:: yang baru

Ada beberapa hal baru yang saya gemari belakangan ini.

Yang pertama, blog baru di dagdigdug. Isinya desain-desain lucu, aneh, unik, nyeleneh, atau sekadar iseng pun boleh. Saya suka memposting di sana karena upload-nya cepat sekali, bahkan untuk gambar-gambar yang cukup besar sekalipun. Seru. Dan tiba-tiba Facebook saya jadi menganggur…

Yang kedua, minuman baru yang akhir-akhir ini menemani (variasi lain selain kopi dan air putih): Coca-Cola Zero. Kata ibu saya sodanya lebih “jreng” dibandingkan Coca-Cola yang biasa, enak diminum kalau sedang masuk angin, katanya. Kalau menurut saya rasanya sama saja dengan yang biasa, tapi karena tak ada kalorinya, secara psikologis saya jadi lebih suka yang ini hahaha :D

Yang ketiga, saya sedang jatuh cinta pada body mist Beauty Rush-nya Victoria’s Secret yang Appletini–oleh-oleh dari teman saya. Wanginya itu, lho. Menyegarkan sekali. Kalau habis rasaya saya harus titip dia lagi, mungkin beli sekali dua. Saya tidak tahu di sini sudah ada yang menjual atau belum. Kalau tahu tempat yang menjual si Appletini ini kasih tahu, ya…


:: tentang elitisme

Beberapa minggu yang lalu saya sempat ‘ngampung’ bersama beberapa kawan lama. Pergi ke perkebunan teh dan nyeker menyusuri jalan-jalan kampung sambil menjinjing sandal jepit di bawah guyuran hujan. Nongkrong di warung kecil sambil ngopi dan makan gorengan murah ketika kaki mulai kram karena kedinginan (bandel sih, memilih nyeker). Kemudian merendam kaki di pinggir sungai kecil dan ngobrol-ngobrol seraya duduk-duduk di atas rerumputan basah. Beberapa orang merokok, beberapa lagi mengunyah keripik pedas yang sudah agak melempem.

Tapi tak mengapa. Kami bahagia.

Kemudian menjelang makan siang, kami turun ke sebuah warung Padang. Menyantap masakan pedas dan minum teh tawar hangat memang paling cocok di kala hujan. Saat itulah kebahagiaan saya sedikit meredup ketika salah seorang teman tiba-tiba saja menyinggung beberapa kawan yang hari itu absen dari reuni kecil-kecilan kami.

“Bukannya mereka memang nggak akan mau diajak jalan-jalan begini? Mereka kan nongkrongnya di mall. Di kafe. Biasa, kelompok elitis. Nggak mau bergaul sama masyarakat kelas bawah. Hedonis. Ignoran. Males juga gue kalo mereka gabung…”

Walau ucapan itu bukan ditujukan terhadap saya, tetapi sebagai orang yang juga suka nongkrong-nongkrong di kedai kopi di mall, saya merasa kesal juga mendengar kesengitan dan keangkuhan yang tersirat dalam kalimat itu.

Saya menikmati menghabiskan waktu nyeker di bawah guyuran hujan atau memilih sepatu di mall, sebagaimana saya juga tidak pernah berkeberatan makan di restoran Jepang, atau menyantap mie ayam di Melawai yang letaknya di dekat bak sampah (jorok memang, tapi enak, kok. beneran. hehehe).

Saya jadi kesal karena elitisme dibawa-bawa di sini.

Sejak kapan tempat tongkrongan seseorang menjadi barometer penilaian akan kepedulian mereka terhadap sesama? Saya tahu kok dulu teman-teman saya yang gemar clubbing juga sering duduk-duduk di lapangan parkir dan merokok bareng satpam dan tukang parkir di sana, mengobrol ngalor-ngidul sambil menunggu subuh…

Yang demikian itu apa juga bisa disebut elitis? Ignoran?

Entahlah. Rasanya terlalu dini untuk mencap seseorang demikian.

Yang jelas, buat saya, kalau mereka yang mengaku ‘peduli-dengan-masyarakat- kelas-bawah’ juga enggan bergaul dengan mereka yang suka nongkrong di mall–dan tak suka ketika mereka yang gemar wara-wiri dari kafe ke kafe ikut nongkrong bersama di warung kopi, tanpa disadari mereka juga sudah menjadi kelompok yang ‘elitis’–sebagaimana mereka istilahkan (atau tuduhkan).

