:: sensor pilih kasih
Posted: April 30, 2009 Filed under: Life | Tags: aneh, blitz, festival sinema perancis, indonesia, la tete de maman, menyebalkan, nggak jelas, ngomel, pilih kasih, sensor 14 Comments »
Begini ya, Sdr/i. Petugas Sensor yang semena-mena…
Saya itu sudah lama ingin nonton festival Sinema Perancis. Akhirnya kesampaian juga. Film yang saya pilih adalah film drama sedikit komedi (plus agak depresif sebenarnya). Judulnya La tête de maman (In Mom’s Head). Mau baca sinopsisnya?
The teenager Lulu lives with her depressive and self-centered mother. One day, the girl stumbles on a Super 8 film in which she discovers her mother, at the age of 20, in the arms of some strange man, as happy and radiant as she has ever seen her. Lulu makes up her mind to go find him and bring him back, in the hope that her mother will regain a taste for life.
Dari sinopsisnya saja ketahuan bahwa film ini bukan film stensilan. Lagipula mana mungkin film stensilan lolos diputar di festival Sinema Perancis di Blitz Megaplex. Bukan begitu?
Sewaktu saya dan kawan-kawan saya hendak mengantri membeli tiket yang harganya lima belas ribu itu, di meja tempat pembelian tiket jelas-jelas ditulis bahwa film ini adalah UNTUK DEWASA.
Saya masuk dan duduk di baris paling belakang, bersiap menonton ditemani seember berondong jagung mentega. Dan sepanjang film diputar, saya terganggu sekali karena layar berkali-kali kena sensor. Bahkan untuk adegan yang cuma ciuman biasa. Ditutupnya pakai koran, ya? Besar sekali soalnya Anda menutupi pandangan saya berkali-kali. Pusing melihat layar yang separo hitam tiba-tiba padahal tidak ada adegan yang jorok (untuk orang dewasa dan untuk ukuran film festival, apalagi film Perancis) di baliknya.
Sudah begitu sensornya semena-mena pula. Bukan cuma ditutup bibirnya saja, misalnya, Anda sekalian menutupi juga teks bahasa Inggris di bawahnya! Alhasil, saya yang hanya mengerti beberapa patah kata dalam bahasa Perancis ini pun emosi karena tidak bisa mengikuti dialog yang terjadi di layar. Bisa kan, setidaknya tinggalkan teks-nya supaya bisa dibaca? Nggak semua orang yang nonton ngerti bahasa Perancis!
Tolong, lain kali jangan diulangi lagi! Menyebalkan, tahu, nggak? Saya nggak ngerti mengapa Anda menyensor adegan ciuman antar dua remaja, tapi tidak menyensor adegan kekerasan di film Watchmen atau manusia-manusia bernanah yang melepuh, berulat, dan berkelabang di sinetron-sinetron televisi!
:: 1/24
Posted: April 29, 2009 Filed under: Love | Tags: cinta, hujan, kopi, malam hari, prosa, virgin suicides 8 Comments »Selintas hujan berkelebat sekejap; menjelma putih yang membuat mata hanya bisa melihat dalam jarak pandang terbatas. Satu meter? Jarak pandang yang kemudian menyapu dirimu.
Bersebelahan, kita terperangkap dalam sebuah kotak kaca. Transparan seperti batu es dalam gelas yang sudah mencair sehingga iced tea itu tidak lagi dingin. Mesin penggiling kopi yang berderum di kejauhan. Sebungkus rokok yang tidak dinyalakan karena intensitas yang sedemikian pekat sehingga tak bisa bahkan untuk mengambil jeda napas.
[Nokia N73. Tas kerja berisi berkas-bekas. Sepatu hak tinggi. Kemeja lengan panjang yang digulung hingga sebatas siku. Virgin Suicides-nya Eugenides. Jas yang tergeletak di sandaran sofa. Kaus abu-abu ditingkahi ikat pinggang besar hitam bergaya vintage. Blackberry. Gemerincing 24 gelang kecil. Tan Dial].
