-lampunya yang menyala terang.

Akibatnya, pemandangan langit malam dan benda langit yang ada tak dapat terlihat secara maksimal dari Bosscha. Sedihnya lagi, polusi cahaya bukan hanya mengganggu proses pengamatan benda-benda langit. Burung-burung pun terkena dampaknya. Mereka kesulitan ‘membaca’ bintang dan bulan pada saat bermigrasi, karena terhalang oleh silaunya cahaya sekitar; sehingga tidak dapat bermigrasi ke tempat yang tepat. Penyu laut juga takut dengan cahaya terang di sekitar pantai, sehingga ia enggan merapat dan bertelur di sana.

Walau alasan utama saya menginginkan pemandangan indah langit malam diawali alasan romantis semata (I just love the view!), ternyata langit malam dan polusi cahaya punya dampak yang lebih besar–jauh dari yang saya sadari sebelumnya. Saya pikir hanya saya yang terlalu peduli akan bintang-bintang :)

Jadi, jika suatu hari kota ini penuh dengan cahaya terang lampu-lampu yang menyorot tajam, hadiah terbaik yang bisa diberikan untuk saya adalah satu hal itu.

Langit malam.

Sebuah tanah lapang di perbukitan yang gelap dan belum tersentuh cahaya lampu-lampu berkekuatan raksasa. Lalu kita akan pandangi bintang-bintang dan merekamnya dalam kenangan. Sebuah kebebasan untuk mengagumi rangkaian titik cahaya di angkasa dan keistimewaan untuk berbahagia akan hal-hal yang sesungguhnya sangat sederhana.


Durian, Sumsum, Es Krim: Medan!

Medan memang gudangnya makanan enak!

Di Restoran Nelayan di lantai bawah Sun Plaza, misalnya, terdapat pancake durian yang lezat! Sebenarnya pancake durian ini seperti… durian yang luarnya dilapisi pancake, lalu dikukus, tapi disajikan dingin.

Rasanya? Rasa durian seratus persen, enak, lezat dan wangi.

Setelah menyantap pancake durian pada siang hari, di malam harinya ditemani Poetra dan kawan-kawan blogger Awak Medan, saya melahap sop sumsum Langsa (yang bukan berada di daerah Langsa).

Sumsum yang disajikan panas-panas dengan kuah yang gurih dan nasi putih memang memanjakan lidah! Jangan lupa minum es jeruk nipis untuk menghilangkan rasa gurih sumsum di mulut setelahnya. Nyam!

Nah, untuk hidangan penutup, silakan mencoba Java Ice yang merupakan paduan antara mocha dan rhum di Tip Top — restoran yang terkenal dengan es krimnya di Medan.


Jeans Make-Over

Hasil dari membosan pada long weekend kemarin adalah sebuah celana jeans baru. Setelah membongkar-bongkar lemari pakaian, saya menemukan celana jeans masa SMA yang masih muat dipakai, tetapi sudah belel dan kedodoran di bagian kakinya–sehingga tidak pas lagi jika dikenakan.

Karenanya, saya mengangkut gunting bahan dan kaleng peralatan menjahit ke lantai kamar, kemudian memulai rangkaian #jeansmakeover. Langkah pertama, tentunya dengan memotong celana jeans lama saya menjadi pendek.

Dilanjutkan dengan menarik benang-benang yang keluar dan berjuntaian di sepanjang bekas potongan sehingga menghasilkan efek ‘gembel’ yang lebih rapi (harus berhati-hati saat menarik juntaian benang-benang ini agar tidak berakhir dengan melukai atau menyayat jemari).

Setelah juntaian benang ‘dirapikan’ (tapi masih memberikan efek ‘gembel’), saatnya memberikan ‘hiasan’ pada celana pendek. Salah satunya dengan menempelkan liontin anjing dengan peniti. Kemudian menyobek-nyobek permukaan satunya dengan cutter; menggunakan bekas potongan celana jeans untuk memberi efek tambalan, dan menjahitkan kancing di atasnya sebagai pemanis.

