dua puluh delapan

Kamu membuatku gugup waktu itu.

Kita bertemu untuk yang pertama kali di tengah keramaian. Orang-orang di sekitar kita berteriak, tersenyum, tertawa, menyapa, menjepretkan kamera, berjabat tangan dan melambai sekaligus. Tergesa dan terburu menuju entah. Koridor itu terasa sempit dan penuh-sesak, tetapi keberadaan kamu di sana melampaui semua hingar-bingar itu.

Mungkin kamu tidak tahu bahwa aku sudah mengagumi kamu sejak dulu. Lama sebelum kamu menyadari bahwa aku ada.

Keesokan harinya kita bertemu lagi untuk menikmati sushi dan kopi hingga senja hari. Dan setelah ratusan hari, aku masih ingat dengan jelas di mana kamu duduk (kita duduk bersebelahan dengan kamu di sisi kiri), baju apa yang kamu kenakan, makanan penutup apa yang kamu pesan… dan betapa aku sudah merasa nyaman berada di dekatmu sejak saat itu.

Dan waktu mungkin memang selalu mencandai kita sedemikian lucu. Atau mungkin ia hanya ingin kita menunggu dan menjadi yakin pada apa yang kita rasa. Mungkin juga ia sengaja membuat kita berjalan pelan-pelan, sehingga di masa depan kita akan punya cukup banyak kenangan untuk disimpan dan kisah-kisah untuk diceritakan. Atau bisa jadi ia hanya ingin menguji seberapa lama sekeping perasaan akan bertahan setelah jarak memisahkan.

Tetapi ternyata, perasaan itu bertahan.

Ketika kita bertemu kembali di kotamu setelah ratusan hari berlalu, malam itu kamu menemukan aku. Dan sejak saat itu aku tidak ingin hilang lagi.

Leave your traces here. I want to hear :)