Kita meraya dalam potongan-potongan kue cokelat dan makanan berlemak; enggan melacur pada semangkuk salad dan segelas air mineral. Orang-orang datang dan pergi dalam gerak lambat. Detik berhenti pelan-pelan, memecah kembali menjadi 24 jam dalam waktu di batas hati. Lama. Setiap gerak membelah diri menjadi satu episode berisi puluhan cerita yang bisa tertuang dalam ketakterbatasan.
Kata-kata beraroma mint. Sebuah lagu yang tidak jelas. Tidak penting. Semua mengalir pada cangkir ketiga. Teh, smoothies, kopi (“what about a bottle of wine afterwards?“). Buku menu itu pun kemudian dibiarkan tergeletak di pangkuan.
Kita bahkan tak menyadari bahwa ternyata hujan sudah lama berhenti.***
:: kiamat, sakit kepala, dan joe
Posted: April 24, 2009 Filed under: Life | Tags: dokter gigi, gila, iseng, joe, kawan, kiamat, lucu, mimpi, pusing, teman, tidur, valentine 33 Comments »Perbandingan tidur lelap dan tidur yang ditingkahi mimpi bagi saya adalah 1:20. Ya, saya lebih sering pingsan tidur pulas; dan jarang sekali bermimpi. Kalaupun sampai bermimpi, biasanya hanya sebentar; dan dalam keadaan tersebut, saya ‘sadar’ bahwa saya sedang bermimpi. Lalu mengapa saya bicara soal mimpi?
Ini karena pada Rabu malam, saya bermimpi. Mimpi yang panjang sejak saya tertidur hingga terbangun kembali di pagi hari. Mimpi yang cukup aneh juga; a bit creepy but not scary (yet).
Dalam mimpi saya itu, saya menjadi diri saya sendiri, dan mengikuti kecemasan seluruh penduduk dunia yang (entah bagaimana) mengetahui bahwa kiamat akan terjadi esok hari. Jadi ketika bangun esok pagi, katanya dunia ini sudah hilang dari muka bumi; dan yang tinggal hanya hamparan pasir sejauh mata memandang. Seluruh media massa membahas mengenai hal ini (menampilkan tokoh-tokoh dunia dan spiritual, juga acara bincang-bincang dengan para ilmuwan). Tayangan-tayangan yang membangkitkan depresi ini diputar berulang kali.
Saya ingat, saya sempat menangis ketika membaca koran, dan menyadari bahwa hidup saya hanya tinggal hari ini saja. Dan bertanya-tanya, setelah kiamat esok pagi, lantas apa yang akan terjadi? Jika manusia mati, ke mana jiwanya akan pergi?
Jika jiwa kemudian menghuni surga atau neraka (atau sesuatu di antaranya?)—dan tubuh atau jasad mengurai pelan-pelan setelah ditinggalkan, mengapa konsep surga dan neraka digambarkan dengan hal-hal yang bersifat pemenuhan kebutuhan ragawi: buah-buahan segar, mata air yang jernih, bidadari dan bidadara yang cantik dan gagah?
Setelah menangis sebentar, saya meletakkan koran, dan mulai berpikir. Ini hari terakhir saya di bumi. Apakah saya akan meneleponnya? Mengirimkan SMS ke telepon genggamnya?

Telepon, enggak, telepon, enggak, telepon enggak, tapi kenapa pada hari terakhir saya di bumi yang saya pikirkan adalah kamu? It's so unhealthy!
Apa yang akan saya katakan? Masihkah kata-kata cinta berarti pada saat-saat seperti ini (bukankah sudah saya katakan padanya bahwa saya mencintainya), ataukah semua itu sudah tak penting lagi? Saya sudah tak bisa lagi menggapainya. Perjalanan menuju dirinya membutuhkan waktu lebih dari sekali putaran terbit-terbenam matahari di khatulistiwa.
Dan mimpi saya selanjutnya hanya dipenuhi kebimbangan tersebut, sembari berharap cemas menanti dunia macam apa yang tidak akan saya lihat esok pagi. Saya terbangun dengan kerongkongan luar biasa kering sehingga terasa sakit untuk menelan, mata yang perih dan terasa bengkak—persis seperti orang yang habis menangis, kemudian menyadari bahwa saya bermimpi.