Lagipula, bukankah kita tak ingin dikotakkan dalam kelas-kelas?

Kenapa kita tidak menerima semua orang dengan tangan terbuka, dan tidak buru-buru menghakimi? Bukankah kepedulian seseorang terhadap sesuatu tidak dapat dinilai berdasarkan apa yang nampak dari luar? Bukankah ketika tangan kanan memberi tangan kiri tak perlu tahu-menahu?

Dan benar, bahwa kita terkadang tak boleh masuk ke klub dengan mengenakan sandal jepit. Tapi rasanya tak pantas juga jika kita hendak jalan-jalan di gunung tetapi mengenakan sepatu stiletto dengan hak 7 senti.


:: tiga

Ketika mereka berdiri di depan kamera itu, bertiga, mungkin mereka tidak pernah tahu tali tak kelihatan macam apa yang mempertautkan nasib mereka bertiga. Mereka tidak pernah tahu bahwa, satu jepretan itu akan selalu ada, mengingatkan mereka akan sakit hati dan menggoreskan luka yang tidak terobati.

Saya masih tak habis pikir hingga kini. Tiga wajah yang tak pernah tahu bahwa hubungan mereka sebagai teman dekat dan sahabat, suatu waktu di masa depan, akan berakhir dengan begitu menyedihkan. Diwarnai pengkhianatan, pertengkaran, perselingkuhan… dan semua hal yang membuat ketiganya menangis dan tertawa–tetapi tidak pernah mereka menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan.

Ini mengerikan.


Tiba-tiba saja saya menyadari betapa tipisnya batas antara lawan dan kawan. Kita tidak akan pernah tahu siapa yang akan menusuk kita dari belakang dan membuat dunia kita berantakan. Yang paling menyedihkan adalah: justru kita akan paling merasa tersakiti ketika dilukai oleh orang yang paling dicintai.

Saya tidak kuasa untuk tidak menatap tiga wajah itu sekali lagi. Bertanya-tanya apakah yang akan mereka lakukan jika mereka bertemu lagi kini. Apakah mereka akan saling menyapa dan merangkul kembali, melupakan masa lalu? Ataukah mereka akan saling diam dan membenci satu sama lain hanya karena luka itu terlalu dalam digoreskan?

Seperti ‘pink ribbon scars that never forget’ dalam lirik Today-nya Smashing Pumpkins. Ada yang mengatakan bahwa kala itu Billy Corgan sedang bercerita tentang sayatan-sayatan merah muda percobaan bunuh diri yang terekam selamanya di sekitar nadi. Sedalam itukah luka yang ditautkan di antara ketiganya sehingga selamanya akan meninggalkan bekas?

Tiga wajah itu menerpa dari masa lalu. Ketika segalanya masih terasa begitu sederhana. Mereka tidak tahu bahwa di masa depan, yang satu akan melukai yang lain; dan mereka akan saling melukai satu sama lain. Pertalian yang aneh, sekaligus menakutkan. Dan yang lebih menakutkan lagi adalah satu wajah itu, satu wajah orang luar yang tidak kelihatan, yang membungkus ketiganya dalam gelap yang sama pekatnya.

Satu orang di antara mereka baik-baik saja, saya tahu itu. Satu lagi sudah melanjutkan hidup, sempat terantuk, namun saya harap dia baik-baik saja. Yang terakhir… yang membuat saya khawatir. Saya tidak pernah mendengar apa-apa darinya. Terakhir kali saya bertemu dengannya, dia yang paling terluka dari ketiga wajah itu. Dan saya tahu perjalanannya tak pernah mudah sejak saat itu.

Di sini, saya masih berdoa, semoga dia baik-baik saja. Dan saya harap, suatu hari nanti ketiga wajah itu dapat berada dalam satu frame yang sama, sekali lagi. Dan kali ini, ketiganya tersenyum, meski tahu satu wajah itu mengamati dari kejauhan.

Karena tidak ada yang membedakan kemarin dari sedetik yang lalu, seminggu yang lalu, atau sebulan yang lalu. Kemarin adalah kemarin–dan kemarin hanyalah sebentuk masa lalu yang lain.


:: tempat tidur

Saya sakit. Sudah begitu bukan sakit biasa pula, tapi lumayan menyedihkan–karena sampai membuat saya harus istirahat di tempat tidur. Dimulai dari hari Rabu malam lalu (6/2) hingga hari Kamis kemarin (14/2).

