:: liburan gila di singapura (2. tragedi dan hantu fiskal)

Dengan tiket dan jadwal perjalanan ke Singapura di tangan (walau masih tak percaya karena menang kontes), saya pun melingkari tanggal di kalender. Ya, tanggal 6-8 Februari, saya akan berada di Singapura bersama kawan-kawan saya untuk menikmati liburan gila kami.

picture-12

Pesawat yang kami tumpangi adalah Sriwijaya Air, yang akan berangkat pukul 9:20. Maka kami sudah bersiap-siap untuk bertemu di bandara sekitar pukul 7 pagi. Oh ya, penerbangan Sriwijaya Air dengan rute Jakarta-Singapura ini sudah dibuka pada Desember lalu. Harganya? Kalau tidak salah sekitar US$150-160, sudah termasuk pajak.

Pagi itu, sekitar pukul setengah 7, saya sudah tiba di bandara dan langsung mencari Dimas di KFC. Dimas sudah duduk manis di sana dengan latop terbuka di atas meja. Rupanya Dimas sudah berada di sana sejak pukul setengah 6 pagi, dan sudah menghabiskan sarapan KFC-nya. Tak lama kemudian, Hawe datang dengan wajah sedikit tegang.

Ya, bukannya apa-apa, beberapa hari sebelum keberangkatan, baik Dimas maupun Hawe memang sudah berniat mengurus NPWP alias Nomor Pokok Wajib Pajak. Karena mulai tahun 2009, bagi mereka yang telah memiliki NPWP akan dibebaskan dari kewajiban membayar fiskal jika hendak pergi ke luar negeri. Dulu biaya fiskal ini adalah 1 juta rupiah, namun kini bagi yang tak memiliki NPWP, biayanya memuncak menjadi 2.5 juta rupiah.

Malam sebelumnya, Hawe sudah ketar-ketir, karena mendengar isu bahwa hanya mereka yang sudah mengurus NPWP sebulan sebelum tanggal keberangkatan-lah yang bisa dibebaskan dari kewajiban membayar fiskal. Dimas pun nampaknya sudah mendengar desas-desus serupa, sehingga kedua lelaki itu sempat nampak gundah. Yah, 2.5 juta rupiah memang bukan jumlah yang sedikit.

“Tapi tak apalah, hitung-hitung biaya liburan,” ujar Hawe, walau saya tahu ia tetap tidak rela ๐Ÿ˜€

Sambil menunggu kedatangan Chika dan Nia, kami pun melihat-lihat buku panduan yang diberikan oleh Singapore Tourism Board (STB). Di bagian belakangnya terdapat peta Singapura.

“Ayo, cari hotel kita! Apa namanya? The Scarlet, ya? Di Erskine Road?” ujar saya sembari mulai menelusuri garis-garis berwarna-warni di atas peta. Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Nyaris setengah jam berlalu, dan The Scarlet masih belum bisa ditemui di atas peta.

“Kok nggak ada, ya?” Hawe merutuk.

“Mungkin ini peta tahun berapa, gitu…” ujar Dimas yang masih sibuk dengan laptopnya.

Saya pun menyerah, menutup peta, kemudian menantang Hawe. “Ayo, kalo lo bisa nemuin hotel kita itu, gue kasih 1 dolar!”

“Bener, ya?” Hawe pun membuka kembali petanya dan menelusuri garis-garisnya selama sekitar… 10 detik, sebelum berkata,”Nah, ini dia The Scarlet!”

Oh, selamat tinggal, 1 dolar ๐Ÿ™

Sekitar pukul 7:15, Chika menampakkan batang hidungnya. Maka rombongan kami pun lengkap, kecuali Nia. Saya pun mengirimkan SMS kepadanya, bertanya (untuk yang ketiga kalinya), sudah berada di manakah dia saat itu. SMS balasan yang saya terima mengerikan: “Udah, deh. Jangan ngerecokin gue dulu. Kalo telat gue ditinggal aja. Ini gue lagi menuju ke bandara, tapi taksi gue gila. Nanti gue cerita.”