Kamis malam, saya tidur nyenyak seperti biasa. Tidak bermimpi. Namun pagi harinya saya terbangun dengan sakit kepala hebat, meskipun tak kuasa untuk tidak beraktivitas seperti biasa. Apalagi mengingat kawan ‘seperjuangan’ saya juga sudah terkapar sakit selama 3 hari.
Jadilah saya memulai hari dengan kepala berdentam-dentam dan mata perih, leher pegal dan kaku, serta ngilu-ngilu di sana-sini. Pendingin ruangan pun saya matikan. Untung kawan-kawan di satu ruangan juga tengah tidak enak badan, sehingga udara yang hangat malah membuat kami merasa nyaman.
Pada kondisi menyedihkan inilah, saya kemudian terhibur dengan celoteh kawan lama saya. Si Joe.

Foto dicuri dari fesbuk Joe, dengan asumsi yang bersangkutan tidak akan berkeberatan.
Orang gila yang bisa dibilang pengusaha, pegawai, penulis, musisi, seniman, penggemar kopi, peracik koktil, pecandu Pocky Banana, sampai penikmat dunia malam. Celotehannya membuat saya bisa tertawa-tawa sedikit (meski tidak membuat sakit kepala saya berkurang); tetapi setidaknya saya bisa bertahan melalui hari ini.
Di bawah ini beberapa potong celotehan gila di blog-nya yang berhasil membuat saya mesam-mesem sendiri:
Update: di apartemen gw baru masuk tv kabel (sedih bener, hampir dua tahun berdiri baru sekarang masuk tv kabel). Gw sudah lama gak nonton channel luar semenjak pindah dari kost Alpukat. Gw kangen nonton Animax, gw juga bisa nonton Gosip Girl, Dorama Korea — lo boleh ketawa karena cowo seseram gw sukanya nonton film cartoon dan drama seri, pake nangis lagi. Dan ini artinya berpotensi memperburuk insomnia gw. Crab…
Sebenarnya kalimat ini saya dapatkan dari status sepupu saya. Jumat kemarin kalimat serupa juga saya dapat di email, kira-kira begini bunyinya: ‘Saat kau SEDIH tak satupun yang menyadari kesedihanmu. Saat BAHAGIA tak satupun melihat senyumu.Tapi saat kau KENTUT,semua menoleh kepadamu. MENYEDIHKAN SEKALI…!!!‘
Dan ini adalah tips Joe untuk membangunkan orang yang sulit dibangunkan dari tidur:
Saya pernah minta tolong dibangunkan oleh teman saya. Setelah misscall 12X saya baru bangun. Komentar dia: ‘hampir mustahil membangunkan seorang cowo…’
Ok, mungkin hampir sama mustahilnya dengan istri yang gak suka belanja.
Tapi pagi ini sepertinya teman saya menemukan cara yang tepat untuk membangunkan saya. Malah tanpa perlu misscall berkali-kali, hanya cukup dengan satu sms. ‘Joe, jangan pernah sms, telp, sapa gw lagi ya..? Pertemanan kita hanya sampai di sini’
Kamu bisa coba cara teman saya ini untuk membangunkan pacarmu, temanmu, bahkan suamimu. Dijamin cara ini sangat ampuh untuk membangunkan mereka. Untuk yang sudah menikah atau pacaran, tambahkan juga kata-kata seperti ‘kita putus saja’ atau ‘aku minta cerai… Aku gak kuat lagi’ Dijamin pacar atau suamimu langsung bangun. Kalo mereka tidak bangun juga, itu artinya mereka memang mengharapkan kalimat tsb yang kamu berikan atau kamu sudah terlalu sering gunakan cara ini untuk membangunkan dia.
Sementara ini adalah penutup (spoiler) review Joe mengenai Black Cat di Arcadia Senayan sana:
Dengan suasana yang ‘nyaman’ karena remang-remang, tempat ini cocok bangat buat ngajak pacar sebelum ke Century Hotel. Harganya juga bisa buat naikin gengsi ke gebetan/pacar. Ranking B buat tempat ini, karena hanya bisa dikunjungi saat tanggal muda.
