Monthly Archives: March 2010

The Lemongrass Journey (2): Ho Chi Minh City

Do wishes really come true?

Pagi hari di Hồ Chí Minh City diawali dengan sarapan pagi berupa baguette dan kopi Vietnam di atas atap Ngoc Minh Guest House; dan semangkuk phở untuk berdua di Pho Quynh. Dan perjalanan kita pun resmi dimulai. Menempuh jarak 5 kilometer dengan berjalan kaki, dan akan menghabiskan waktu selama 6 jam.

Dari Phạm Ngũ Lão kita menyeberangi jalan yang padat dengan sepeda motor menuju pasar Bến Thành yang baru menggeliat.

Kita memutuskan untuk kembali lagi ke sini belakangan, kemudian menyeberangi bundaran menuju Selatan, dan mendamparkan diri di Fine Arts Museum di Phó Đức Chính yang penuh dengan labirin-labirin.

Seperti mencoba menebak isi hatimu, saya mengintip ke dalam lorong-lorong kecil museum yang membawa kita ke lorong lain, dan ceruk-ceruk tersembunyi yang menyimpan lukisan-lukisan serta keramik.

Dari sana kita menyusuri jalan-jalan yang ramai dan bermandi cahaya matahari, melewati pasar pinggir jalan yang padat dengan aneka makanan, kemudian beristirahat untuk menyantap es krim di X Cafe yang cantik, berlindung dari sengatan matahari di sofa-sofa empuk dan mengobrol tentang entah apa.

Setelah menyegarkan diri, kita kembali turun ke jalan menuju Lê Lợi, pusat komersial di Saigon, dan mengagumi deretan butik-butik desainer ternama dunia yang berjajar, dengan bendera-bendera palu arit tepat di seberangnya.

Kamu berkata, “Tidak terasa sosialisme di Saigon saat ini”–selagi saya mengagumi trotoar-trotoar yang luas, terawat, bersih, dan nyaman di sepanjang jalan.

Di hadapan kita berdiri Opera House yang megah,

Rex Hotel dan Hotel de Ville di sekitaran Nguyễn Huệ. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul satu siang. Kita mempercepat langkah menuju Museum of Hồ Chí Minh City yang cantik–di mana tengah berlangsung pemotretan pre-wedding di anak tangganya.

Dari sana kita berjalan menuju Quan An Ngon di Pasteur Street untuk makan siang di lantai atas, menyantap phở, cumi bakar, dan es kelapa muda di bawah naungan payung putih cantik; sementara langit mulai digayuti mendung (sepanjang perjalanan setelah itu, saya masih mengkhawatirkan bau cumi bakar yang lekat di rambut dan baju).

Beberapa saat  kemudian, kita telah menelusuri Reunification Palace yang luas dan lapang,

serta War Remnants Museum di dekat Kỳ Khởi Nghĩa dan Vo Van Tan. Waktu itu mendung, hujan nyaris rintik, dan kita baru saja bergidik melihat kengerian Agent Orange dan tiger cages.

Perjalanan berlanjut di sore hari yang menyenangkan, dengan angin bertiup lembut: Notre Dame Cathedral–yang cantik, dengan patung Bunda Maria yang berpendar dalam gelap,

serta kantor pos besar di Lê Duẩn.

Dari sana perjalanan terjauh kita sore itu dimulai, menuju Jade Emperor Pagoda di Nguyễn Bỉnh Khiêm–daerah yang ramai dan padat; seperti daerah Kota di saat-saat termacetnya.

Kita berjalan tanpa henti selama kurang lebih 40 menit, dan kamu terus bertanya apakah saya lelah. Saya katakan, tidak (karena kamu ada di sisi saya). Keramaian di sore hari bertambah dengan keluarnya motor-motor yang tumpah-ruah ke jalan-jalan (dan kamu merengkuh bahu saya ketika kita mencoba menembus kekacauan itu).

Senja itu kita habiskan di Jade Emperor Pagoda yang berpendar merah dan ditingkahi asap dari hio yang dibakar, di bawah rerimbunan pohon, seraya mengamati kelucuan anjing-anjing yang berkeliaran di sekitar dan merencanakan ke mana lagi kita akan pergi setelah ini.

