:: liburan gila di singapura (4. jadi turis sehari)

Siang itu, kami menuju restoran Palm Beach Seafood di One Fullerton Road, yang terletak persis berdampingan dengan Merlion—patung singa dengan air yang memancar keluar dari mulutnya. Iya, Merlion. Monas-nya Singapura. Ada orang yang bilang, belum sah rasanya ke Singapura jika belum ke Orchard dan belum mengambil foto-foto di Merlion.

Di Palm Beach Seafood, kami sudah ditunggu oleh staff STB, Kendra Wong–yang masih seusia juga dengan kami. Udara siang itu agak mendung, angin bertiup pelan, dan cuacanya memang sangat menyenangkan untuk menyantap seafood di luar. Iya, meja kami terletak di luar, di bawah tenda putih, menghadap langsung ke Singapore River yang bersih.

picture-3

Dengan ramah, Kendra langsung mengajak kami mengobrol. Karena sikapnya yang bersahabat, maka kami (yang sudah melirik Merlion sejak awal) pun tak malu-malu berkata,”Kendra, sambil nunggu makanan, kita mau foto-foto di Merlion dulu, ya?”

Kendra langsung mengiyakan. Maka kami pun berlari menuju patung Merlion, bersenjatakan kamera di tangan. Menjadi turis sehari, kami pun langsung asyik mengambil pose di depan patung Merlion dengan gaya andalan masing-masing—sampai akhirnya kami menyadari bahwa makanan kami telah siap terhidang di atas meja.

picture-2

Saat itu memang sudah sekitar pukul setengah dua siang, maka kami pun segera menyantap berbagai hidangan yang tersedia. Chika sudah memberikan laporan lengkapnya di sini. Yang jelas, semua hidangan yang berbaris rapi itu tak lepas dari jepretan kamera sebelum disantap.

“Sorry, Kendra. This is for our blog!” kami terkekeh, karena Kendra terpaksa menunggu beberapa saat sebelum bisa mencicipi makanan yang ada, berhubung kami masih sibuk memotret.

Tetapi hidangan yang paling menakjubkan di Palm Beach Seafood memang tak lain dan tak bukan: Chilli Crab-nya—yang besar dan gurih, dan lezat, dan sangat spicy. Meskipun awalnya kami masih berusaha sopan dengan menggunakan berbagai peralatan penakluk kepiting, tetapi ketika Kendra juga berkata,”Just use our hands!”—kami pun langsung menyerbu si kepiting dengan barbar.

Kepiting yang luar biasa besar itu pun tandas dalam waktu singkat. Dan Dimas adalah orang yang berhasil menghabiskan potongan kepiting terakhir, sambil disemangati oleh boneka kepiting Palm Beach, Kendra, dan kami semua. Bahkan Kendra sempat mengambil foto-foto Dimas ketika tengah menyantap kepiting.

picture-8

“Let me take the pictures, I got a better angle from here!” kata Kendra sambil tertawa. Ah, rupanya Kendra sudah tertular dengan kebiasaan kami!

๐Ÿ™‚

Begitu selesai makan siang, kami pun kembali mengajak Kendra untuk berfoto bersama kami di depan Merlion.

picture-9

Pada saat inilah, Mr. Basir, tour guide kami, mengatakan bahwa ada satu spot tertentu jika Dimas hendak berpose tengah buang air kecil. Dimas pun diminta berdiri di dekat sebuah tangga, beberapa meter jauhnya dari Merlion.

Benar juga! Setelah dibidik melalui lensa kamera, posisi Dimas memang sangat tepat—seakan-akan ia tengah buang air kecil. Kemudian dimulailah salah satu pose foto gila, di mana saya berpura-pura ‘kehujanan’. Beberapa turis yang lewat rupanya agak heran dengan pose aneh saya dan Dimas, kemudian mereka mencoba membidik kami lewat lensa kamera masing-masing. Rupanya saat itulah mereka sadar apa yang sebenarnya tengah coba kami lakukan, dan mereka pun tertawa terbahak-bahak, lalu ikut memotret.

