Monthly Archives: June 2009

Gempur Lulus Ujian!

Gempur dan keluarganyaIni kabar gembira buat kami semua, dan tentunya untuk kawan-kawan yang selama ini aktif membantu Coin A Chance! sebagai Coiners maupun Coin Droppers. Gempur–anak pertama yang menerima bantuan dari Coin A Chance!, akhirnya lulus ujian SD dengan NEM 25! Ibunya Gempur langsung menelepon, khusus untuk mengabarkan hal ini, tertawa-tawa senang bercampur haru. Continue reading

Tagged , , , , , , ,

Kompetisi Foto Bawah Laut

UnspunPagi ini, saya teringat percakapan saya dengan Nila Tanzil. Perempuan berambut jigrak yang mencintai pantai dan gemar menyelam itu pernah berkisah kepada saya, di dalam taksi. Kisah ini berhubungan dengan ekspedisi penyelamannya dengan sebuah rombongan beberapa waktu lalu.

Alkisah, di atas kapal di tengah laut, salah satu anggota rombongan penyelam menyantap pisang. Lantas dengan santainya, kulit pisang yang tadi disantapnya ia lemparkan ke laut. Continue reading

Tagged , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebuah Ketika.

Lebih dari segalanya, waktu. Hanya waktu.

Dan kita memang sudah sejak dulu. Kamu tahu. Menikmati setiap jeda, setiap jenak, setiap lalu kala menunggu. Sebaris senyap dalam kata-kata yang tergugu. Tidak terburu. Tidak jemu-jemu meski yang kita lakukan tidaklah lebih hebat dari sekadar menunggui sebatang rokok bertransformasi menjadi abu. Kita mungkin terikat dalam erat yang terlalu. Begitukah menurutmu? Continue reading

Blogger di Balik Jeruji Besi

Bebaskan Prita Mulyasari!

Ini akan menjadi postingan yang relatif pendek, karena sudah ada begitu banyak orang yang bicara mengenai kasus tak menyenangkan yang menimpa Prita Mulyasari. Saya sendiri tak mengenal sosok Prita secara pribadi, namun sempat merasa miris (dan marah) mengetahui bahwa perempuan ini harus mendekam di balik jeruji besi hanya karena ia menuliskan komplain atas pelayanan sebuah rumah sakit (RS Omni Internasional) di salah satu milis.

Dari sudut pandang saya sendiri, yang awam masalah hukum, kasus Prita merupakan salah kaprah penginterpretasian yang menyedihkan (dan memalukan) dari salah satu pasal dalam UU ITE; sebagaimana para selebritis dan politisi mulai kecanduan menggunakan pasal ‘pencemaran nama baik’ untuk merespon berbagai macam gesekan yang terjadi di antara mereka.

Awal minggu ini, komunitas online sendiri sudah mulai bereaksi dalam menyuarakan pendapat dan dukungan mereka terhadap Prita, baik melalui blog, Facebook, sampai Twitter.

Namun yang berkecamuk dalam benak saya adalah kenyataan berikut: belakangan ini para kandidat capres-cawapres sibuk menggalang simpati dari komunitas online, bahkan sempat-sempatnya menjadwalkan temu blogger segala. Dimulai dengan JK, lalu Prabowo, dan Boediono–ya, lengkap sudah. Semua kandidat sudah terwakili.

Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah kini salah satu dari mereka akan bereaksi dan angkat suara terhadap kasus Prita?*

Lantas teringatlah oleh saya: malam-malam, di sebuah kafe di bilangan Mahakam, Jakarta Selatan, salah seorang kandidat capres sempat berujar bahwa ia siap dan terbuka untuk dikritik oleh para blogger melalui media blog.

Seorang Prita mengkritik layanan sebuah rumah sakit, dan kini ia berada di balik jeruji besi.

Ada sesuatu yang sangat tidak benar di sini.

——–

*Prita memang bukan blogger, tetapi dia netters yang terjerat UU ITE. Dan sebagaimana diketahui, netters bisa menjadi sangat solid dalam keadaan seperti ini.

**Jadi teringat kasus yang sempat menimpa Herman Saksono.

Tagged , , , , , , , , , , , , ,

Coffee-flavored Kisses.

Coffee Flavored KissesPagi hari menatah malam tadi dalam imaji yang tereduksi: hujan, 5 pitcher Heineken, lagu-lagu Mariah Carey, asap, kotak-kotak kosong Dunhill dan Marlboro Lights Menthol, antrian panjang di depan toilet yang cuma satu-satunya, pecahan gelas yang berantakan.

[Selamat pagi…]

Aroma yang kukenal baik. Kopi tubruk. Susu cair. Dan kamu.

Do you realize that you have this lovely peppermint smell I’m totally crazy about? So refreshing! What was that? An after-shave cream? A toothpaste?

Kamu menjengukkan kepala dari balik jendela; terang membuat pucuk kepalamu bercahaya, seperti malaikat. Ada mug besar berwarna hijau muda dalam genggamanmu. Kafein bercampur Chambord dan Baileys. Memabukkan hanya karena kamu yang menyajikannya untukku. Tetapi bukankah tiap kehadiranmu itu memang selalu memabukkan?

Kamu tersenyum. Mengapa kamu tersenyum? Did I say that out loud?

[Have your coffee first before it gets cold.]

Semuanya terasa hangat. Matahari. Senyum. Kopi. Pagi. Telapak tangan. Hati. Coffee-flavored kisses. Juga bingkisan kecil di atas meja: an all-access ticket to do whatever I want with you (and your heart). I couldn’t ask for more.

Tagged , , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,100 other followers

%d bloggers like this: