:: as to why it happens

You’ll never get the right answer if you kept on asking the wrong question, they say.

True.

It’s a bit like what Lewis Carrol has written in Alice’s Adventures in Wonderland–on a scene where Alice, who got lost, bumped into a Cheshire cat.

‘Would you tell me, please, which way I ought to go from here?’ asked Alice.
‘That depends a good deal on where you want to get to.’
‘I don’t know where–so long as I get somewhere.’
‘Then it doesn’t matter which way you go,’ said the Cat.

There’s no such thing as an answer to why things don’t work well, or why life has to change directions every once and a while—simply because ‘why’ is not the right question to ask. Continue reading “:: as to why it happens”

:: hadiah natal dan tahun baru

Sekarang saya merasa tak perlu terlalu bingung lagi memikirkan akan membeli hadiah Natal dan Tahun Baru apa untuk orang-orang terdekat.

Yang jelas, hadiah tersebut harus datang bersama sebuah stoples bening. Ya, hadiahnya bisa berupa permen-permen cokelat di dalam stoples, bunga lili putih di dalam stoples, kopi yang baru digiling di dalam stoples, aksesori lucu di dalam stoples…

Yang penting adalah stoplesnya (bisa diikat dengan pita warna-warni), bukan isinya 😀 Continue reading “:: hadiah natal dan tahun baru”

:: ke mana perginya uang logam Anda?

Di dalam laci meja saya di kantor, saya menyimpan sebuah kaleng. Dulunya, kaleng ini adalah wadah permen. Gambarnya Winnie-The-Pooh, dan di bagian tutupnya bergambar Eeyore 🙂

Isinya?

Bukan lagi permen, tetapi uang logam. Recehan. Kembalian. Berasal dari supermarket, uang hasil reimbursement dari bagian admin, sampai kembalian ketika membayar tol atau naik angkot. Uang logam tersebut saya letakkan di sana karena berat jika dibawa-bawa di dompet; dan karena jarang saya belanjakan kembali. Continue reading “:: ke mana perginya uang logam Anda?”

:: meninggalkan senja

Perempuan itu memutuskan untuk meninggalkan senja.

Bukan karena ia bosan memandangi gurat-gurat jingga keemasan dan langit yang nampak lucu dalam semburat ungu dan merah jambu; tetapi karena ada malam yang akan segera menggulung senja dalam hitam—dan perempuan itu tak ingin terjebak dalam kegelapan untuk yang kedua kali, sendirian.

Maka ketika jingga mulai tercabik di cakrawala dan lampu merkuri mulai menyala, perempuan itu berdiri dan melangkah pergi, meninggalkan senja. Berlindung dari malam yang bisa menusuknya pelan-pelan dan menjatuhkannya ke dalam lubang hitam. Continue reading “:: meninggalkan senja”