Ketika dipadukan dengan kaos dan dikenakan, kira-kira seperti inilah hasil yang didapat:

Senangnya memakai sesuatu buatan sendiri, dan… eh, ini bisa dikategorikan green fashion nggak, ya? Kan termasuk mendaur ulang jeans yang lama sehingga tidak usah membeli baru, berarti: menghemat energi untuk produksi satu jeans baru di pabrik :) *panggil aktivis green fashion @fairyteeth* ;)


Bermimpi Soal Pesta Blogger

Pesta Blogger, ya…

Hmm, acara yang satu itu memang akan selalu punya kenangan spesial buat saya. Bukan hanya karena acara itu menjadi awal pertemuan saya dengan kekasih (cih, curcol!), tapi karena memang selama tiga tahun terakhir saya ikut membantu para Chairman mengurusi hal-hal di balik layar Pesta Blogger itu sendiri (misalnya menyeterika kemeja Chairman):

Selain itu, perusahaan tempat saya bekerja juga membantu mengorganisasi acara ini.

Tidak bisa dipungkiri, saya memang merasa dekat dengan ajang itu. Dan gara-gara percakapan seputar Pesta Blogger di Twitter hari ini, saya hanya ingin numpang bermimpi. Mimpi tentang Pesta Blogger, yang juga sudah sempat saya bagi sedikit dengan @anakcerdas :)

Sebetulnya, ide awal Pesta Blogger sendiri adalah untuk menjadi semacam ajang tahunan bagi para blogger di Indonesia untuk bertemu muka secara langsung, bertukar informasi, membangun diskusi, serta memperluas jaringan.

Dalam perjalanannya, saya tahu bahwa memang tidak mudah mengakomodasi keinginan begitu banyak orang dengan ketertarikan yang beragam. Dan untuk ini saya salut pada para Chairman dan anggota Panitia yang selalu berusaha memuaskan kawan-kawan blogger dan berusaha mengakomodasi permintaan mereka dalam batas-batas yang dimungkinkan.

Kenyataannya, para blogger memang nggak bisa diseragamkan.

Ada yang datang ke Pesta Blogger hanya untuk bertemu kawan-kawan terutama yang datang dari daerah lain (semacam silaturahmi massal setahun sekali) kemudian berfoto-foto dan ngobrol-ngobrol santai. Ada juga yang datang dengan keinginan untuk belajar lebih banyak tentang isu-isu yang ada kaitannya dengan blog atau kebebasan berekspresi. Sebagian lagi ingin membuat semacam diskusi sehingga ada sesuatu yang bisa ‘dihasilkan’ dari Pesta Blogger.

Semua ini tidak ada yang salah. Tidak ada juga yang lebih penting dari yang lain–setidaknya menurut saya. Semua orang punya skala prioritas masing-masing.

Jika Pesta Blogger memang merupakan wadah bagi para blogger, mereka bebas memilih apakah hanya ingin ngobrol santai dengan kawan-kawan blogger sambil menikmati hiburan dan makan-makan, atau hendak membahas isu-isu serius untuk kemajuan dunia blog di Indonesia.

Sah-sah saja. Toh semua kepentingan ini masih bisa diwadahi oleh keinginan Pesta Blogger itu sendiri: menjadi semacam ajang tahunan bagi para blogger di Indonesia untuk bertemu muka secara langsung, bertukar informasi, membangun diskusi, serta memperluas jaringan.

Dalam perkembangannya, dunia Internet semakin meluas. Bukan cuma blogger yang menulis di Internet dengan menggunakan Blogspot, WordPress, Tumblr, atau Posterous, kita juga memiliki Facebook (di mana penggunanya masih bisa ‘nge-blog’ di Facebook Notes), ada juga Twitter dan Plurk (yang menjadi micro-blogging tools), juga kelompok-kelompok lain seperti Koprol, Kaskus, atau 4Square. Ditambah lagi wadah-wadah user-generated content seperti Politikana, Ngerumpi, Curipandang, dan lain sebagainya.

Saya setuju dengan Iman Brotoseno, Chairman Pesta Blogger 2009. Pesta Blogger tidak lebih dari sebuah ‘merk’. Dalam impian saya, Pesta Blogger merupakan sebuah wadah yang cair. Dia bisa bertahan sebagai sebuah ‘merk’, tidak berarti dia harus dan hanya diperuntukkan bagi para blogger.

Sebagai blogger, dan pengguna layanan new media lainnya, impian saya adalah menjadikan Pesta Blogger (atau apapun sebutannya nanti) sebagai semacam festival tahunan bagi para onliners–di manapun mereka berkiprah.

