:: dua puluh lima

Dua puluh lima bukan perayaan. Bukan juga perenungan. Dua puluh lima seperti hujan; yang meski sudah berkali-kali turun tak bosan juga ia pandangi dan nanti-nanti. Seperti secangkir kopi. Sesuatu yang terasa akrab dan apa adanya, seperti piyama lamanya, yang sudah tak jelas lagi warna aslinya, tetapi selalu membuatnya merasa bisa tidur jauh lebih nyenyak ketika…

Read More

:: mengapa memilih untuk membakar ban?

Ya, ada beberapa pertanyaan yang selalu mengganggu saya: Mengapa memilih untuk membakar ban? Mengapa memilih untuk berteriak-teriak hingga suara serak? Mengapa memilih untuk memblokir jalan? Mengapa, misalnya, tidak memilih untuk mengumpulkan beberapa orang anak putus sekolah di wilayah sekitar, menampung mereka di auditorium setiap dua hari sekali, kemudian mengajari mereka membaca, menulis, sedikit matematika di…

Read More

:: a forgotten future

Ia tuang beberapa tetes cinta ke dalam segelas dukamu ketika kau tak melihatnya. Mengaduknya rata; mencampurnya sempurna sehingga tak lagi kentara perbedaan antara keduanya. Lalu kau teguk semua, hingga tak bersisa, memaknai sensasi rasa yang tak bisa kau terka apa. Jenis yang belum pernah kau kecap sebelumnya. Ia diam saja, tak berkata-kata. Kau juga. Lalu…

Read More