Monthly Archives: October 2007

:: pulang

Lelaki itu berjalan dengan masa lalu di pundaknya. Beban itu terbagi dua; sama rata. Satu di bahu kiri—perempuan dari masa lalu yang tidak juga menjadi miliknya walau mereka telah lama menebarkan bara. Satu di bahu kanan—perempuan dari masa kini yang tidak bisa ia miliki karena ia masih percaya bahwa dua hati yang saling jatuh cinta pun masih harus tunduk pada norma-norma.

Tetapi mungkin memang bukan itu maksud dari semua ini; dari semua yang sudah terjadi. Mungkin kenangan itulah yang penting. Momen-momen asing yang terkadang membuatnya tersenyum; atau tertunduk. Momen-momen yang menghangatkan hati dan bisa ia mainkan sesuka hati di malam hari; ketika dirinya merasa sepi. Jadi ia tidak pernah menyesal; meski kadang berharap kehidupan menyapunya ke dalam arus yang lain; karena baginya semua tidak penting selama kenangan itu ada.

Karena bukankah satu-satunya hal yang abadi di dunia ini adalah kenangan itu sendiri?

Perempuan itu berjalan dengan masa lalu di pundaknya. Beban itu memberatinya seperti rasa bersalah yang meninggalkan lubang besar dalam hidupnya. Lubang yang bisa dilihat oleh semua orang di dekatnya—kecuali oleh dirinya sendiri. Karena ia tidak merasa berlubang; ia tidak merasa kurang. Mungkin ia hidup dalam penyangkalan atau terlalu menggantungkan diri pada harapan. Mungkin ia masih ingin jatuh cinta meskipun sering merasa bahwa lelaki itu tak berhak atas kehidupannya.

Tetapi mungkin perempuan itu memang hanya merasa bahwa hidupnya terlalu datar dan membosankan. Ia butuh sesuatu yang membuat segalanya menjadi lebih romantis, meskipun tragis. Karena bukankah semua yang romantis itu tragis? Jadi ia tidak pernah menyesal; meski kadang berharap kehidupan menyapunya ke dalam arus yang lain; karena baginya semua tidak penting selama ia bisa merasakan cinta itu berdenyut dalam nadinya.

Tetapi lelaki itu, dan perempuan itu, masih terhanyut dalam pusaran masa lalunya sendiri-sendiri. Masih mencoba untuk mengerti; masih mencoba untuk melangkah; masih mencoba untuk keluar dari pusaran waktu; dan berusaha untuk tidak hidup dalam sebuah kemarin.

Karena apalah yang membedakan kemarin dari sedetik yang lalu, seminggu yang lalu, sebulan yang lalu—atau bahkan sepuluh tahun yang lalu?

Tidak ada.

Kemarin hanyalah sejenis masa lalu yang lain, yang tidak akan pernah bisa berganti menjadi hari yang berbeda, sekeras apapun kita mencoba.

Lelaki itu berkata: “Nietzsche: anything that doesn’t kill you only makes you stronger… “
Dan perempuan itu menyahut: “… stronger, but not happier…”

Dan satu lagi episode aneh itu pun usai pada penghujung malam yang melelahkan.

Mereka tidak bertempur dalam perang yang sama, sehingga yang dapat mereka lakukan hanyalah menepuk bahu dan menyemangati satu sama lain, kemudian melambaikan tangan dan berjalan pergi, sendiri-sendiri, sampai suatu hari nanti mereka bertemu lagi, dan berbicara tentang hal yang sama lagi, dan lagi, dan lagi; berharap suatu hari nanti mereka dapat merasa bosan akan semua ini.

:: akhirnya terjadi juga!

Akhirnya, Pesta Blogger 2007 benar-benar menjadi kenyataan. Masih gak percaya, sebagaimana yang dikatakan Mas Enda sebelum mulai membacakan sambutan. Saya juga merasa demikian.

Seperti mimpi saja.

Tetapi ketika terbangun dengan kaki dan punggung pegal-pegal hari ini, saya baru sadar bahwa ternyata semuanya memang benar-benar terjadi.

Mungkin beginilah rasanya menjadi bagian dari sebuah momen penting dalam sejarah. Saya jadi ingin tahu apa yang dirasakan para pemuda-pemudi Indonesia ketika menyatakan tekad mereka untuk berbangsa, berbahasa, dan bertanah air satu. Sedikit merinding, sedikit gugup, sedikit terharu. Semuanya bercampur aduk menjadi satu.