Terus terang, saya suka dengan konsep campuran Sundaze dan JavaJazz untuk diterapkan di Pesta Blogger. Kita bisa punya “stand-stand” yang disponsori brand-brand tertentu.

Misalnya, stand atau area “FASHION” di Pesta Blogger akan disponsori salah satu brand perawatan wajah. Di sana akan jadi tempat berkumpulnya para fashion blogger dan kawan-kawan Fashionese Daily. Mereka bisa membuat red carpet untuk fashion show kecil-kecilan, membuat semacam photowall yang fashionable, memberikan tips make-up dan perawatan rambut, membuka stand jualan baju lesehan dan meletakkan dagangannya di dalam koper-koper yang mereka bawa sendiri, atau membuat award dadakan untuk “Best-dress” atau “Best-costume” di Pesta Blogger. CottonInk bisa membuat lomba sebanyak-banyaknya bergaya unik dengan CottonInk on the spot.

Mengapa fashion?

Mengapa tidak? Bukankah blogger-blogger fashion macam Diana Rikasari atau Michelle Koesnadi menduduki top ranking di Indonesia Matters? Dan seru, kan, punya jiwa-jiwa wirausaha yang kreatif di bidang fashion?

Dan nggak cuma fashion, mereka yang suka IT juga bisa membuka area sendiri. Dibantu kawan-kawan Fresh!, misalnya, kelompok ini bisa mengatur siapa yang akan berbicara di sana, jam berapa, ada acara apa saja, hendak memamerkan gadget-gadget terbaru apa, dan lain sebagainya. Yang suka musik, bisa ngumpul sendiri juga dan bikin area hiburan yang diisi dengan nyanyian dan pertunjukan dari suara-suara emas macam Sita dan Elia Bintang. Bukan tidak mungkin @RollingStoneINA memberikan dukungannya. Toh mereka juga sangat aktif di ranah daring. Mereka yang tertarik dengan kuliner dan sering berbagi resep mau jualan makanan dan minuman? Yuk! :)

Kaskusers bisa punya area sendiri–yang di host oleh para ‘Juragan’. Teman-teman Twitter bisa punya area sendiri juga, di mana mereka bisa tweet-up dengan Twitter user dari daerah lain; kompak memakai kaos Twitter–dan kemudian merancang sebuah aksi live-tweeting dari arena Pesta Blogger untuk memperkenalkan aksi-aksi positif yang pernah digalang kawan-kawan Twitter di Indonesia kepada dunia, misalnya.

Yang mau diskusi? Bukannya tidak mungkin kita alokasikan satu ruangan sendiri untuk dijadwalkan diskusi-diskusi yang lebih serius; misalnya mengenai ranah Internet dengan Pak Menteri @tifsembiring. Atau mengenai isu-isu sexual harassment di Internet dan pemberdayaan perempuan bersama Mbak @sofiakartika. Tentang bagaimana anak muda bisa membuat perubahan lewat proses pembelajaran kreatif di kafe-kafe dengan @nicowijaya. Tentang bagaimana brand/perusahaan bisa menggunakan Twitter untuk memancing diskusi dan mengatasi keluhan secara positif bersama @blitzmegaplex. Tentang menggagas social movement lewat milis dan blog seperti Blood for Life. Tentang menerbitkan buku bersama Mbok Venus dan Silly.

The possibility is there. The chance is endless.

Yang menjadikan ranah daring menarik adalah karena dia ‘niche’. Saya tidak dipaksa membaca hal-hal yang tidak penting (atau kurang penting–atau kurang menarik) bagi saya. Saya bisa memilih informasi yang saya suka dan relevan dengan kebutuhan saya.

Impian saya, Pesta Blogger juga ke depannya akan menjadi seperti itu. Setiap orang punya buku panduan kecil seperti yang didapatkan di Java Jazz. Bebas mau memilih berkunjung ke mana dan melihat atau mengikuti diskusi mengenai apa. Mungkin sudah bukan tempatnya lagi kita dikumpulkan dalam satu ruangan besar untuk mendengarkan diskusi mengenai satu topik beramai-ramai.

Sebagaimana ajang Java Jazz yang punya begitu banyak panggung, kita bebas mau menonton jazz yang ‘serius’ seperti Bob James, yang romantis seperti Jane Monheit, atau ikut berdesakan nonton RAN. Kita bisa kok tetap menggunakan ajang Pesta Blogger untuk memuaskan ketertarikan kita akan hal-hal dan topik-topik tertentu, tanpa melupakan bahwa kita semua ini punya suara dan andil yang besar kalau mau menyuarakan aksi bersama-sama.