Atau pengalaman seramnya di dokter gigi yang membuat saya mengerti mengapa ia lebih suka nongkrong di Starbucks daripada pergi ke dokter gigi (ya, iyalah!):

Saya sendiri sudah lebih dari 5 tahun tidak pernah berkunjung ke dokter gigi; untungnya saya tidak pernah sakit gigi atau memerlukan kunjungan ke dokter gigi selama kurun waktu tersebut.
scene #3
Lebih banyak alat yang masuk ke dalam mulut saya, dengan empat tangan perawat dan dua tangan dokter. Ok, perkosa saja mulut saya.
DG: Mulutnya buka yang lebih lebar
Joe: *Kentang! Rahang gw sudah keram dari tadi dan bentar lagi gantian otak gw!!!*
DG: kasih tahu ya kalo ngilu
Joe: rla….rlo…grala..glaaa….. *mulut penuh air*
DG: ok, kasih tanda tangan aja
DG: wah keknya syarafnya harus diamputasi nih…. Loh?! lho?!! Hei?! Heii???
Joe: *pingsan dengan mulut berbusa*
Atau pengalamannya menukar hadiah makan malam Valentine dengan membuatkan SIM untuk sang mantan pacar:
Saat pacaran, pengalaman pertama valentine lebih aneh lagi. Dihabiskan di Samsat Bogor, bikin SIM pacar. Ini bisa jadi salah-satu hadiah buat cewe. Sedikit tips dari saya, kalo kamu belum bisa berikan STNK mobil atas nama dia, berikan SIM baru atas nama dia!
MantanPacar: say, makasih ya sudah dibuatkan SIM *dengan manja*
saya: ehm….
MP: jadi sekarang gak takut lagi bawah mobil kamu
saya: hm… (kok saya merasa telah membuat keputusan yang salah ya?)
MP: jadi kita makan di mana nih nanti malam?
saya: errr…
MP: kamu tahu kan cafe yang kemarin kita lewati?
saya: errr….
MP: keknya bagus tuh. Romantis. Dinner di sana aja ya, say?
saya: errrr………
MP: say?
saya: errrrrr………….
say??
saya: yang, kita makan di kedai dekat kostmu aja ya? Biaya SIMmu 200ribu. Yang? Yang? Kok diem?? Yang……??
Ternyata memang tetap harus pakai makan malam. Akhirnya berhasil juga dinner di cafe tersebut setelah seminggu penuh saya didiamkan….
Joe gila! Tapi terima kasih karena sudah membuat saya bertahan melewati hari ini dengan celotehan anehmu itu! :)
Belajar Berbeda di Belanda
Posted: April 14, 2009 Filed under: Life | Tags: anita doth, antonia's line, belanda, drop, holland culture, international study programme, kincir angin, kompetiblog, louis armstrong, marlene gorris, mart de jong, multikultural, musim panas, nederland, netherlands, oudegracht, perbedaan, spread your love, studi di belanda, summer school, toleransi, tulip, utrecht university 37 Comments »Danielle: Mama, I want a baby.
Antonia: How about a husband to go with it?
Danielle: No.
~ penggalan dialog dari film Antonia’s Line (1995) ~
_______
TENTANG ANTONIA
Saya tidak tahu apa yang tengah berkecamuk dalam benak feminis Marleen Gorris ketika ia menulis naskah Antonia’s Line. Yang jelas, film Belanda ini kemudian berhasil menyabet Oscar sebagai film berbahasa asing terbaik di tahun 1996—bersama sederet penghargaan bergengsi lainnya; seperti People’s Choice Award di Toronto International Film Festival dan Golden Calf (Gouden Kalf) Award di Nederlands Film Festival.
Antonia’s Line mengisahkan kilas balik kehidupan Antonia (diperankan Willeke van Ammelrooy) dan putrinya Danielle (Els Dottermans)—karakter perempuan-perempuan dengan pandangan hidup dan pemikiran yang ‘berbeda’ dari kebanyakan penduduk di daerah tempat tinggal mereka.
