:: pulang

Lelaki itu berjalan dengan masa lalu di pundaknya. Beban itu terbagi dua; sama rata. Satu di bahu kiri—perempuan dari masa lalu yang tidak juga menjadi miliknya walau mereka telah lama menebarkan bara. Satu di bahu kanan—perempuan dari masa kini yang tidak bisa ia miliki karena ia masih percaya bahwa dua hati yang saling jatuh cinta pun masih harus tunduk pada norma-norma.

Tetapi mungkin memang bukan itu maksud dari semua ini; dari semua yang sudah terjadi. Mungkin kenangan itulah yang penting. Momen-momen asing yang terkadang membuatnya tersenyum; atau tertunduk. Momen-momen yang menghangatkan hati dan bisa ia mainkan sesuka hati di malam hari; ketika dirinya merasa sepi. Jadi ia tidak pernah menyesal; meski kadang berharap kehidupan menyapunya ke dalam arus yang lain; karena baginya semua tidak penting selama kenangan itu ada.

Karena bukankah satu-satunya hal yang abadi di dunia ini adalah kenangan itu sendiri?

Perempuan itu berjalan dengan masa lalu di pundaknya. Beban itu memberatinya seperti rasa bersalah yang meninggalkan lubang besar dalam hidupnya. Lubang yang bisa dilihat oleh semua orang di dekatnya—kecuali oleh dirinya sendiri. Karena ia tidak merasa berlubang; ia tidak merasa kurang. Mungkin ia hidup dalam penyangkalan atau terlalu menggantungkan diri pada harapan. Mungkin ia masih ingin jatuh cinta meskipun sering merasa bahwa lelaki itu tak berhak atas kehidupannya.

Tetapi mungkin perempuan itu memang hanya merasa bahwa hidupnya terlalu datar dan membosankan. Ia butuh sesuatu yang membuat segalanya menjadi lebih romantis, meskipun tragis. Karena bukankah semua yang romantis itu tragis? Jadi ia tidak pernah menyesal; meski kadang berharap kehidupan menyapunya ke dalam arus yang lain; karena baginya semua tidak penting selama ia bisa merasakan cinta itu berdenyut dalam nadinya.

Tetapi lelaki itu, dan perempuan itu, masih terhanyut dalam pusaran masa lalunya sendiri-sendiri. Masih mencoba untuk mengerti; masih mencoba untuk melangkah; masih mencoba untuk keluar dari pusaran waktu; dan berusaha untuk tidak hidup dalam sebuah kemarin.

Karena apalah yang membedakan kemarin dari sedetik yang lalu, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu—atau bahkan sepuluh tahun yang lalu?

Tidak ada.

Kemarin hanyalah sejenis masa lalu yang lain, yang tidak akan pernah bisa berganti menjadi hari yang berbeda, sekeras apapun kita mencoba.

Lelaki itu berkata: “Nietzsche: anything that doesn’t kill you only makes you stronger… “
Dan perempuan itu menyahut: “… stronger, but not happier…”

Dan satu lagi episode aneh itu pun usai pada penghujung malam yang melelahkan.

Mereka tidak bertempur dalam perang yang sama, sehingga yang dapat mereka lakukan hanyalah menepuk bahu dan menyemangati satu sama lain, kemudian melambaikan tangan dan berjalan pergi, sendiri-sendiri, sampai suatu hari nanti mereka bertemu lagi, dan berbicara tentang hal yang sama lagi, dan lagi, dan lagi; berharap suatu hari nanti mereka dapat merasa bosan akan semua ini.

:: akhirnya terjadi juga!

Akhirnya, Pesta Blogger 2007 benar-benar menjadi kenyataan. Masih gak percaya, sebagaimana yang dikatakan Mas Enda sebelum mulai membacakan sambutan. Saya juga merasa demikian.

Seperti mimpi saja.

Tetapi ketika terbangun dengan kaki dan punggung pegal-pegal hari ini, saya baru sadar bahwa ternyata semuanya memang benar-benar terjadi.

Mungkin beginilah rasanya menjadi bagian dari sebuah momen penting dalam sejarah. Saya jadi ingin tahu apa yang dirasakan para pemuda-pemudi Indonesia ketika menyatakan tekad mereka untuk berbangsa, berbahasa, dan bertanah air satu. Sedikit merinding, sedikit gugup, sedikit terharu. Semuanya bercampur aduk menjadi satu.