Bersama-sama, lihat saja apa yang bisa kita lakukan untuk Prita, untuk berkata ‘tidak’ atau ‘pikir-pikir lagi’ terhadap RPM Konten, untuk #IndonesiaUnite… meski berbeda-beda, untuk tujuan baik, kita tetap bersatu, kok.

Bukan begitu?

Baiklah, impian saya, saya sudahi dulu di sini :) *kembali lagi ke cangkir kopi berikutnya*


The Lemongrass Journey (Epilogue)

I don’t need a lot of things
I can get by with nothing
Of all the blessings life can bring
I’ve always needed something
But I’ve got all I want
When it comes to loving you
You’re my only reason
You’re my only truth

(I Need You, LeAnn Rimes)

Jika kamu ingin mengenal seseorang dengan baik, bepergianlah dengannya.

Saya lupa di mana saya mendengar perkataan ini, tetapi saya rasa setiap perjalanan–terutama ke negeri-negeri yang sama sekali asing, memang memiliki keajaibannya sendiri-sendiri.

Saya ingat bahwa siang itu, sepulangnya dari Hanoi, kita tiba di Ho Chi Minh City dan menelusuri pasar Ben Thanh untuk mencari suvenir, kopi Vietnam, serta mencicipi pho bo vien,

(atau semacam mie bakso) di tengah pasar yang terlihat menggoda selera. Kemudian kita berpisah sebentar, kamu mengitari pasar untuk membeli buah longan dan minuman, sementara saya duduk memesan makanan; atau saat-saat kita memindai toko demi toko untuk mencari buah tangan dan memasukkan semuanya ke dalam satu tas hitam besar…

Kemudian, bagaimana dengan saat-saat ketika kita menghindari sepeda motor yang seperti tidak ada hentinya membanjiri jalan raya? (Jangan berlari, berjalanlah pelan-pelan, selangkah demi selangkah, agar para pengendara motor dapat mengantisipasi gerakan kita dan menghindar ketika kita menyeberang jalan).

We made a great team, don’t you think?

Dan dunia ini masih menyisakan banyak tempat untuk kita jelajahi, makanan-makanan lezat untuk kita abadikan dari balik lensa kamera, serta petualangan lain yang akan memancing tawa kita kembali ketika diceritakan bertahun-tahun kemudian.

So, if I gave you my hand to hold, would you walk with me to welcome our future journeys?


The Lemongrass Journey (6): Hanoi

Hanoi di malam hari begitu menyenangkan. Trotoar sepanjang Old Quarter yang penuh dengan muda-mudi yang modis, lampu-lampu yang berkelap-kelip dan berpendar-pendar, bangunan-bangunan bergaya kolonial, suara musik dan percakapan orang-orang…

semuanya membuat kota ini begitu hidup dan hangat; mengingatkan kita pada kota Bandung.

Dari penginapan kita di Especen, kita berjalan kaki beberapa menit saja menuju Old Quarter yang ramai dan bermandikan cahaya lampu.

Dari St. Joseph Cathedral, kita memutari taman di seputar Hoan Kiem Lake menuju Thang Long Water Puppet Theater.

Water Puppet sendiri merupakan kesenian tradisional Vietnam; seperti wayang golek, sebenarnya, yang dimainkan di atas air. ‘Wayang’ digerakkan dengan bambu-bambu panjang dari dalam air–sehingga para pemain Water Puppet ini juga memainkan ‘wayang’ mereka dari dalam air, terendam hingga setengah badan.

Keluar dari pertunjukan Water Puppet ini, kita pun mengikuti indera penciuman kita dan perut yang mulai keroncongan, kemudian mendamparkan diri di semacam angkringan yang rupanya cukup mudah ditemukan di sepanjang trotoar di Old Quarter Hanoi. Alih-alih lesehan di atas tikar, kita duduk di bangku-bangku plastik pendek yang dipasangkan dengan meja-meja mungil.

Menu bakar-bakaran tersedia di atas sebuah meja, dan kita bebas memilih lauk-pauk apa yang hendak dibakar: mulai dari sosis, seafood, daging, enoki, hingga salmon…

Semuanya disajikan panas-panas dengan baguette yang dibakar dengan madu dan sambal yang sangat pedas dan sedikit manis.