picture-10

Selepas makan siang, kami pun berjalan-jalan berkeliling kota Singapura dengan bis. Kami juga sempat mampir di kompleks Singapore Flyer, yang juga dipenuhi dengan toko-toko kecil yang menjual beragam suvenir. Sayang memang, kami tidak bisa menaiki bianglala Singapore Flyer yang terkenal itu dan memandang kota Singapura dari ketinggian—karena waktu putarannya cukup lama (setengah jam), sedangkan jadwal kami pada hari itu cukup padat.

picture-11

Hujan gerimis turun di Singapura, lalu berubah menjadi hujan lebat begitu kami mencapai Clarke Quay. Kompleks yang dipenuhi dengan toko-toko, restoran, kafe, dan perkantoran itu terletak di tepian Singapore River. Dan kami menuju tempat ini untuk menaiki Bum Boat Ride, perahu kayu yang disewakan untuk para turis sehingga mereka dapat mengarungi Singapore River dan melihat-lihat pemandangan kota yang terhampar di sepanjang tepiannya.

Hujan tak menghalangi kami untuk bersenang-senang dan menikmati kota Singapura dari atas perahu dengan jendela terbuka yang mengalun pelan di atas Singapore River–melewati Boat Quay, Clarke Quay, Esplanade, dan Merlion Park. Saya pun membayangkan betapa menyenangkannya jika Jakarta memiliki sungai yang bersih dan bisa diarungi seperti ini, di mana kita bisa melihat pemandangan kota tanpa harus menutup hidung karena bau sampah yang menusuk.

Ketika hujan sudah sedikit mereda, kami pun menuju geladak belakang dan berfoto-foto di udara terbuka, dilatari gedung-gedung yang kami lewati sepanjang sungai.

picture-121

picture-13

Hujan kembali turun ketika perahu kami kembali merapat di Clarke Quay. Meski tidak membawa payung, kami merasa nyaman-nyaman saja berjalan di bawah guyuran hujan menuju ke bis. Baru saya sadari betapa nyamannya kota Singapura ini di kala hujan. Ya, tidak ada debu dan asap dan polusi yang membuat air hujan terasa ‘kotor’. Tidak ada pula genangan air penuh tanah, becek, atau luapan sampah berbau busuk yang tumpah-ruah dari dalam selokan ke atas trotoar.

Saya, si pecinta hujan ini pun, menengadahkan kepala ke langit dan menikmati curahan hujan seraya berjalan kaki dengan ringan dan penuh suka-cita.

Dari Clarke Quay, kami menuju Chinatown—singgah di hotel kami tercinta untuk mandi dan menyegarkan diri. Sebagai pemenang kontes, saya ternyata mendapatkan satu kamar untuk sendiri, di kamar 204. Hal pertama yang saya lakukan begitu tiba di kamar adalah: foto-foto! Ya, saya mengagumi kamar saya yang cantik dan sangat tidak biasa. Bagaimana tidak? Ranjang yang besar dengan kombinasi warna coklat dan biru muda, juga wastafel yang terletak di luar (bukan di dalam kamar mandi).

picture-4

picture-5

picture-6

Begitu selesai mengambil foto-foto, saya pun bergegas mandi dan berganti pakaian. Kami hanya diberikan waktu sekitar 40 menit untuk menyegarkan diri, karena harus menempuh perjalanan yang cukup jauh menuju lokasi makan malam di Ulu Ulu Safari Night Park. Saat itu sudah pukul setengah 7 malam—sedangkan kami masih harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam lagi untuk sampai ke Mandai Lake Road, lokasi di mana taman safari malam itu terletak.

Malam itulah (pukul setengah 7 masih cukup terang di Singapura, seperti pukul 5 sore), Chika dan Nia turun agak terlambat ke lobi. Pasalnya? Chika ternyata benar-benar sakaw bandwidth karena tak sempat online seharian, dan sempat mimisan.

“Wah, kalau di film-film Jepang, biasanya cowok mimisan kalau melihat cewek cantik,” saya menyeletuk.

Dan tiba-tiba Chika menjawab,”Iya, tadi gue terlalu lama memandangi cermin…”

Perlu waktu beberapa lama bagi seluruh anggota rombongan untuk menyadari perkataan Chika tadi, sebelum kami semua shock dan berseru: “IYUUUUHHH!”