Ah, dan saya merasa bersalah karena tidak bisa menjadikan momen tersebut sempurna. Masih banyak kekurangan yang ada. Masih banyak yang mencari nasi dan lauk, dan tidak menemukannya di atas meja (meski telah dipesan berlebih untuk 550 porsi hehehe, sungguh mohon maaf yang sebesar-besarnya); waktu pun tidak tersedia cukup lama bagi satu sama lain untuk berfoto bersama atau sekadar bertukar cerita; masih banyak yang kecewa karena tak bisa membawa teman atau pasangan menemani selama acara…

Iya, masih banyak sekali kekurangan yang mudah-mudahan tidak terlalu mengecewakan dan mengurangi esensi hari bersejarah itu bagi mereka yang datang. Saya hanya dapat berharap semua bersedia memaafkan atas segala yang tak berkenan; dan berjanji dalam hati agar di masa mendatang segalanya dapat berjalan lebih baik lagi.

Selamat Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2007…

PS: Mavericks, I love you all… I’m so lucky to have you. Thanks for your great help and tremendous support. *hugs*

:: kejutan di malam hari

“Gampang sekali, ya, untuk membuat kamu senang…”

Demikian yang pernah dikatakan oleh seorang kawan ketika saya sedemikian gembiranya menerima oleh-oleh berupa sekotak kecil permen dengan bungkus yang lucu. Saya pun hanya tersenyum malu-malu. Saya rasa saya memang tipe perempuan yang mudah merasa senang; sesuatu yang menurut saya menjadikan saya salah satu orang paling beruntung di dunia.

Hujan dan secangkir kopi. Melihat senja dari balik jendela taksi. Memotret diri sendiri ;p Memandangi buku-buku yang berjajar memenuhi rak dari langit-langit hingga ke ujung kaki. Berjalan-jalan di tengah kompleks perumahan asing di pagi hari. Memandangi langit dari boncengan ojek di malam hari…

Ya. Saya yakin saya termasuk salah satu orang paling beruntung di dunia karena hal-hal paling sederhana pun sudah bisa merasa bahagia selama beberapa hari.

Di tengah kesibukan yang membuat rambut saya berantakan tak keruan; saya menerima sebuah kejutan yang menyenangkan. Ya, minggu lalu, ketika sudah bersiap-siap untuk tidur, saya menerima kabar bahwa blog saya diresensi oleh seorang jurnalis dari salah satu media terbesar negeri ini. Seseorang yang sehari-hari berkutat dengan kata, tinta, dan pena…

Jadi, malam itu, kaki yang telah dicuci bersih dan telah meringkuk di bawah selimut itu pun menjejak lantai lagi; dengan langkah-langkah kecil menghampiri telepon genggam yang sedang di-charge ulang di dekat meja televisi. Mata yang sudah nyaris terkatup pun membuka kembali untuk membalas kabar tersebut dengan ucapan terima kasih.

“Terima kasih!” 🙂

:: lebaran, dan pesta blogger 2007

Akhirnya! Lebaran sudah beberapa hari berlalu. Sayang memang, harus masuk kantor pada hari Rabu dan tidak tega memperpanjang cuti sampai seminggu. Hahaha, banyak pekerjaan menunggu 🙂

*Minal aidin wal faidzin!*

Tahun ini sedikit berbeda; karena saya mulai membuat kue setelah Lebaran, dan bukan sebelumnya. Alasannya? Karena baru sempat. Hahaha, dan juga supaya kuenya masih ada pada saat Lebaran usai; dan tidak langsung habis pada saat Lebaran. Alasan yang aneh.

Meski singkat, saya menikmati liburan Lebaran saya. Terutama karena setiap maghrib hingga malam hari, hujan turun dengan derasnya. Ah, saya paling suka hujan. Liburan yang dipadukan dengan hujan selalu menjadi demikian berkesan. Selain hujan, ada juga sedikit sensasi deg-degan selama liburan…

Iya, gara-gara Pesta Blogger di Blitz Megaplex yang semakin mendekat. Jadi bercampur-campur antara tegang dan bersemangat.

Kok sudah 9 hari menjelang Pesta Blogger, sih?

Rasanya baru kemarin-kemarin kumpul-kumpul di Anomali untuk briefing, lha, kok tiba-tiba kalender saya yang sudah dilingkari dengan spidol semakin dekat jaraknya dari hari ini?

