:: saat untuk memaafkan

Berapa banyak lagi waktu yang kita punya?

Ah, kita memang tidak akan pernah tahu. Mungkin selamanya, mungkin sebentar, mungkin hanya hari ini saja. Tetapi bukankah selamanya tak selalu berakhir bahagia, sebentar bisa menitipkan makna yang masih terasa bahkan setelah beberapa lama, dan hari ini saja bisa menjelma kekal dalam ingatan yang selalu dapat kau putar ulang?

Dan jika kita memang hanya memiliki hari ini, detik ini, pernahkah kau tanyakan kenangan apa yang akan kau tinggalkan ketika esok datang? Akankah kau mengenang hari ini dengan senyuman, dengan tangis, dengan kesumat yang memuncak ketika langit di atas kepalamu seluruhnya gelap? Tidakkah kau ingin mengkristalkan satu hari ini dalam senyum yang mengembang cantik seperti sayap kupu-kupu yang berkilauan di balik sebuah kotak kaca?

Banyak di antara kita yang marah karena masa lalu kita dirusak oleh orang lain. Maaf mungkin memang tak pernah bisa memperbaiki masa lalu, tetapi pasti memperindah masa depan.

Bayangkan, hal itulah yang dikatakan Mario Teguh, motivator terkenal itu, di televisi, tepat ketika saya mengetik semua ini. Bukankah semua ini lucu, sekaligus menyentuh, sesuatu yang membuatmu ingin tertawa dan menangis pada saat yang bersamaan?

Ketika kau tahu sulitnya melupakan sebuah kesalahan meskipun kata maaf telah diucapkan, janganlah meninggalkan ingatan pedih pada kenangan.

Tetapi satu hari sudah selesai. Terangkum dalam satu masa yang sudah lewat sekejap mata. Maka, melangkahlah pada esok pagi dengan hati yang utuh dan bukan cuma separuh, maafkan dan lepaskanlah semua. Juga jangan lupa untuk menyisakan sepotong kata maaf untuk diri sendiri. Karena kita semua, layak mendapatkan kesempatan kedua.

Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.


:: menangkap momen

Ada sebuah perkataan berbunyi demikian: kita melihat apa yang ingin kita lihat, dan mendengar apa yang ingin kita dengar.

Saya pikir, perkataan itu ada benarnya. Silakan Anda ajak lima orang kawan Anda berhenti sejenak ketika lampu lalu-lintas menyala merah, kemudian setelah lalu-lintas bergerak kembali, tanyakan kepada mereka, apakah satu momen atau satu objek yang paling berkesan yang tertangkap oleh mata mereka ketika melintas di sana barusan.

Saya yakin, Anda akan mendapatkan jawaban yang berbeda-beda.

Saya sendiri pernah menangkap momen ini: seorang gadis kecil, dengan ‘kicrikan dari gelas air mineral buatan sendiri, duduk di bawah lampu lalu-lintas tak jauh dari kawasan Tanah Abang (mari namai dia “gadis kicik-kicik”). Ya, dan masih ada begitu banyak momen yang tersebar di sekitar kita, ditawarkan oleh dunia untuk ditangkap setiap harinya oleh panca indera.

Konon, di salah satu buku marketing yang pernah saya baca (saya lupa apa tepatnya), kanal televisi anak-anak Nickelodeon sempat mempergunakan kejelian anak-anak kecil untuk “menangkap momen” sehari-hari melalui sebuah kamera sekali pakai. Dari momen-momen yang “dijepret” oleh anak-anak kecil itu (berupa berlembar-lembar foto), Nickelodeon berhasil mengetahui objek dan momen macam apa saja yang dekat dan relevan di mata anak-anak—sebagai target audiens mereka.

Menjadi menarik, kemudian, untuk mengetahui momen macam apa yang dilihat dekat dengan tema Pesta Blogger 2008 tahun ini, “blogging for society” dari balik lensa mata (atau kamera) para bloggers. Ya, melalui Photo Contest Pesta Blogger 2008, para bloggers dan penggemar fotografi diajak untuk turut menyumbangkan momen “blogging for society” yang mereka tangkap sehari-hari, untuk kemudian dikompetisikan di hadapan juri-juri yang sudah begitu lama wara-wiri di dunia fotografi profesional Indonesia.