Sampai Anda berhasil menonton sendiri filmnya, sementara ini sepenggal dialog di atas rasanya sudah cukup untuk merepresentasikan ‘perbedaan’ yang dimaksud.
Kesuksesan Antonia’s Line, bisa jadi, juga turut dipengaruhi oleh kedekatan tema yang diangkat film ini dengan euforia kebebasan yang marak di tahun ’90-an. Termasuk di dalamnya, adalah kebebasan untuk menjadi berbeda, dan untuk menyikapi perbedaan tersebut.
Ungkapan ‘tak kenal maka tak sayang‘ kemudian menjadi relevan dalam menyikapi perbedaan; karena konsep toleransi bukanlah semacam paksaan atau kewajiban yang hanya tertera dalam buku-buku mengenai Pancasila dan kewarganegaraan. Toleransi yang memungkinkan terwujudnya Bhinneka Tunggal Ika justru terbangun karena adanya pengertian akan perbedaan; sementara pengertian itu sendiri baru bisa didapatkan melalui dialog dan interaksi antara individu-individu yang memiliki perbedaan.
Lantas, jika pendidikan kemudian ditujukan sebagai salah satu upaya untuk membangun toleransi dan pengertian, bukankah ini berarti institusi pendidikan memerlukan paparan (exposure) yang cukup terhadap perbedaan?
Hal ini membuat saya teringat kisah-kisah teladan dalam buku-buku Pendidikan Moral Pancasila semasa duduk di sekolah dasar dulu; di mana Ahmad yang beragama Islam membantu Yohanes yang beragama Kristen membersihkan gereja, dan Bagus yang beragama Hindu meminjamkan sarung kepada Ahmad yang hendak menunaikan shalat Ashar.
What a wonderful world, begitu mungkin kata Louis Armstrong dengan suaranya yang serak-serak basah.
Inilah landasan pemikiran yang membuat saya berpendapat bahwa sekolah-sekolah umum (atau bahkan kawasan hunian) yang multikultural (dan tidak mengeksklusifkan diri untuk satu kepercayaan atau kelompok tertentu saja), akan membangun pribadi-pribadi yang jauh lebih toleran.
Kesempatan mengenyam pendidikan dalam lingkungan yang toleran dan mendukung interaksi multikultural inilah yang kemudian dijadikan unique selling proposition (USP) oleh Belanda, ketika memasarkan diri sebagai negara tujuan studi. Dan bukannya tanpa alasan jika mereka kemudian berani mengedepankan faktor multikultural dan keberagaman ini sebagai nilai tambah.
Komitmen Nederland dalam membangun citra sebagai negara tujuan studi multikultural sudah dapat dilihat sejak tahun 1950; ketika mereka menjadi negara tidak-berbahasa-Inggris pertama yang menawarkan berbagai program studi dalam bahasa Inggris.
Tentunya, pilihan ini memberikan kemudahan bagi pelajar-pelajar dari berbagai belahan dunia untuk datang ke Belanda dan mengikuti proses belajar-mengajar dalam bahasa Inggris di sana. Sebagai bonusnya, mereka juga bisa sekaligus menyerap percakapan dalam bahasa Belanda melalui pergaulan santai sehari-hari.
Ya, meski bahasa Belanda merupakan bahasa resmi di negeri ini, komunikasi tak lantas menjadi kendala, mengingat hampir 70% penduduk negeri kincir angin ini menguasai bahasa Inggris dengan baik. Ini menjadikan Belanda negara yang relatif lebih ‘ramah’ bagi siswa pendatang, jika dibandingkan dengan negara tetangganya seperti Jerman, Perancis, Italia, atau Belgia. Ditambah lagi, diploma yang dikeluarkan institusi pendidikan di Belanda telah diakui secara internasional.
Paparan yang intens terhadap individu-individu dari latar belakang bangsa, budaya, bahasa, dan kepercayaan yang berbeda inilah yang sesungguhnya menyiapkan kita menghadapi keragaman dunia dan melatih diri untuk mempraktekkan toleransi. Bukan toleransi basa-basi; tetapi toleransi sungguhan berbungkus empati—yang hanya bisa dicapai dengan interaksi untuk mencoba mengerti.
