:: bangkok’s minutes (4)

~ Sabtu, 14 Maret 2009. Wat Arun. You’re my temple, I’m the worshiper.~

Ada pagi yang merona dalam sepiring telur orak-arik dan segelas jus jeruk. Juga asam selai stroberi di atas roti gandum yang cuma dipanggang sebentar.

Selamat pagi, D!

Dan selamat pagi juga kepada kotak-kotak makanan Cina di dalam kulkas yang tersisa dari malam sebelumnya! [Apakah kamu tengah memanaskannya di dalam microwave?]

Bangkok di pagi hari seperti kamu yang menggeliat ketika penat. Seulas mendung membuat segalanya sempurna. Dari balik jendela, saya melihat imitasi Jakarta yang lebih ramah; tanpa tumpukan sampah.

Morning in Bangkok

Berjalan kaki dengan sandal jepit dan kain batik melilit di pinggang, saya mengagumi Wat Arun (วัดอรุณ) yang menjulang hingga ketinggian 104 meter. Aruna, nama suci dewa Hindu untuk “subuh” (padahal Wat Arun adalah kuil bagi umat Budha)—menjelma dalam prang atau pagoda bergaya Khmer yang dilapisi kulit kerang dan porselen bernuansa Cina.

Wat Arun

picture-24

Saya memanjat naik, melewati tangga-tangga curam yang sempit, berhenti sebentar ketika angin kencang meniup kain batik saya ke atas (and my mind went to you, Norma Jean!), memandangi sungai Chao Praya di bawah sana, dan seorang turis Kaukasia menawarkan diri untuk memotretkan saya dengan latar belakang pemandangan itu.

D, saya berharap suatu hari nanti seseorang akan menciptakan kamera yang bisa menangkap gambaran dalam benak kita; sehingga akan ada kamu juga di sana, tercetak dalam hasil akhirnya, dan saya tidak sendiri. Bahwa pada akhirnya, kita akan berdiri bersisian dalam satu frame yang sama.

picture-32

Ada sebuah Sabtu pagi yang jauh, ketika kita terdampar di sini. Saya dengan buku catatan dan pensil—duduk di sisi anak tangga di ketinggian, menahan halaman-halaman yang beterbangan, bercakap dengan imaji. Dan kamu—dengan kamera semi SLR-mu itu, menangkap semua yang indah menurutmu. Angin kencang itu membuatmu mengurungkan niat untuk naik lebih tinggi lagi.

I can no longer see you from up there. It’s a bit scary, you know,” katamu seraya menjatuhkan diri dua anak tangga lebih rendah dari saya.

Nice try. You’re just afraid of heights,” saya tertawa. “Ayo, kita pergi dari sini. Saya haus.”

picture-52

Kita pun berjalan menuruni kuil dengan langkah-langkah ringan sambil bernyanyi,

In the wee small hours of the morning
While the whole wide world is fast asleep
You lie awake and think about the boy
And never ever think of counting sheep

When your lonely heart has learned its lesson
You’d be his if only he’d call
In the wee small hours of the morning
That’s the time you miss him most of all

Di luar, orang-orang lalu-lalang. Seorang perempuan Thai menawarkan diri untuk memotretkan kita dalam balutan busana tradisional; tetapi kamu berkata, “Mai ow khrab“, kemudian kita berlari menuju gerobak pedagang kelapa muda, dan dengan 20 baht saja, beberapa detik kemudian kita telah menyesap air kelapa muda segar dari batoknya dengan dua buah sedotan berwarna merah jambu norak, lalu tersenyum kepada satu sama lain dan berkata,”Gee, what a life!”

duay khwaam rak lae khit theung kha*,
H.
—————–
*Thai for “with love, and missing you”

Leave your traces here. I want to hear :)