:: bangkok’s minutes (3)

~ Jumat, 13 Maret 2009. Menghabiskan malam di Bangkok.~

D,

Terjepit di dalam taksi bersama serombongan teman, saya masih bisa memandangi Bangkok di waktu malam. Semua ini mengingatkan saya pada Jakarta di malam hari, dengan billboard yang menyala dalam gelap, menampilkan aksara Thai yang tidak saya mengerti (dan saya bertanya-tanya, langit macam apa yang tengah kau pandangi detik ini?).

Inilah sebuah dunia yang sama sekali lain, D. Sebuah planet kecil di Asia Tenggara berjarak 3.5 jam lintas udara saja, tempat kau bisa merasa sangat sendiri. Sangat satu-satunya. Kau bisa melupakan kemungkinan untuk berkomunikasi secara lancar dengan para pengemudi taksi di sini. Mereka pun kesulitan membaca petunjuk alamat dalam aksara Latin.

Tetapi bukankah ini justru menjelma sejenis surga pengasingan yang selalu kita cari, D? Dan bukankah saya selalu jatuh cinta pada film Lost in Translation?

Saya hanya singgah sebentar untuk meletakkan koper dan menyegarkan diri sebelum meninggalkan Hotel Heritage, tak jauh dari stasiun Chong Nonsi, di 193 Soi Narathivas Road. Tak lama kemudian, saya sudah memandang ke luar jendela dari van yang membawa saya menuju Suan Lum Night Bazaar di Lumpini; menikmati makan malam di Naatayasala Terrace, restoran yang terletak di teras teater boneka Joe Louis (I hate human-looking puppets; give me the creeps).

Kamu akan menyukai tempat ini, D. Dengan kaos oblong, sandal jepit, dan bir Singha di tangan, kamu akan menyerupai penduduk lokal. Takkan ada yang menyangka bahwa kau seorang turis, hingga mereka melihatmu sibuk mengambil gambar dengan kamera SLR-mu itu dan berbicara dalam bahasa asing.

Mendekati tengah malam, saya dan rombongan kawan beranjak menuju Khao San Road yang dipenuhi pub dan emperan pinggir jalan. Dan tiba-tiba saja saya merasa tengah berada dalam salah satu adegan film The Beach.

Khao San Rd.

Di segala arah, kamu bisa melihat berbagai jenis manusia dari berbagai ras, dengan berbagai gaya, dan berbicara dalam berbagai bahasa, tergeletak begitu saja di sepanjang trotoar sambil menyesap cocktail beramai-ramai dari ember-ember plastik yang diberi sedotan.

Ini adalah Kuta, adalah Legian minus kemewahannya.

Ini adalah dunia orang-orang yang cuma diberi kesempatan untuk hidup sehari. An escape mungkin tidak selamanya berarti melarikan diri, tetapi kebebasan semacam ini memang seperti candu, kan, D? Apakah hidup-untuk-hari-ini cuma boleh dikecap sesekali?

Mungkin itulah sebabnya film The Beach berakhir dengan semua orang meninggalkan ‘the hidden paradise-island‘ di sekitaran Koh Samui dan kembali ke kehidupan masing-masing. Karakter Richard yang diperankan Leonardo di Caprio dalam film itu pernah berkata:

And me, I still believe in paradise. But now at least I know it’s not
some place you can look for, ’cause it’s not where you go. It’s how you
feel for a moment in your life when you’re a part of something, and if
you find that moment… it lasts forever…”

Marcel memang bukan penyanyi pria favorit saya, tetapi ia juga mengutarakan hal yang nyaris sama lewat lagu Heaven is Not-nya:

Heaven is not, is not a promised land. Heaven is not, is not where you stay. It’s when I hold your hand.

Dan coba dengarkan percakapan antara karakter Thom dan Nick dalam film Nick and Norah’s Infinite Playlist berikut ini:

Thom:You just haven’t figured it out yet, have you.
Nick:What?
Thom: …The big picture!
Nick: I guess not.
Thom: The Beatles.
Nick:What about them?
Thom:This.
[grabs Nick’s hand]
Thom: Look, other bands, they want to make it about sex or pain, but you know, The Beatles, they had it all figured out, okay? “I Want to Hold Your Hand.” The first single. It’s effing brilliant, right?… That’s what everybody wants, Nicky. They don’t want a twenty-four-hour humpsesh, they don’t want to be married to you for a hundred years. They just want to hold your hand.

Menurutmu Heaven is Not-nya Marcel juga terinspirasi oleh I Want to Hold Your Hand-nya Beatles, D?

Ah, sudah dini hari. Mengapa berbincang denganmu selalu membuat saya lupa waktu? Tetapi seluruh waktu di dunia memang tidak akan pernah cukup untuk dihabiskan bersamamu.

duay khwaam rak lae khit theung kha*,
H.
—————–
*Thai for “with love, and missing you”

Image courtesy of Waraney Rawung.

Leave your traces here. I want to hear :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.