Dan hari ini, masih dengan syal melilit di leher, seplastik obat-obatan dari dr. Regina, dan suara yang hilang, saya menyempatkan diri masuk kantor. Tak tahan memikirkan pekerjaan dari rumah. Saya dihantui rasa bersalah. Hahaha.

Sebenarnya atasan saya berbaik hati menanyakan apakah saya yakin sudah baik-baik saja, dan mengapa saya tidak pulang saja setengah hari. Tetapi terlanjur, ah. Malas rasanya membayangkan setelah tadi bangun pagi-pagi (dan di luar hujan deras waktu saya bangun, oh, I love it!), jam 12 harus sudah pulang ke Bogor lagi. Rasanya mubazir.

Dan ketika saya pulang dari pertemuan dengan klien sore-sore, saya menemukan beberapa sachet teh peppermint di atas meja saya. Dari atasan saya, dengan catatan kecil berbunyi “Get Well Soon…”

Kenapa ya, begitu saja saya jadi sedih dan merasa terharu. Hahaha.

Kalau diingat-ingat, ini salah satu sakit terparah saya. Yang pertama adalah ketika kena gejala tipus sewaktu kelas 5 SD. Lalu ketika cacar air (sangat menderita) sewaktu kelas 3 SMP.

Setelah itu tak pernah lagi saya sakit parah. Biasanya paling hanya sakit biasa, demam atau pilek atau apalah yang hanya bertahan 2-3 hari. Itupun saya masih bisa beraktivitas seperti biasa; dan mungkin hanya ijin tidak masuk 1 hari.

Jadi sakit selama (tunggu saya hitung dulu) 9 hari kemarin adalah sakit saya yang terparah sejak cacar air itu. Suara saya hilang sejak Rabu malam, dan saya anggap biasa saja karena memang suara saya terkadang hilang jika terlalu capek. Tetapi ternyata berlanjut dengan demam naik-turun dan batuk yang tidak berhenti-berhenti (literally hanya berhenti batuk selama 5 detik, lalu batuk-batuk lagi), sehingga saya sama sekali tidak tidur selama 3-4 hari.

Bagi saya yang sangat suka tidur, keadaan itu bahkan jauh lebih menyiksa lagi. Tenggorokan saya sakit dan perih, perut saya juga kram karena otot-otot menegang setiap kali terbatuk. Menderita sekali. Ingin memejamkan mata dan tidur tapi tidak bisa. Ingin bangun menonton TV atau membaca buku, tetapi pusing.

Ah, untungnya sekarang sudah agak mendingan. Meski masih batuk sesekali tapi sudah jauh berkurang. Dan saya sudah bisa bicara walau suaranya sangat pelan.

Tetapi saya masih bertanya-tanya kenapa saya bisa sakit begitu. Makan teratur (malah bisa dibilang makannya banyak hahaha), vitamin C dan buah-buahan juga terpenuhi, hmm, entahlah. Mungkin saya harus sedikit berhati-hati dengan apa yang saya harapkan. Beberapa waktu lalu saya sempat menulis : Mungkin sudah waktunya untuk menghilang lagi dari peredaran.

Ternyata harapan itu ‘bisa’ menjadi kenyataan. Saya sudah mengetahui hal ini dari beberapa kejadian di masa lalu. Tetapi mungkin saya lupa, sehingga kemarin itu diingatkan kembali.

Iya, hati-hati dengan apa yang kamu harapkan. Karena ketika kamu mendapatkannya, mungkin harapanmu itu mewujud dalam sesuatu yang memang benar-benar kamu inginkan. Lain kali, lebih spesifiklah ketika mengutarakan harapan. Hahaha :)


:: di balik kepiting

Iya, gara-gara menghabiskan suatu malam menyantap kepiting saos padang bersama 4 orang teman, kami secara tidak sengaja membaca apa yang tersembunyi di balik cara kami menyantap kepiting. Benarkah karakter seseorang bisa terbaca dari cara mereka menyantap kepiting? Tidak tahu juga. Tetapi boleh-boleh saja, kan, jika kita coba menyelami 4 macam karakter dari para penyantap kepiting berikut ini:

………………………………………………..

Tipe A.

Karakteristik:
Mengaku suka kepiting tetapi enggan mengutak-atik hidangan dengan alasan sedang enggan. Ketika teman sebelahnya menyodorkan daging kepiting ‘siap lahap’ ke piringnya, ia berkata,”Wah, udah, gak usah. Ngerepotin…” tetapi ia santap juga daging kepiting itu. Dan ketika ada yang menyodorkan daging kepiting ‘siap lahap’ untuk yang kedua dan ketiga kalinya, ia tetap menyantapnya tanpa berkeberatan.