๐Ÿ˜€

Dalam perjalanan menuju Ulu Ulu Safari Night Park, kami sempat beristirahat dan tidur-tidur ayam sejenak. Jalanan macet. Rupanya beginilah kondisi jalanan di Singapura setiap Jumat malam. Sama seperti di Jakarta. Jalanan tiba-tiba saja padat.

Akhirnya kami sampai di tujuan sekitar pukul 8 malam, dan langsung menyantap hidangan buffet yang tersedia. Saya ingat berhasil menghabiskan entah berapa potong gurita di meja sushi—yang teramat lezat. Belum lagi es krim vanilla yang tersedia di meja sebelahnya, 3 scoop es krim tersebut langsung berpindah dari wadahnya ke mangkuk saya, lalu ke perut saya. Nyam!

picture-14

Sekitar pukul setengah sepuluh malam, kami pun keluar dari restoran Ulu Ulu dan hendak memulai petualangan safari malam kami di Night Zoo. Sebelumnya, saya pergi ke toilet terlebih dahulu—yang dikelilingi daun-daun di sekelilingnya, sehingga memberi kesan bahwa toilet ini berada di alam terbuka.

Begitu masuk ke bilik toilet, saya terlonjak kaget karena tiba-tiba terdengar suara auman singa. Jantung saya berdegup kencang, apakah saya mendengar suara-suara yang tidak ada? Ataukah itu tadi benar-benar auman singa? Sedekat itukah kandang singa dengan toilet?!!

Tak lama kemudian, saya kembali mendengar auman yang lebih keras. Disusul bunyi ‘terompet’ gajah. Suara monyet-monyet yang nyaring. Menatap ke langit-langit, saya baru sadar bahwa semua itu bunyi-bunyian binatang dari speaker yang sengaja disetel di dalam toilet.

Uh. Menakut-nakuti saja! ๐Ÿ™‚

Night Safari sendiri menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Kami naik ke sebuah trem, yang sisi-sisinya terbuka, seperti mobil golf panjang. Trem ini berjalan di sebuah rel, mengelilingi lokasi Night Safari. Sungguh, rasanya seperti berada di dalam film Jurassic Park!

Awalnya, kami agak takut-takut untuk duduk di pinggir, ya, karena memang tidak ada pintu yang membatasi kami dari jalanan yang kami lewati. Bagaimana jika tiba-tiba saja ada macan yang iseng hendak menjengukkan kepala ke dalam trem kami?

Namun kegelisahan kami ternyata tak beralasan. Bodohnya! Hehehe, tentu saja pengelola Night Safari sudah memperhitungkan faktor keamanan. Meskipun hewan-hewan buas nampaknya berada di tempat terbuka, sesungguhnya mereka dikelilingi pagar yang ‘tidak kelihatan’. Ya, karena pagar ini letaknya lebih rendah, dan ditutupi dengan tanaman rambat—sehingga nampak seperti semak-semak belaka.

Hewan-hewan buas berada di bebatuan yang lebih tinggi dari pagar pembatas, sehingga kelihatannya mereka bisa sewaktu-waktuย  melompat keluar. Padahal, jika dilihat lebih jeli, terdapat jarak antara bebatuan tinggi dengan pagar pembatas, sehingga tercipta sebuah ceruk curam di antaranya, yang menghalangi hewan dari dalam melompat keluar.

Tetapi efek yang ditimbulkan memang luar biasa. Kami benar-benar merasa seperti tengah berada di dalam hutan tropis. Saya berikan pujian luar biasa kepada siapapun yang telah merancang keseluruhan konsep dan lansekap Night Safari ini!!! Keren! Inilah pengalaman paling mengesankan saya di Singapura. Sayang kami tidak bisa mengambil foto-foto yang bagus di atas trem, karena kami dilarang untuk memotret menggunakan lampu kilat (blitz). Hal ini dikarenakan hewan-hewan tersebut sangat peka terhadap cahaya.

