:: surat untuk mbak

KartiniMbak,

Sudah seratus lima tahun kini sejak Mbak pergi (saat itu Mbak masih seusia saya, bukan?). Tetapi Mbak pasti terkejut jika di tengah arus globalisasi dan euforia emansipasi yang mungkin Mbak impikan dahulu, masih saja ada hal-hal yang tetap sama seperti sebelumnya.

Ah, jika saja Mbak ada di sini, saat ini, detik ini, saya yakin Mbak akan memilih jalan hidup yang jauh berbeda: termasuk memilih untuk tidak dipoligami.

Mbak pernah bercerita kepada Stella, bahwa sebagai anak seorang selir, Mbak begitu membenci poligami dan laki-laki yang membagi cintanya dengan lebih dari satu istri:

Bagaimana aku bisa menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah, sudah menjadi seorang ayah, hanya karena dia sudah bosan dengan yang lama dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya? (Nov 6, 1899)

Saya tidak pernah menyalahkan Mbak karena Mbak akhirnya menikahi Bupati Joyodiningrat. Kita memang hidup di masa yang jauh berbeda, Mbak. Pada masa Mbak, mungkin pernikahan itu memang Mbak anggap perlu; sebagai sarana untuk mencapai cita-cita Mbak. Dan selain miris, kesadaran akan hal ini membuat saya geli sendiri, Mbak.

Karena kenyataannya, sebelum menikah, Mbak telah mengajukan syarat agar beliau menyetujui cita-cita Mbak dan mendukung Mbak mendirikan sekolah dan mengajarโ€”yang kemudian membuat saya teringat pada perjanjian pra-nikah yang populer belakangan ini.

Ternyata Mbak bukan hanya menyerah; tetapi juga memanfaatkan situasi. Ini cukup pintar ketimbang menyerah saja, kemudian titik.

Meskipun demikian, Mbak pernah mengatakan bahwa lambat-laun, Mbak belajar menghormati Bupati Joyodiningrat sebagai suami, dan belajar mencintainya (meski saya masih ragu apakah Mbak kemudian benar-benar mencintainya, ataukah saat itu cinta tidak menjadi prioritas untuk Mbak?).

Mbak, seratus lima tahun sudah berlalu sejak Mbak pergi. Dan Mbak pasti akan merasa miris juga ketika mengetahui bahwa pagi ini, untuk merayakan hari yang dinamai dengan nama Mbak itu, anak-anak perempuan pergi ke sekolah dengan mengenakan konde dan kebaya—representasi dari budaya dan represi yang justru berusaha Mbak dobrak sejak lebih dari seabad yang sudah lewat.

Pasti Mbak lebih suka jika mereka merayakan hari ini dengan seragam pilot, tentara, atau astronot, bukan? Karena bukankah sudah bermunculan perempuan-perempuan yang mengisi jabatan dalam profesi-profesi di atas? (Untuk alasan yang sama, saya juga beranggapan bahwa Mbak pasti lebih suka menonton ALIAS atau La Femme Nikita daripada menikmati siaran langsung pemilihan ratu sejagat).

Oh, ya, satu lagi: Mbak juga pasti terkejut jika mengetahui bahwa bahkan seratus lima tahun setelah Mbak pergi, perempuan masih saja dituding sebagai penyebab ketidakmampuan laki-laki menahan nafsu syahwat*.

Saya pamit dulu, Mbak. Sampai tahun depan, di bulan keempat, tanggal dua puluh satu.

H.

————

*)dengan pertimbangan yang sama, saya kemudian membenci pemain sinetron laki-laki berinisial DH atas komentar seksisnya di salah satu tayangan infotainment.

Leave your traces here. I want to hear :)