Hiii. Dan saya pun berhenti mengirim SMS dan bertanya di mana Nia berada ๐Ÿ˜€

Ternyata, ada kisah mengerikan, mengharukan, sekaligus menggelikan dari tragedi perjalanan Nia menuju bandara pagi itu. Seperti apa ceritanya? Ah, saya pikir lebih baik Nia saja yang bercerita di blog sebelah.

Maka, saya, Chika, Dimas, dan Hawe pun sepakat untuk check-in duluan dan (sesuai perintah) tidak menunggu hingga Nia datang. Setelah mengecek tiket, dengan berdebar, kami pun berjalan menuju pos pengurusan fiskal, dan mengumpulkan keempat kartu NPWP kami untuk diserahkan kepada petugas.

Dimas dan Hawe sudah harap-harap cemas. Mereka sudah menyiapkan berbagai skenario jawaban jika ditanya perihal kartu NPWP mereka yang belum ada satu bulan. Mulai dari “tidak tahu” sampai “tidak membawa uang”. Kartu-kartu NPWP dan paspor kami kini sudah berada di tangan petugas. Semenit. Dua menit.

Tidak sampai lima menit kemudian, petugas menyerahkan SEMUA kartu dan paspor kepada kami, disertai cap bebas fiskal. Sudah. Selesai. Pengurusan fiskal selesai. Tanpa ada pertanyaan, pemeriksaan, atau keharusan mengisi formulir. Mudah, cepat, dan singkat.

Berjingkat-jingkat beberapa langkah dari pos pembayaran fiskal, barulah kami berteriak lega sambil tertawa-tawa. “Udah? Gitu doang? Bebas fiskal?”

Tapi Hawe masih enggan bersenang-senang. “Ini belum. Mungkin nanti masih bisa dikejar di imigrasi, siapa tahu mereka baru nge-cek, kartu yang ini belum satu bulan. Lalu diberhentikan di imigrasi. Jangan senang dulu.”

Dimas yang sudah tersenyum-senyum pun kembali tegang ketika kami berjalan menuju pos imigrasi.

Di bagian imigrasi, kami pun duduk-duduk di lantai sambil mengisi formulir imigrasi. Tidak lupa, seraya foto-foto. Dan saat inilah Nia datang dengan wajah aneh, antara mau tertawa dan marah. Lalu ikut mendamparkan diri di lantai bandara bersama kami, dan berkisah mengenai tragedi paginya di dalam taksi. Mendengarkan cerita Nia, kami pun terbengong-bengong dan tertawa ngakak, kemudian lanjut menimpali dengan obrolan ramai.

Kira-kira 40 menit kemudian, ketika antrian di bagian imigrasi mulai surut, kami pun mengantri di sana. Petugas yang melayani kami, perempuan, yang mungkin melihat kami duduk-duduk sambil mengobrol riuh, kemudian berkata,”Nggak sekalian ngopi-ngopi aja tuh, tadi?”

“Wah, kalau bisa ngopi-ngopi sih mungkin lanjutย  ngopi, Mbak,” saya menimpali pelan sambil tertawa.

Lolos dari bagian imigrasi ini, Chika pun berbisik kepada saya,”Itu Mbak-nya sebenarnya sarkastis atau memang mau melucu, ya?”

“Ah, anggap saja memang mau melucu, Chik…” ujar saya ๐Ÿ™‚

Akhirnya kami berlima pun berjalan menuju gerbang keberangkatan, dengan Dimas dan Hawe yang masih menengok-nengok ke belakang, khawatir kalau-kalau petugas di loket fiskal masih mengejar mereka hingga ke titik keberangkatan. Paranoid, sungguh!

Begitu sudah naik ke atas pesawat, dengan jadwal keberangkatan yang tepat waktu, dan pesawat lepas landas, barulah kedua lelaki itu agak tenang. Aksi belanja-belanja pertama pun sudah terjadi di atas pesawat, bahkan sebelum kami sampai di Singapura. Adalah Dimas, yang membeli portable charger yang ditawarkan oleh Sriwijaya Air.

Meski demikian, kami tetap menakut-nakuti Dimas dan Hawe, mengatakan jangan-jangan petugas fiskal telah menunggu di Changi Airport, Singapura, untuk memberitahukan bahwa mereka tetap harus membayar fiskal karena NPWP-nya belum berumur satu bulan.

(bersambung)

Leave your traces here. I want to hear :)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.