Ketika kaki-kaki kita sudah tak terlalu lelah dan gelap mulai turun, kita memutuskan untuk kembali ke jalan besar dan menumpang Vina Taksi kembali ke Phạm Ngũ Lão. Dari atas atap di Ngoc Minh, kita memandangi langit kota yang berbintang sambil menikmati sebungkus puding tofu di ayunan.

Akhirnya kita berbagi langit ini berdua. Berbagi bintang. Di atas sebuah ayunan besi untuk berdua, di atas atap.

Wishes do come true.

The Lemongrass Journey (1): Saigon

Saya cemas.

Hampir pukul sembilan malam; dan pemandangan kota Saigon sudah mulai terlihat dari ketinggian; menyerupai jalinan jaring laba-laba dengan titik-titik cahaya yang terjalin rapi. Pesawat yang kita tumpangi hampir mendarat di bandara internasional Tân Sơn Nhất di kota Saigon / Sài Gòn (SGN); atau yang kini lebih dikenal dengan Hồ Chí Minh City (HCMC).

Tetapi, bagaimana jika perjalanan ini tidak sesuai dengan yang kamu inginkan?

Saya masih memendam cemas ketika kita berada di atas mobil menuju Ngoc Minh Guest House di Phạm Ngũ Lão.

Dari balik jendela, terhampar pemandangan jalan raya kota Saigon yang lengang. Sesekali ditingkahi pendar cahaya lampu dari sepeda-sepeda motor yang kebetulan melintas; serta jajaran gedung-gedung tua yang mengingatkan kita pada Jakarta-Kota di tahun delapanpuluhan. Bayangan kita, duduk bersisian, terpantul di sana; seperti adegan pembuka dalam sebuah film tua yang belum lagi bisa ditebak jalan ceritanya. Continue reading

Tagged , , , , , , , ,

The Lemongrass Journey (Prologue)

Tak ada garis, tak ada batas. Semua terhampar seperti masa depan.

Penerbangan kita ditunda selama 1 jam. Sore itu, pukul 4.35, kita masih duduk-duduk di ruang tunggu dengan Lonely Planet terbuka di pangkuan.

Seharusnya saat ini kita sudah berada di dalam pesawat menuju 1.880 kilometer jauhnya. Continue reading

Tagged ,

Maca Express: Macaroon!

Tau macaroon, nggak? Ini sebenarnya mirip-mirip merengue yang terbuat dari putih telur yang dikocok sampai kaku. Biasanya dicampur gula, biar manis, terus dipanggang. Karena terbuat dari putih telur aja, dan nggak pakai tepung, adonannya ringan, dan begitu ditaruh di atas lidah… langsung meleleh, deh! Biasanya merengue nggak ada filling/isinya, jadi katakanlah macaroon itu semacam merengue yang pakai macam-macam filling :D

Karena di Le Codefin, Kemang, ada yang jualan macaroon, saya dan Nena nggak tahan untuk nggak beli. Lihat saja, bentuk dan warnanya imut-imut begitu!

Continue reading

Tagged , , ,

Le Codefin, Kemang: Iga Penyet TEKKO

Untuk merayakan hari Jumat, seisi divisi (The Diplomat, James Bond dan The Berserk) ditraktir Bos Besar makan iga panggang di Tekko, Le Codefin, Kemang! Hooraaah! Seperti biasa, dimulailah seri foto-foto kuliner dengan kamera si Bos yang kelihatan oldies, RICOH GRD II warna hitam; dan inilah hasilnya! (tarik-tarik lengan baju Bos Besar, “aku mau kamera itu, mau, mau, mau…!”)

Tagged , , ,

New Twitter Avatar (Comfort-Pet Series)

Ini adalah salah satu postingan nggak penting. Tapi, siapa bilang postingan di blog harus penting? Jadi begini, saya punya avatar Twitter baru :D

Tentu saja ini salah satu masterpiece dari the talented Ms. Kapkap. Avatar seri ini adalah avatar kami dan hewan-hewan tempat curhat dan menumpahkan stress (comfort-pet series). Continue reading

Tagged , , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,183 other followers

%d bloggers like this: