:: maukah kamu menjadi pacarku?
Posted: January 30, 2009 Filed under: Love | Tags: aneh, asal, cinta, jawaban, pacar, pertanyaan, tidak serius 71 Comments »
Tak heran banyak orang bingung ketika hendak mengungkapkan cinta. Banyak yang berkata, mereka tidak siap mendengar jawaban apa yang mungkin diberikan oleh pihak yang diajak bicara. Ternyata, kebingungan itu cukup beralasan, karena ada begitu banyak alternatif jawaban yang bisa diberikan pada satu pertanyaan sederhana di bawah ini:
“Maukah kamu menjadi pacarku?” Read the rest of this entry »
:: menjadi cantik untuk… apa?
Posted: January 27, 2009 Filed under: Life | Tags: cantik, cinta, kawan, kuliah, pecakapan, SMU 34 Comments »Ada masa-masa tertentu dalam hidup saya ketika saya iri kepada perempuan-perempuan cantik*. Bukan dalam arti ‘iri’ di mana saya lantas hendak mencakar-cakar wajah mereka, tetapi rasa ‘iri’ yang berharap.
Ya, saya juga ingin bisa secantik mereka.

Semasa SMU dan tahun-tahun pertama di bangku kuliah, saya memang mengalami masalah kepercayaan diri yang cukup akut–jika dan hanya jika, berhubungan dengan penampilan. Read the rest of this entry »
:: pelajaran berbagi dari matt mullenweg
Posted: January 19, 2009 Filed under: Life | Tags: berbagi, blog, blogger, gathering, kopdar, matt mullenweg, wordcamp 2009, wordcamp indonesia, wordpress 43 Comments »“Wow. So this is what love at first sight feels like,” kata Matt Mullenweg, co-founder layanan blog WordPress itu.

:: namanya dita, dia…
Posted: January 14, 2009 Filed under: Life | Tags: bloggership, CSR, dita, jengjeng matriphe, mbilung, menang, nona dita, paman tyo, pantun 32 Comments »… suka membuat pantun-pantun lucu, gemar melahap makanan pedas dan gurih, serta mendaulat Alanis Morisette sebagai penyanyi favoritnya. Cita-cita jangka pendeknya? Ingin nonton Jason Mraz dan Brian McKnight di perhelatan JavaJazz bulan Maret mendatang.

Ya, sekilas, Dita (atau bekennya, Nona Dita) memang terdengar seperti perempuan muda yang biasa-biasa saja. Tiap membayangkan sosok Dita, saya jadi teringat burung-burung kecil yang suka menyanyi riang pada film-film kartun macam Cinderella. Tahu, kan? Burung-burung kecil dengan suara lucu yang bernyanyi di pinggir air mancur, dan bulu matanya yang lentik berkedip-kedip? Nah, seperti itulah gambaran mental saya mengenai Dita :D Read the rest of this entry »
:: saya bangga menjadi seorang blogger
Posted: January 12, 2009 Filed under: Life | Tags: aktivitas sosial, blogger, blogger peduli, coin a chance!, dagdigdug, jaringan, kolektif, kontribusi, pirac, rumah web 25 Comments »Ya. Saya bangga menjadi seorang blogger.
Bagaimana tidak?
Dunia blog adalah tempat di mana semua niat baik disambut secara luar biasa, didukung dengan sepenuh hati, dan diterima dengan tangan terbuka. Ini adalah sebuah dunia di mana bantuan akan diberikan kepada mereka yang membutuhkannya. Dunia di mana sebuah kabar akan menyebar dalam waktu yang bisa dibilang sebentar. Read the rest of this entry »
:: palestina
Posted: January 6, 2009 Filed under: Life | Tags: jurnalis, konflik, palestina, paulo coelho, perang, rien kuntari, rwanda, saddam hussein, the zahir 20 Comments »Dengan cara saya sendiri, saya berduka untuk Palestina.
Pemandangan mengerikan yang saya saksikan di televisi, foto-foto yang terpampang di koran-koran nasional… semua itu membuat saya berpikir betapa manusia bisa menjadi makhluk yang sangat egois, yang berperasaan dan berpikiran sempit.
Karena bukankah kita semua, sesungguhnya merasakan duka dan kehilangan yang sama? Read the rest of this entry »
:: there’s no such thing
Posted: January 4, 2009 Filed under: Love, Posts in English 20 Comments »Me: I think you’re right. Remember? The day I told you that I still want to believe in love and you told me that there’s no such thing? Love, I mean.
You: Uhm… you know what? Actually, when I said that there’s no such thing, I lied.
:: 2009
Posted: January 1, 2009 Filed under: Life, Love 37 Comments »Malam pergantian tahun yang dilewatkan dengan percakapan ringan bersama kawan-kawan lama semasa SMU memang selalu bisa menghilangkan beban pikiran (dan perasaan). Pertemuan kembali setelah berpisah beberapa lama masih menghadirkan candaan yang itu-itu saja, namun sepertinya kami tidak kunjung bosan. Semuanya begitu familiar.
Rasanya… seperti pulang ke rumah.
Dan secara harafiah, pertemuan yang berlangsung sedari siang dan baru berakhir menjelang pukul 2 pagi hari ini, memang merupakan salah satu momen ‘pulang ke rumah‘ bagi sahabat saya—yang harus menghabiskan beberapa bulan terakhir di sebuah rig di kawasan Asia Timur, sebelum bertolak ke Timur Tengah pada pertengahan Januari nanti.
I’ve known him for almost 13 years. Ya, kami sudah bersahabat sejak kelas 6 SD. Sejarah yang panjang membuat kami sudah begitu mengenal satu sama lain dengan sangat baik, sehingga kami bisa dengan bebasnya berkata jujur mengenai berbagai hal, termasuk perihal cinta yang porak-poranda dan kepingan hati yang berantakan. Read the rest of this entry »