Setelah berkeliling dengan trem dan melihat hewan-hewan eksotis mulai dari landak, hyena, babi rusa, hingga antelope, kami pun turun dan memilih untuk berkeliling dengan berjalan kaki. Ya, di Night Safari tersedia juga walking trail, di mana kita bisa menyusuri kandang-kandang hewan dari sisi sebaliknya—dan di sini kita melihat hewan-hewan tersebut dari balik dinding kaca. Meskipun demikian di sekitar kita tetaplah lansekap terbuka dengan pohon-pohon besar. Langit malam yang dipenuhi bintang dan suara-suara alam membuat suasana menjadi lebih… romantis!

Oh ya, meski kami sangat terkesan dengan Night Safari, Mr. Basir—tour guide kami yang funky itu, ternyata lebih terkesan dengan Taman Safari kita. Mengapa? Ternyata karena di Taman Safari Indonesia, ia bisa berfoto dengan harimau putih yang bersandar di pangkuannya. “Di Indonesia hebat, bisa ada pawangnya, binatang buas pun bisa diajak berfoto bersama pengunjung. Kalau di Singapura sini, tidak ada pawang semacam itu,” katanya.

Wah, bangga juga kita sebagai orang Indonesia, ya! Hidup pawang! ๐Ÿ™‚ (bukan cuma pawang binatang buas, di sini sih pawang hujan juga ada, ya?)

Sudah hampir pukul setengah sebelas malam ketika kami kembali ke bis dan berkendara menuju Chinatown untuk kembali ke hotel. Ah, sebelumnya, kami mampir dulu di 7-Eleven, yang jaraknya hanya beberapa langkah saja dari The Scarlet Hotel. Untuk apa? Membeli kartu telepon!

7-Eleven ini ramai sekali dikunjungi para pembeli, meski saat itu sudah hampir pukul setengah dua belas malam. Rupanya, di sekitar Chinatown, terdapat area Club Street yang penuh dengan klub dan kafe-kafe, yang ramai hingga dini hari. Jelas saja 7-Eleven ini selalu saja penuh dengan pembeli, sehingga kami pun harus menunggu cukup lama selagi si empunya toko mendaftarkan nomor GSM kami yang baru sambil mencocokkan data-data dengan paspor.

Menunggu hampir sekitar satu jam, kami pun sudah berbelanja berbagai minuman dan cokelat, lalu melihat-lihat mesin-mesin penjual camilan otomatis di sana. Untuk mengusir bosan, Hawe dan Chika pun sepakat untuk membeli mashed potato dari mesin otomatis. Dengan memasukkan uang 1 dolar, kita bisa mendapatkan mashed potato dengan saos barbecue. Di sinilah saya menyerahkan uang logam 1 dolar kepada Hawe, hasil kalah taruhan karena Hawe berhasil menemukan lokasi The Scarlet di peta.

picture-161

Kembali bosan setelah mencoba mesin camilan otomatis, kami pun mengambil foto ‘anak tiri’. Kebetulan, di dekat pintu masuk 7-Eleven ada sebatang sapu menganggur. Saya pun mengambil sapu itu dan ‘menyapu’ Dimas yang duduk di anak tangga.

picture-15

Setelah puas berfoto, tiba-tiba kami tertegun. Speaker di 7-Eleven melantunkan sebuah lagu yang tidak asing! Lho, ya ampun, itu kan lagu ST12! Saya sendiri tidak hafal apa judul lagunya, tetapi kami dengan bersemangat tertawa-tawa dan berkata,”Ya ampun, lagu ST12 diputar di Singapura!”

Lewat tengah malam, setelah mendapatkan kartu GSM Singapura, kami kembali ke hotel. Bukannya langsung menuju kamar masing-masing, kami berkumpul di kamar para lelaki, Dimas dan Hawe, yang memang terletak di lantai dasar. Untuk apa? Apalagi kalau bukan untuk online, mengecek Facebook, milis, dan Plurk, lalu… foto-foto?

picture-171

picture-181

picture-191

picture-20

Agak sulit dipercaya bahwa kami memang terus berfoto di kamar sambil tertawa-tawa histeris hingga pukul 2 dini hari, sebelum akhirnya menuju kamar masing-masing untuk tidur. Masih akan ada hari baru menunggu. Besok. Hari Sabtu.

Leave your traces here. I want to hear :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.