Malam itu berlanjut dengan penelusuran kota Hanoi di malam hari. Kita menyusuri Hoan Kiem Lake dan taman yang mengelilinginya di bawah cahaya rembulan.

Taman ini begitu menyenangkan, dengan jalan setapak yang lapang, pohon-pohon yang rindang, bangku-bangku taman yang nyaman dan digunakan muda-mudi Hanoi untuk berpacaran — sementara para manula berolahraga ringan di sekitar mereka.

Seperti layaknya tempat-tempat lain di mana muda-mudi berpacaran, di taman sekitaran Hoan Kiem Lake terdapat sebuah gerbang kecil yang cantik — dan ketika kita lewat di bawahnya, kita bisa melihat nama-nama pasangan muda-mudi dan ikrar cinta mereka tertulis dengan pena atau tip-ex di bagian dalam dinding-dindingnya.

Hanoi has the best morning.

Pagi itu kita terbangun pada sinar matahari yang hangat, kemudian kembali menyusuri Old Quarter dan memandangi St. Joseph Cathedral yang baru nampak keagungannya di bawah cahaya pagi.

Dari sana, kita berjalan kaki menuju Highlands Coffee (tidak terlihat Starbucks di Vietnam; yang bertebaran di kota adalah gerai kopi Gloria Jean’s dan Highlands Coffee) dan memesan kopi dalam gelas-gelas karton,

untuk dinikmati dari bangku taman di pinggir Hoan Kiem Lake,

seraya bertanya-tanya mengapa waktu begitu cepat berlalu. Kita masih menginginkan lebih banyak waktu hanya untuk duduk diam di sini. Tetapi segala sesuatu yang indah memang selalu terasa lebih cepat usai, and Hanoi has the best morning, afterall.


The Lemongrass Journey (5): Lan Ha Bay

Terbangun menjelang pukul setengah enam pagi, kita beranjak ke beranda untuk memandangi kabut dan perbukitan di sekitar Cat Ba Town.

Suara sayup-sayup lagu kebangsaan Vietnam dari pengeras suara; suhu udara yang berkisar antara 17-18 derajat Celcius; langit yang ungu-kelabu; angin lembap dan rinai gerimis yang menyapu wajah kita… semuanya berbaur dengan kehangatan secangkir kopi dan teh yang dinikmati berdua saja.

Setelah menikmati sarapan ala Western di hotel, kita keluar terbungkus pakaian hangat dan scarf; berjalan kaki beberapa langkah menuju kantor penyedia tur kecil di dekat situ. Sebuah bis sudah menanti; yang akan membawa kita ke pelabuhan untuk menelusuri keindahan Lan Ha Bay di pagi hari — yang ditetapkan sebagai World Heritage-nya UNESCO di tahun 1994.

Perahu Cina yang kita sewa telah menunggu di sana. Melewati pasir yang basah dan menghiraukan rinai gerimis, kita naik ke atas kapal. Awak kapal kemudian menaikkan matras ke dek atas yang terbuka, sehingga kita bisa duduk-duduk di sana memandangi keindahan gugusan batuan kapur di sekeliling kita. Hanya ada suara pagi: sepi, kapal motor di kejauhan, riak air, dan kita.

Pemandangan batu-batu kapur, kabut yang dingin,  pantai tersembunyi di antara dua batu kapur yang tinggi, langit yang tidak berbatas, gerimis yang datang dan pergi sesuka hati, keberadaan kamu dan lagu-lagu di dalam iPod yang kita kumpulkan selama beberapa hari sebelumnya; jauh sebelum ini…

semuanya menandai perjalanan yang hening dan mengagumkan.

Menjelang pukul sepuluh, kita mendarat di Monkey Island — yang juga merupakan bagian dari Taman Nasional Cat Ba.

Pasir putih dan air yang tenang serta bening; koral-koral yang indah, dan monyet-monyet jinak yang duduk-duduk di atas pasir membuat kita betah diam saja di sana dan memandangi.

Menjelang pukul sebelas siang, kita melambai pada kapal sewaan kita yang tertambat tak jauh dari situ, memberi isyarat bahwa sudah saatnya kita kembali ke Cat Ba Town.