Dan sejauh yang saya ketahui, tiga orang dari jajaran dewan juri itu merupakan pribadi-pribadi yang bukan hanya piawai dalam menangkap momen—tapi juga dalam menikmatinya, to the fullest.

Bang Arbain Rambey, misalnya. Di pertemuan pertama saya dengannya untuk melakukan interview beberapa waktu lalu, kami berbincang seru mengenai banyak hal. Bang Arbain bercerita tentang perjalanannya ke Bunaken, kecintaannya pada kamera-kamera tua, keluarganya… semua itu dikisahkan dengan penuh gairah, cinta, semangat. Saya juga kagum pada Bang Arbain yang kemudian melepaskan posisi belakang meja untuk terjun kembali ke lapangan demi memuaskan dahaganya untuk ‘menangkap momen’.

Sudah beberapa tahun belakangan ini saya juga sempat bekerja sama dengan Mas Oscar Motuloh dari Galeri Foto Jurnalistik (GFJ) Antara. Mas Oscar juga pribadi yang santai, sangat awet muda, karismatik, dan selalu menonjol di tengah keramaian dan mudah dikenali karena rambut gondrong abu-abunya yang sebahu dan kebiasaannya mengenakan kaos berwarna hitam. Pribadi yang menyenangkan dan bersahaja.

Dan Jerry Aurum, yang baru-baru ini menangkap keindahan perempuan dalam pameran (dan buku) Femalography-nya dan sering mampir ke kantor saya untuk menjenguk sahabatnya setelah pulang dari berbagai episode jalan-jalannya ke berbagai belahan dunia, juga dikenal luas sebagai orang yang supel, ramah, dan gemar bercanda.

Mungkinkah mereka menjadi pribadi-pribadi yang kaya karena mereka sering menangkap momen lewat bidikan lensa kamera? Karena semakin sering kita menangkap momen-momen itu, pastilah ada beberapa detik waktu yang kita luangkan untuk berpikir. Mencerna. Merasa. Dan kemudian menghargai setiap momen yang ada—serta tidak membiarkannya lewat sia-sia.

Jika Anda masih tak percaya diri menangkap momen lewat lensa kamera, tak ada salahnya mencoba menangkap momen lewat lensa mata—kamera tercanggih di alam semesta. Jadi, edarkan pandangan ke sekeliling Anda. Sesekali, berhentilah nge-plurk atau mengirimkan SMS gratis di tengah kemacetan, dan lihatlah dunia yang berputar di luar layar berukuran sekian kali sekian inci di hadapan Anda itu.

Lihat. Dan rasakan…


:: prosa cinta pecas ndahe

Empat puluh tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk terus bersabar dalam menghadapi debar hidup yang menggelenyar. Tetapi selama mendung masih menggelayut di langit, dan hujan masih bisa mengusir semua sepi dari permukaan tanah yang diseraki kulit-kulit jeruk, kau selalu tahu bahwa kau akan baik-baik saja. Dengan berteman embun, senja, subuh, dengan segenggam wangi daun-daun kemangi…

Dan dalam harumnya, kau suka merangkai aksara menjadi asa, menjadi bara, menjadi luka, menjadi cinta. Semua keindahan yang bermuara dari ujung-ujung jemari yang tak pernah letih berlari mengumpulkan remah-remah lema dan diksi antik yang kemudian memaksa banyak mata terusik dan akal bergerilnya mencari makna di balik setiap lembarannya.

Kau suka banyak hal sederhana: menulis, memotret bokong truk, membuat komik, menjodohkan dua hati, memandangi embun, tertawa, menikmati bebek goreng dan nasi bakar tuna, berbicara dengan orang-orang yang kau temui dalam perjalananmu: tua atau muda bukan masalah, karena kau tak pernah memikirkan soal usia–meski terkadang kau bingung dan mulai pelupa; misalnya mengenai siapa yang pernah kau ajak bicara tentang pinguin, atau di mana kau seharusnya memenuhi janjimu: One Pacific Place atau Senayan City?

Ingatkah kau, pada suatu hari, di jembatan layang yang tinggi, kau lihat dua ekor burung mungil terbang mendekati jendela mobilmu, bercakap-cakap satu sama lain dengan bingung: “Rasanya kita sudah terbang cukup tinggi, mengapa di sini masih juga ada kendaraan-kendaraan beroda empat ini?”