Akan ketemu siapa saja, ya, di Pesta Blogger nanti? Dengar-dengar Joko Anwar mau datang. Saya mau foto bareng, ah… kalau boleh. Hahaha. Pasti boleh kan, ya? Karena saya salah satu pengagum JA–juga pengamat diam-diam Lost in Punch-Drunk Adaptation of A Spotless Love-nya 🙂

Kamu? Ingin ketemu siapa di Pesta Blogger nanti?

Ah, Sabtu depan, ya… Sampai ketemu semuanya!!!

:: ternyata dia bukan ‘lelaki’

Saya tahu bahwa ia tengah mengandung.

Setelah beberapa bulan lamanya tak pernah mendengar kabar darinya, tiba-tiba ia hadir melalui jendela pesan instan di komputer saya dan berkata:”Saya sedang tidak bisa kemana-mana dan tidak bisa ketemu siapa-siapa saat ini.”

Tiba-tiba saja, saya nyeletuk:”Are you pregnant?”

Ternyata celetukan saya benar. Saya kaget.

And guess what,” ujarnya lagi.
“Apa?” saya menyahut. “Bapaknya nggak mau bertanggung jawab, ya? Karena he’s a married man?”
“Iya! Kok lo tau?!” ia terkejut.

Saya lebih terkejut lagi. Semuanya tidak sengaja. Saya hanya mengatakan apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran saya. Ternyata benar. Ini sedikit mengerikan.

Beberapa bulan lamanya kami tidak bersua; dan saya tidak lagi mendengar kabar darinya. Hingga sore ini; ia kembali hadir dengan perantaraan jendela biru di layar komputer saya itu.

“Jangan pernah tertipu kayak gue, ya,” ujarnya. “Gue merasa benar-benar jatuh cinta, dan benar-benar dicintai, ternyata gue cuma ditipu dan dijadikan mainan. Lo harus tahu, bahwa tampang bisa menipu. Tampang baik-baik dan simpatik, tapi… eh, lo tau, kan, siapa bapak anak gue?”

“Nggak tahu. Siapa memangnya? Gue kenal?”

Dan ia pun menyebutkan satu nama. Nama yang identik dengan seorang lelaki yang ramah, simpatik, pintar, dan sangat charming. Lelaki bertampang baik-baik yang selalu dianggap sebagai kakak lelaki semua orang–karena dia begitu…. nice. Lelaki yang juga saya kagumi karena kualitas-kualitas tersebut; yang ada dalam dirinya.

Dan teman saya itu ternyata bukan satu-satunya. ‘Korban’ lain pun bermunculan di sekitar…

Ketika derita yang sama terbagi, terkuaklah bahwa dahulu, mereka–perempuan-perempuan yang saling benci karena berebut cinta, ternyata sama-sama dikhianati.

Saya shock. Benar-benar tidak menyangka. Kok bisa? Dan saya mendidih. Merasa ikut tertipu. Sosok simpatik yang penuh sopan-santun itu. Dengan tampang baik-baiknya itu. Tiba-tiba saya menjadi lebih marah lagi–justru karena semua kesan ‘baik-baik’ yang menguar dari diri lelaki itu. Saya ikut merasa dikhianati.

Lebih tidak menyangka lagi ketika lelaki itu meminta teman saya melakukan aborsi. “We didn’t plan to have a child,” katanya.

Ketika teman saya menolak untuk menggugurkan kandungannya, lelaki itu meninggalkannya. Begitu saja. Update: Tetapi kemudian ia kembali dan menikahi sang teman secara siri. Beberapa bulan berlalu, dan kini si lelaki kabarnya ingin menceraikan sang teman.

Saya masih tidak bisa berpikir jernih. Beberapa menit saja telah mengubah seluruh pandangan saya tentang lelaki itu.

On a second thought, ternyata dia bukan ‘lelaki’.
Setidaknya, bukan di mata saya.

PS: Karena banyaknya komentar ‘anonymous’ seputar posting ini (berarti ada yang merasa walau saya tak pernah menyebut nama), saya hanya bisa mengatakan bahwa saya memang bercerita dari sudut pandang sang teman perempuan. Kalau ada yang mau menulis posting-an dari sudut pandang sang lelaki di blog lain, dipersilakan 🙂