Duoy–dan mobil sewaan kita sudah menunggu. Perjalanan selama sekitar 5 jam menuju Hanoi akan ditempuh dengan ransum berupa kacang wasabi, keripik ubi, dan aneka cemilan, serta minuman ringan macam WinterMelon. Penyeberangan kita dengan feri terasa lebih menyenangkan, karena di siang hari kita menaiki feri besar dengan dek bertingkat.

Kita tak lagi perlu bersesakan dengan sepeda-sepeda motor, dan dapat naik ke dek teratas yang lapang, menikmati panasnya matahari dan angin dingin yang masih bertiup dari Cat Ba Town.

Sambil menunggu feri berikutnya di Hai Phong, kita duduk-duduk di tepi pelabuhan, memandangi perempuan-perempuan Vietnam mencari kerang-kerangan di lumpur,

seraya memandangi perahu-perahu dan menyodorkan Lonely Planet kita pada Duoy — yang dengan senang hati memberitahukan kita cara pengucapan kata-kata tertentu dalam bahasa Vietnam.

Dari pelabuhan, perjalanan menuju Hanoi yang panjang dimulai. Teriknya matahari membuat kita tertidur di jok belakang; namun kita tak melewatkan senja di Hanoi sore itu. Melewati lalu-lintas yang padat, jembatan-jembatan, serta billboard yang berpendar dalam cahaya matahari.

Sebentar lagi perjalanan ini usai. Tetapi kita masih memiliki sebuah malam dan sebuah pagi di Hanoi. Jadi, mari kita simpan sebanyaknya kenangan di kota yang dikenal romantis ini.


The Lemongrass Journey (4): Cat Ba Island

Pagi itu, kita meninggalkan Hồ Chí Minh City dan bergegas menuju pelabuhan udara.

Tujuan kita berikutnya: Cat Ba Island di Utara Vietnam. Pulau kecil inilah salah satu akses menuju gugusan batuan kapur yang mengagumkan di Ha Long Bay; dan dapat ditempuh lewat ibukota Vietnam, Hanoi.

Berjejal dalam penerbangan domestik JetStar bersama para penduduk lokal dan delapan anak balita yang menangis dan menjerit-jerit selama satu jam, saya merasa baik-baik saja. Karena kamu ada. Suara-suara dunia seperti teredam ketika kita tertawa.

Sudah hampir tengah hari ketika kita mendarat di Noi Bai International Airport, di Soc Son Distric. Pengemudi mobil sewaan kita, Duoy, sudah siap menanti di pintu keluar. Perjalanan ini akan menjadi sangat panjang dan agak tergesa, sehingga kita bahkan tidak dapat berhenti untuk makan siang.

Dari pelabuhan udara, kita masih harus menempuh perjalanan darat sekitar 4 jam menuju pelabuhan — kemudian mengejar feri menuju Hai Phong (yang kabarnya hanya beroperasi hingga pukul 5 sore). Dari sana kita akan menempuh perjalanan darat lagi sekitar 1 jam sebelum menyeberang dengan feri menuju Cat Ba Island, diteruskan dengan sekitar 1 jam perjalanan lagi menuju Cat Ba Town.

Selama 6-8 jam ke depan, kita akan terkurung berdua di jok belakang mobil sewaan ini. Jika kita bisa melewati perjalanan ini tanpa saling membunuh, segalanya akan baik-baik saja, bukan begitu? :D

Perjalanan dari Hanoi menuju pelabuhan memakan waktu lama dan tergolong tidak nyaman (tetapi baik-baik saja ketika dilalui bersamamu, dan mobil sewaan kita begitu menyenangkan). Pemandangan di kiri-kanan kita hanyalah pabrik-pabrik dan hotel-hotel kumuh; serta warung-warung kecil. Sementara jalanan yang kita lalui berlubang dan berdebu.

Sekitar setengah jam terakhir menuju pelabuhan, menjelang pukul lima sore, barulah kiri-kanan kita ditingkahi hijau persawahan dan rawa-rawa.

Di pelabuhan, menjelang senja, kita naik ke atas feri bersama orang-orang Vietnam yang juga hendak menyeberang dengan motor-motor mereka. Berdiri bersesakan di sana; kita memandangi cakrawala di kejauhan dan pasangan-pasangan yang saling berpelukan dalam balutan jaket-jaket mereka.