Ah, burung-burung yang malang, yang berupaya mencari kebebasan di tengah himpitan asap yang menghitam. Klakson. Polutan. Racun. Hiruk-pikuk Jakarta yang kau katakan berahi.

Tetapi bukankah selalu ada celah? Selalu ada hujan. Bau tanah basah yang menyegarkan dan selalu ngageni itu. Ada bunga di dalam pot kecil di atas meja. Kopi yang disajikan panas-panas. Dan selalu ada daun-daun kemangi itu; yang harumnya mengingatkan kita bahwa selalu ada tempat untuk berhenti. Untuk mengecap keindahan. Untuk sendiri meski kita tak seorang diri.

Pria pecinta daun kemangi, selamat merayakan hari jadi dengan banyak prosa cinta dari mereka yang selalu ada di bawah naungan teduhmu…


:: hari ini, dua tahun yang lalu

- 2006 -

Ternyata kamu tidak baik-baik saja.

Saya selalu berpikir bahwa kamu termasuk salah seorang yang paling beruntung di dunia, tetapi ternyata benar bahwa tak ada orang yang memiliki segalanya.

Bahwa waktu memberikan pelajaran pada saat-saat yang paling tidak disangka-sangka. Bahwa hidup ternyata bisa memutarbalikkan keadaan semudah membalikkan telapak tangan. Bahwa cinta bisa melakukan apa saja, termasuk membuat seseorang rela menukarkan biaya hidup sebulan dengan berbotol-botol minuman pada satu kesempatan.

Ternyata euforia semalam yang dihabiskan bersama kekasih dan kawan-kawan cuma menyisakan perasaan mual berkepanjangan. Kamu terbangun dalam keadaan hangover dan menyadari bahwa kamu masih harus bertahan hidup selama satu bulan; tanpa uang dan pekerjaan.

Kamu berpikir bahwa setidaknya, kamu masih memiliki cinta. Tetapi jika cinta yang kamu maksud adalah cinta yang sama dengan jenis cinta yang membuat kamu kehilangan segalanya… ah, mungkin kita bicara mengenai cinta dalam pengertian yang berbeda. Sangat berbeda.

Atau mungkin cinta memiliki seribu wajah di balik sebentuk hati berwarna merah muda yang nampak innocent dan imut-imut itu.

- 2008 -

:: cinta macam apakah yang tengah Anda rasakan saat ini?


:: melintasi dermaga kala senja

Setiap kita punya perjalanan hidup yang mesti ditempuh: perempuan bermata rembulan, rama-rama bersayap retak, juga lelaki dengan hati yang tinggal separuh–semua pernah melintasi dermaga kala fajar maupun senja, dalam siraman cahaya maupun dalam gelap-gulita, dalam tawa ataupun air mata, sendiri-sendiri maupun berdua…

Tetapi yakinlah, bahwa sejak saat ini, setiap kali kau melintasi dermaga itu kala senja, saya ada di sana. Meski kau tak dapat melihat saya dengan jelas karena hujan lebat atau kabut yang berdesakan di pelupuk matamu, yakinlah bahwa jika kamu menoleh, saya ada. Dan yakinlah bahwa saya masih ada di sini; dan akan selalu ada di sini, meskipun malam sudah tak lagi muram dan telah bertabur bintang-bintang, meskipun kau tak lagi melintas sendirian dan telah menemukan kawan untuk diajak berbagi memandangi bintang pagi.

ketika kau menoleh, aku masih ada di sini. berlari-lari kecil di sampingmu, atau mengikutimu diam-diam dari belakang, atau memimpin jalan di depan ketika kau tak tahu hendak ke mana kau menuju...

... sejak saat ini, setiap kali kau melintasi dermaga itu kala senja, saya ada di sana.

Mungkin ketika kau menoleh, saya tengah berlari-lari kecil dan tertawa di sampingmu, atau mengikuti langkahmu diam-diam seraya mengamati punggungmu dari belakang, atau bahkan menuntunmu dan memimpin jalan di depan ketika kau tak tahu hendak ke mana kau menuju, atau mungkin juga saya telah menjelma pada bayanganmu yang kemudian tertelan pelan-pelan ketika gelap turun menggulung senja dalam satu sapuan manis.

Jadi, bagilah beban itu agar langkahmu terasa ringan… dan bersama, kita akan saling bantu menghadapi dunia untuk menyongsong mimpi-mimpi yang masih tersembunyi di balik pelangi.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,778 other followers