Saya pun membayangkan diri memandang ke luar jendela dari kotak berukuran 18 meter persegi di De Uithof Utrecht; Spacebox®-nya Mart de Jong—konsep rumah murah dan fleksibel yang membuat segalanya terasa lucu dan imut-imut.
Mendamparkan diri di sekitar Oudegracht, saya akan menyusuri kanal tua itu perlahan pada suatu siang hari yang cerah di pertengahan tahun. Seraya menikmati drop (permen akar manis) dan mengayun-ayunkan setangkai tulip di tangan kanan, saya akan melangkah ringan dan berbincang dengan ‘Antonia-Antonia’ yang saya temui dalam perjalanan, mencoba untuk saling memahami.
Di atas kepala-kepala kami yang berdekatan, gesekan dedaunan membawa suara Anita Doth menyanyikan Spread Your Love:
Love is the key, set yourself free
So won’t you listen to me, when I say, when I say
Spread your love all over the world now
All over the world! Yeah!
Di kejauhan, angin musim panas bertiup memutar kincir.
————————–
Gambar diambil dari:
http://i17.ebayimg.com/06/i/001/32/3a/ac2b_1.JPG
:: bangkok’s minutes (7)
Posted: April 8, 2009 Filed under: Thailand, Travel | Tags: bangkok, bangkok's minutes, belanja, berbeda, fashion, jalan kaki, john mayer, MBK, Siam Paragon, siam square soi 5, som tam nua, Thai cuisine, Thai Iced Tea, trotoar, waria 13 Comments »~ Sabtu, 14 Maret 2009. Menikmati Bangkok hingga senja hari ~
D,
Menyantap sayap ayam goreng ala Thai ditemani salad mangga dan tom yam, juga segelas Thai Iced Tea (“with milk!”), inilah yang terlintas dalam benak saya: saya tidak pernah tahu apakah kamu menyukai Thai cuisine.
Di Som Tam Nua, restoran sederhana bertingkat dua di Siam Square Soi 5 yang dikenal akan kelezatan dan keontetikan masakan Thai-nya, saya pun menyadari bahwa ada begitu banyak hal tentangmu yang tidak saya ketahui (menu sarapan favoritmu, merk jam tangan yang kamu pakai saat ini, ukuran sepatumu, pukul berapa kamu tidur malam tadi, dan apa yang kamu pikirkan tentang semua ini—menit-menit yang berlalu ini…)

Kebanyakan pelayan di sini adalah waria, D. Dan di Bangkok pemandangan akan mereka memang menjadi hal yang biasa. Sungguh menyenangkan melihat mereka bisa bekerja dengan nyaman di berbagai restoran, hotel, pusat informasi, sampai menunggui toko-toko dan konter perhiasan. Tidak ada telunjuk yang menuduh atau cibiran yang menghina, karena ini adalah kota di mana kita semua adalah manusia. Betapa menyenangkan ketika menjadi berbeda merupakan hal yang biasa.
Selepas makan siang saya berjalan menyusuri trotoar, D, menuju pusat-pusat perbelanjaan yang terletak tak jauh dari sana. Saya lebih tertarik melebur dengan ratusan manusia di MBK (jelmaan Tanah Abang di Bangkok) daripada menyusuri lantai mengilat Siam Paragon. Karena bukankah semua mall sama saja? Mereka menancapkan kultur yang sama di setiap kota di bawah pancangan betonnya.
Menyenangkan, D. Berjalan kaki di siang menjelang sore, sekitar pukul setengah tiga, dengan sandal jepit, kaos putih, dan celana pendek, siap untuk menawar dengan bahasa universal; bergerak cepat untuk merebut baju serta sepatu paling lucu yang berharga luar biasa miring. Strateginya adalah berjalan lurus di satu lorong dan memindai cepat benda-benda yang menarik hati, kemudian menentukan pilihan, berbalik menuju konter-konter yang terpilih, dan melakukan tawar-menawar. Transaksi selesai. Kantong belanja di tangan. Lorong selanjutnya menanti.