Kita memang tidak menyiapkan diri untuk udara dingin dan angin laut seperti ini. Lupakan jaket, sweater, atau scarf. Tetapi bersama kamu, saya merasa hangat selama sekitar 45 menit ke depan. Dan kita berdiri di sana, bersisian, memandangi senja serta terbenamnya matahari di atas lautan. Saya tidak bisa meminta lebih.

Langit sudah gelap ketika feri kita merapat di Hai Phong. Terperangkap lagi di jok belakang mobil, kita menggunakan waktu yang sebentar itu untuk menghangatkan diri; sebelum kembali turun mencium asinnya lautan di pelabuhan berikut, yang akan membawa kita ke Cat Ba Island.

Malam itu, secara ajaib, angkasa menuangkan kelip bintang-bintangnya di permukaan laut. Saya melompat kegirangan dan menarik-narik lengan bajumu, “Lihat!” — seraya menunjuk ke permukaan laut yang berpendar dengan kelap-kelip menakjubkan.

Kamu bertanya apa itu.

Bioluminescence.

Bioluminescence or water shining flashes of light, which is a chemical form of light and glowing, is caused in a daily occurrence by the group dinoflagellates. After using up carbon dioxide from the atmosphere in their bodily processes the spent algal residue falls to the ocean bottom in the form of carbon. In the process as carbon fixing organisms they turn water and carbon dioxide (a greenhouse gas) into sugar using sunlight and also produce chemicals that affect the formation of clouds.

Untuk pertama kalinya, malam itu, kamu menyaksikan fenomena alam yang selalu nampak indah bagi saya itu. Bahwa kita berbagi bintang di atas permukaan laut, pada malam itu, juga akan selalu terasa indah buat saya, bahkan lama setelah perjalanan itu berlalu dan tersimpan dalam kotak kenangan saya.

Sekali lagi, malam yang dingin dan berangin itu kita habiskan dengan berjejal bersama sepeda-sepeda motor dan penduduk lokal menuju Cat Ba Island. Langit malam ditingkahi bintang-bintang yang muncul dan berkelip sesekali, serta lampu-lampu kapal dan rumah apung di kejauhan.

Hampir pukul setengah delapan malam ketika kita melewati daerah gelap menuju Cat Ba Town. Dari balik jendela mobil, kita bisa melihat batu-batu kapur yang tinggi menjulang dari gugusan Lan Ha Bay–terusan dari Ha Long Bay di sekitar Cat Ba Island; yang relatif lebih terisolasi dari aktivitas pariwisata dibandingkan Ha Long Bay (di dekat Ha Long City).

Setelah meletakkan koper-koper dan menyegarkan diri di Holiday View Hotel, kita berjalan kaki melawan udara dingin (dengan jaket dan scarf) menyusuri Cat Ba Town yang mungil. Pemandangan di sekitar kita–lautan dan angin dingin; jalanan yang lengang, lampu-lampu jalan yang seadanya, deretan penginapan kecil, toko suvenir, restoran, dan penyewaan kapal, anjing-anjing yang berkeliaran… semuanya membuat saya merasa tengah terdampar dalam novel Goodbye, Tsugumi-nya Banana Yoshimoto.

Setelah menyewa sebuah kapal Cina untuk mengarungi Lan Ha Bay keesokan paginya, malam itu kita memutuskan untuk menikmati makanan hangat di dua restoran yang direkomendasikan Lonely Planet: Bamboo Cafe (fried spring rolls dan seafood pho);

dan Huong Y (tumis bayam yang lezat dan buah-buahan dengan yogurt), yang terletak bersebelahan.

Berjalan pelan-pelan menentang angin dingin dengan perut penuh dan hangat; kita memandang gugusan batu kapur di atas lautan–tempat kita akan menghabiskan esok pagi dengan cerita yang lain.


The Lemongrass Journey (3): Ho Chi Minh City at Night

I’ve been watching but the stars refuse to shine
I’ve been searching but I just don’t see the signs
I know that it’s out there
There’s gotta be something for my soul somewhere

Lagu Way Back into Love-nya Hugh Grant & Haley Bennett bermain-main dalam benak saya ketika kita kembali menyusuri gang sempit menuju jalan besar di Phạm Ngũ Lão; melompat ke dalam taksi, dan menelusuri Hồ Chí Minh City di waktu malam. Dari balik jendela, kota berpendar dalam titik-titik cahaya yang hangat dan menyenangkan (ataukah itu karena kamu?). Read the rest of this entry »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 930 other followers