Ah, dan saya merasa bersalah karena tidak bisa menjadikan momen tersebut sempurna. Masih banyak kekurangan yang ada. Masih banyak yang mencari nasi dan lauk, dan tidak menemukannya di atas meja (meski telah dipesan berlebih untuk 550 porsi hehehe, sungguh mohon maaf yang sebesar-besarnya); waktu pun tidak tersedia cukup lama bagi satu sama lain untuk berfoto bersama atau sekadar bertukar cerita; masih banyak yang kecewa karena tak bisa membawa teman atau pasangan menemani selama acara…

Iya, masih banyak sekali kekurangan yang mudah-mudahan tidak terlalu mengecewakan dan mengurangi esensi hari bersejarah itu bagi mereka yang datang. Saya hanya dapat berharap semua bersedia memaafkan atas segala yang tak berkenan; dan berjanji dalam hati agar di masa mendatang segalanya dapat berjalan lebih baik lagi.

Selamat Hari Blogger Nasional, 27 Oktober 2007…

PS: Mavericks, I love you all… I’m so lucky to have you. Thanks for your great help and tremendous support. *hugs*

:: kejutan di malam hari

“Gampang sekali, ya, untuk membuat kamu senang…”

Demikian yang pernah dikatakan oleh seorang kawan ketika saya sedemikian gembiranya menerima oleh-oleh berupa sekotak kecil permen dengan bungkus yang lucu. Saya pun hanya tersenyum malu-malu. Saya rasa saya memang tipe perempuan yang mudah merasa senang; sesuatu yang menurut saya menjadikan saya salah satu orang paling beruntung di dunia.

Hujan dan secangkir kopi. Melihat senja dari balik jendela taksi. Memotret diri sendiri ;p Memandangi buku-buku yang berjajar memenuhi rak dari langit-langit hingga ke ujung kaki. Berjalan-jalan di tengah kompleks perumahan asing di pagi hari. Memandangi langit dari boncengan ojek di malam hari…

Ya. Saya yakin saya termasuk salah satu orang paling beruntung di dunia karena hal-hal paling sederhana pun sudah bisa merasa bahagia selama beberapa hari.

Di tengah kesibukan yang membuat rambut saya berantakan tak keruan; saya menerima sebuah kejutan yang menyenangkan. Ya, minggu lalu, ketika sudah bersiap-siap untuk tidur, saya menerima kabar bahwa blog saya diresensi oleh seorang jurnalis dari salah satu media terbesar negeri ini. Seseorang yang sehari-hari berkutat dengan kata, tinta, dan pena…

Jadi, malam itu, kaki yang telah dicuci bersih dan telah meringkuk di bawah selimut itu pun menjejak lantai lagi; dengan langkah-langkah kecil menghampiri telepon genggam yang sedang di-charge ulang di dekat meja televisi. Mata yang sudah nyaris terkatup pun membuka kembali untuk membalas kabar tersebut dengan ucapan terima kasih.

“Terima kasih!” :)

:: lebaran, dan pesta blogger 2007

Akhirnya! Lebaran sudah beberapa hari berlalu. Sayang memang, harus masuk kantor pada hari Rabu dan tidak tega memperpanjang cuti sampai seminggu. Hahaha, banyak pekerjaan menunggu :)

*Minal aidin wal faidzin!*

Tahun ini sedikit berbeda; karena saya mulai membuat kue setelah Lebaran, dan bukan sebelumnya. Alasannya? Karena baru sempat. Hahaha, dan juga supaya kuenya masih ada pada saat Lebaran usai; dan tidak langsung habis pada saat Lebaran. Alasan yang aneh.

Meski singkat, saya menikmati liburan Lebaran saya. Terutama karena setiap maghrib hingga malam hari, hujan turun dengan derasnya. Ah, saya paling suka hujan. Liburan yang dipadukan dengan hujan selalu menjadi demikian berkesan. Selain hujan, ada juga sedikit sensasi deg-degan selama liburan…

Iya, gara-gara Pesta Blogger di Blitz Megaplex yang semakin mendekat. Jadi bercampur-campur antara tegang dan bersemangat.

Kok sudah 9 hari menjelang Pesta Blogger, sih?

Rasanya baru kemarin-kemarin kumpul-kumpul di Anomali untuk briefing, lha, kok tiba-tiba kalender saya yang sudah dilingkari dengan spidol semakin dekat jaraknya dari hari ini?

Akan ketemu siapa saja, ya, di Pesta Blogger nanti? Dengar-dengar Joko Anwar mau datang. Saya mau foto bareng, ah… kalau boleh. Hahaha. Pasti boleh kan, ya? Karena saya salah satu pengagum JA–juga pengamat diam-diam Lost in Punch-Drunk Adaptation of A Spotless Love-nya :)

Kamu? Ingin ketemu siapa di Pesta Blogger nanti?

Ah, Sabtu depan, ya… Sampai ketemu semuanya!!!

:: ternyata dia bukan ‘lelaki’

Saya tahu bahwa ia tengah mengandung.