Senja semakin turun, dan dengan kantong-kantong belanjaan di tangan saya berlari keluar, menyambut trotoar yang disesaki pemuda-pemudi Bangkok. Gaya mereka berpakaian begitu berkarakter; tidak seragam seperti anak-anak muda di Jakarta. Trend diadopsi tanpa meninggalkan preferensi pribadi. Mereka bukan sekawanan beo yang membuka halaman majalah; kemudian memutuskan untuk menjadi imitasi modelnya.
Menyenangkan, D. Menghibur mata. Dan tak ada orang bermulut atau bermata lancang yang mengganggu hak pribadimu, seminim apa pun celana pendek yang kau kenakan. Kamu tahu kan, saya sangat menikmati berjalan di trotoar? Jadi ini adalah surga kecil, D! Trotoar yang bisa kau gunakan untuk berlari, dengan tas-tas belanjaan berkibar di tangan kanan dan kiri. Tinggal tambahkan kawanan merpati yang mengepakkan sayap dengan berisik dan membubarkan diri dengan beterbangan ke angkasa ketika saya lewat—dan semua ini akan nampak seperti adegan klasik di film-film Amerika berlatar kota New York.
Kapan-kapan, saya akan mengajakmu berjalan menyusuri trotoar, D. Dengan es krim di tangan dan iPod yang menyenandungkan lagu-lagu John Mayer dalam volume maksimum, kita akan membungkam para pengendara mobil itu, yang meracuni udara dengan melacurkan klakson mereka demi menyakiti telinga.
duay khwaam rak lae khit theung kha*,
H.
—————–
Thai for “with love, and missing you”
:: bangkok’s minutes (5)
Posted: April 1, 2009 Filed under: Thailand, Travel | Tags: bangkok, bangkok's minutes, cinta, prosa, reclining buddha, wat pho 15 Comments »~ Sabtu, 14 Maret 2009. Wat Pho.~
stalker |ˈstôkər| noun a person who stealthily hunts or pursues an animal or another person. • a person who harasses or persecutes someone with unwanted and obsessive attention.
Melepaskan sandal jepit saya ketika hendak memasuki Wat Pho (วัดโพธิ์)—The Temple of the Reclining Buddha, saya teringat pada suatu hari ketika kita bercakap-cakap melalui jendela itu. Ketika saya berkisah kepadamu tentang sepenggal masa lalu yang singkat dan menyakitkan.
Kemudian kamu bertanya apakah saya baik-baik saja. Dan sebelum saya menjawab, kamu berkata,”Stupid question, of course you’re not alright…”

Ah, D. Di dalam salah satu kuil terbesar dan tertua di Bangkok dengan luas 80 ribu meter persegi ini, di mana patung emas Sang Buddha (yang dibangun sebagai bagian dari restorasi Rama III) terbaring sepanjang 46 meter dengan tingggi 15 meter, saya malah mengagumi kenyataan bahwa ternyata kamu begitu mengenal saya—jauh lebih baik dari siapapun juga (bahkan mungkin lebih baik dari diri saya sendiri).
Ada ketenteraman kecil berdencing-dencing dalam hati saya, selagi saya memasukkan koin-koin logam ke dalam ‘periuk-periuk’ kecil yang berjajar di sepanjang dinding kuil: you do know me. Kamu adalah satu-satunya orang yang membuat saya tak perlu bersandiwara atau berpura-pura. Kamu begitu membebaskan, D.

Berbincang denganmu meninggalkan sensasi melegakan seperti usai melewati satu sesi Thai massage (dan tahukah kamu bahwa metode pijat Thai yang terkenal itu, yang banyak kemiripannya dengan gerakan-gerakan yoga, lahir dari kuil ini?).
I am not a drama queen, and my sadness is not for public consumption.
Kamu selalu tahu, bahwa ketika saya terluka, saya tetap tersenyum. It just happened that I smiled a different kind of smile. Dan hanya kamulah satu-satunya yang bisa mengenali perbedaannya.
duay khwaam rak lae khit theung kha*,
H.
—————–
Thai for “with love, and missing you”