Arti: Hmm, menurut saya tipe orang seperti ini, jelas, adalah orang yang tidak mau repot (hehehe). Ketika menginginkan sesuatu, ia cenderung menunggu bantuan dari orang-orang di sekelilingnya. Biasanya, orang seperti ini sedikit manja, dan senang mendapatkan perhatian ekstra. Orang tipe ini juga biasanya sulit mengambil inisiatif atau membuat pilihan, dan cenderung menyerahkan keputusan pada orang-orang di sekelilingnya. Kebaikannya adalah, orang seperti ini jarang protes dan cenderung menerima saja situasi apapun yang ada di hadapannya.

Tipe B.

Karakteristik: Menunggu beberapa waktu terlebih dahulu ketika teman-temannya mulai menyantap kepiting. Ketika tertinggal bagian-bagian yang sulit dicuil dagingnya di atas piring (seperti capit), ia akan mengambilnya dan mengorek-ngoreknya dengan tusuk gigi atau mencoba menyeruputnya keras-keras–demi mendapatkan secuil daging yang ada di dalamnya.

Arti: Haha. Tipe orang yang mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi! Orang seperti ini bisa diandalkan setiap saat, dan tidak mudah menyerah. Ia akan mencoba segala cara untuk mendapatkan keinginannya, walaupun ia harus menempuh jalan yang sulit. Kemauannya yang keras dan jiwa kebersamaannya yang besar juga akan tercermin dalam pekerjaannya, maupun hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya.

Tipe C.

Karakteristik: Menggunakan alat pemecah cangkang; kemudian mengambil daging kepiting, tetapi jari-jari tangannya tetap saja kotor berlumuran saos padang, bagian-bagian cangkang berserakan di atas piring. Yang jelas, orang ini terlihat repot sekali menyantap si kepiting saos padang itu.

Arti: Kalau menurut saya, orang seperti ini termasuk pekerja ‘keras’. Hardworker, istilahnya. Dedikasinya terhadap pekerjaan sangat tinggi, tetapi ia seringkali mengorbankan dirinya sendiri dan ‘dimanfaatkan’ oleh orang lain. Ia cenderung ‘terpaksa’ melakukan segala sesuatunya sendiri (bahkan melakukan hal-hal yang sebenarnya bukan urusannya). Dengan demikian kita bisa melihat bahwa ia kurang tegas dalam memberikan batasan yang diperlukan.

Tipe D.

Karakteristik: Menggunakan sendok dan garpu untuk menyantap kepiting, dan kepiting berhasil disantap dengan rapi seakan-akan orang ini sedang menyantap kepiting cangkang lunak.

Arti: Orang seperti ini pandai memanfaatkan kesempatan atau orang-orang di sekelilingnya untuk melakukan apa yang ia inginkan. Bisa dikatakan ia terkadang agak manipulatif, dan sedikit egois. Tetapi ia sekaligus adalah orang yang efektif dalam mencapai tujuannya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk mencapai sesuatu, tanpa perlu terlalu berusaha keras setengah mati. Ia bisa membuat orang-orang di sekitarnya membantunya meraih tujuannya.

………………………………………………..

Ah, sudahlah, saya hanya berpura-pura sok tahu dalam membaca karakter di sini. Ada yang mau menerjemahkan karakteristik tipe A-D sesuai dengan ‘terawang batin’ masing-masing? :)

IMG. http://www.turtlebaycondos.com/Activities/Beach/crab2_72small.gif


:: mendung

Sudah bulan Februari.

Mengapa waktu rasanya berlalu cepat sekali? Saya bahkan tidak bisa mengingat kemana hilangnya Januari. Bulan yang menurut saya lebih romantis dibandingkan November atau bahkan Februari.

Teman-teman saya menculik saya hampir tiap malam, menggulung saya dalam tawa dan kenangan-kenangan aneh selama berjam-jam. Pekerjaan yang bergulir satu demi satu membuat saya terpancang di belakang meja; hanya sesekali berharap hujan datang sehingga saya bisa mencuri pandang melalui pintu kaca ke taman kecil di belakang.

Memandangi.

Ah. Mungkin sudah waktunya untuk menghilang lagi dari peredaran.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,867 other followers