:: namanya dita, dia…

… suka membuat pantun-pantun lucu, gemar melahap makanan pedas dan gurih, serta mendaulat Alanis Morisette sebagai penyanyi favoritnya. Cita-cita jangka pendeknya? Ingin nonton Jason Mraz dan Brian McKnight di perhelatan JavaJazz bulan Maret mendatang.

blog-dita

Ya, sekilas, Dita (atau bekennya, Nona Dita) memang terdengar seperti perempuan muda yang biasa-biasa saja. Tiap membayangkan sosok Dita, saya jadi teringat burung-burung kecil yang suka menyanyi riang pada film-film kartun macam Cinderella. Tahu, kan? Burung-burung kecil dengan suara lucu yang bernyanyi di pinggir air mancur, dan bulu matanya yang lentik berkedip-kedip? Nah, seperti itulah gambaran mental saya mengenai Dita ๐Ÿ˜€

Meski demikian, saya tidak terkejut ketika dewan juri Bloggership yang terdiri dari Microsoft Indonesia dan – the one and only – Mas Enda Nasution, menobatkan Dita sebagai penerima penghargaan Bloggership yang pertama. Di luar gayanya yang ‘biasa-biasa saja’ itu, Dita memang punya pemikiran yang matang dan sudut pandang yang menarik, terutama mengenai isu-isu edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Mungkin ini berhubungan juga dengan pekerjaannya sebagai peneliti junior di salah satu LSM di kota kesayangan saya, Bogor ๐Ÿ™‚

“Aku kaget, senang, campur cemas,” kata Dita ketika ditanya mengenai perasaannya menjadi penerima Bloggership pertama di Indonesia. “Ini kan event-nya nasional, diumuminnya aja di Pesta Blogger. Pertama kali diselenggarakan, pula. Jadi belum ada modelnya gitu. Aku takut bila kontribusiku di program ini tidak seperti yang diharapkan banyak orang.”

Saya sempat bertanya juga pada Dita, bagaimana pendapatnya mengenai perusahaan serta organisasi yang mulai tertarik menjalin kerja sama dengan para blogger. Menurut Dita, kerja sama dalam bentuk apapun, asal tujuannya baik, adalah bagus. Kerja sama semacam ini bisa menjadi simbiosis mutualisme yang sama-sama baik untuk kedua belah pihak. Perusahaan dengan sumber daya yang mereka miliki bisa membuat sebuah gagasan yang bagus menjadi konkret.

“Misalnya ada blogger/komunitas yang punya ide untuk mengadakan aksi sosial atau lebih jauh lagi, mengadakan aktivitas pemberdayaan masyarakat. Tapi, mereka nggak punya dana, minimal untuk start-up cost. Sebuah perusahaan bisa membantu untuk terlaksananya program itu. Artinya, kerja sama dengan swasta nggak melulu berarti mengkomersilkan suatu ide, tetapi bagaimana supaya ide baik nggak cuma tersebar dalam bentuk postingan saja.”

Dari ngobrol-ngobrol dengan Dita, saya berhasil mendesaknya untuk memilih 3 blog saja yang paling sering ia kunjungi. Dita kelabakan. “Soalnya jarangย  blogwalking,” katanya jujur sambil terkikik. Tapi di bawah ancaman saya, akhirnya Dita menyebutkan juga 3 blog yang paling sering dikunjunginya: blog-nya Paman Tyo, blog kawannya, dan satu lagi adalah blog Pak Dhe Mbilung.

Sampai di sini saya mengernyit. Ada yang ganjil. Lantas, bagaimana dengan blog JengJeng yang terkenal itu? ๐Ÿ˜€ *melirik si empunya blog*. Ah, tetapi jangan kecewa dulu, meski blog tersebut tidak masuk di jajaran 3 blog yang paling sering dikunjungi Dita, si empunya blog JengJeng (yang penuh dengan postingan jalan-jalan dan makan-makan itu) ternyata adalah orang pertama yang dikabari Dita begitu sang Nona mengetahui bahwa dirinya memenangkan Bloggership ๐Ÿ˜‰

Uang 15 juta mau diapakan, Dit? Itu pertanyaan saya selanjutnya pada Dita tadi sore. Ternyata, Dita hendak menabungnya untuk biaya sekolah lagi. Iya, Dita ternyata ingin kembali menempuh pendidikan di bidang CSR. Ini cita-citanya sejak lama. Jadi, kawan-kawan, sudah, hentikan menodong Dita untuk traktiran! ๐Ÿ˜€

Oh ya, ada satu pantun khusus yang Dita buat sehubungan dengan terpilihnya ia sebagai penerima Bloggership, yang dibuatnya dalam waktu 29 detik saja, Saudara-saudara!

Begini, bunyinya:

Bloggership diumumkan juga
Eh kepilihnya nonadita
Grogi girang cemas terasa
Nggak nyangka jadi juara

Ah, Dita, selamat untuk kemenanganmu, ya! Saya bangga diberi kesempatan untuk mengenalmu, Dit! ๐Ÿ™‚

Leave your traces here. I want to hear :)