Setelah beberapa bulan lamanya tak pernah mendengar kabar darinya, tiba-tiba ia hadir melalui jendela pesan instan di komputer saya dan berkata:”Saya sedang tidak bisa kemana-mana dan tidak bisa ketemu siapa-siapa saat ini.”

Tiba-tiba saja, saya nyeletuk:”Are you pregnant?”

Ternyata celetukan saya benar. Saya kaget.

And guess what,” ujarnya lagi.
“Apa?” saya menyahut. “Bapaknya nggak mau bertanggung jawab, ya? Karena he’s a married man?”
“Iya! Kok lo tau?!” ia terkejut.

Saya lebih terkejut lagi. Semuanya tidak sengaja. Saya hanya mengatakan apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran saya. Ternyata benar. Ini sedikit mengerikan.

Beberapa bulan lamanya kami tidak bersua; dan saya tidak lagi mendengar kabar darinya. Hingga sore ini; ia kembali hadir dengan perantaraan jendela biru di layar komputer saya itu.

“Jangan pernah tertipu kayak gue, ya,” ujarnya. “Gue merasa benar-benar jatuh cinta, dan benar-benar dicintai, ternyata gue cuma ditipu dan dijadikan mainan. Lo harus tahu, bahwa tampang bisa menipu. Tampang baik-baik dan simpatik, tapi… eh, lo tau, kan, siapa bapak anak gue?”

“Nggak tahu. Siapa memangnya? Gue kenal?”

Dan ia pun menyebutkan satu nama. Nama yang identik dengan seorang lelaki yang ramah, simpatik, pintar, dan sangat charming. Lelaki bertampang baik-baik yang selalu dianggap sebagai kakak lelaki semua orang–karena dia begitu…. nice. Lelaki yang juga saya kagumi karena kualitas-kualitas tersebut; yang ada dalam dirinya.

Dan teman saya itu ternyata bukan satu-satunya. ‘Korban’ lain pun bermunculan di sekitar…

Ketika derita yang sama terbagi, terkuaklah bahwa dahulu, mereka–perempuan-perempuan yang saling benci karena berebut cinta, ternyata sama-sama dikhianati.

Saya shock. Benar-benar tidak menyangka. Kok bisa? Dan saya mendidih. Merasa ikut tertipu. Sosok simpatik yang penuh sopan-santun itu. Dengan tampang baik-baiknya itu. Tiba-tiba saya menjadi lebih marah lagi–justru karena semua kesan ‘baik-baik’ yang menguar dari diri lelaki itu. Saya ikut merasa dikhianati.

Lebih tidak menyangka lagi ketika lelaki itu meminta teman saya melakukan aborsi. “We didn’t plan to have a child,” katanya.

Ketika teman saya menolak untuk menggugurkan kandungannya, lelaki itu meninggalkannya. Begitu saja. Update: Tetapi kemudian ia kembali dan menikahi sang teman secara siri. Beberapa bulan berlalu, dan kini si lelaki kabarnya ingin menceraikan sang teman.

Saya masih tidak bisa berpikir jernih. Beberapa menit saja telah mengubah seluruh pandangan saya tentang lelaki itu.

On a second thought, ternyata dia bukan ‘lelaki’.
Setidaknya, bukan di mata saya.

PS: Karena banyaknya komentar ‘anonymous’ seputar posting ini (berarti ada yang merasa walau saya tak pernah menyebut nama), saya hanya bisa mengatakan bahwa saya memang bercerita dari sudut pandang sang teman perempuan. Kalau ada yang mau menulis posting-an dari sudut pandang sang lelaki di blog lain, dipersilakan :)

:: perjodohan

Lepas maghrib tadi, saya memasang aplikasi Astrology di halaman Facebook saya. Dan ternyata, demikianlah bunyinya:

“Even though it might not seem like it, your cool head is definitely appreciated at times like this. You have to take a hard look at the status of your romantic life. You may have started flirting with someone new, and your sweetheart has taken notice. Ask yourself whether you are happy in your current relationship.”

Dan saya pun bertanya pada diri saya sendiri: romantic life apa? Relationship apa? Sweetheart yang mana? Halo, halo, ada yang bisa memberikan sedikit titik cerah di sini?

Memang capek juga, setiap kali kumpul-kumpul dengan teman lama, atau datang ke pesta-pesta pernikahan, pertanyaan yang sama kembali diulang-ulang,”Eh, sekarang siapa nih, cowoknya?”

(Saya rasa sama lelahnya dengan mereka yang selalu ditanyai, “Kapan nikah?”)

Dan… selama beberapa tahun terakhir ini, jawaban saya tetap sama:”Hahaha, mana, ya? Gak tau, nih. Cariin, dong…”

Saya bercanda.

Tapi sialnya, banyak orang yang menganggap candaan saya itu serius; dan mulai ingin memperkenalkan saya dengan pria-pria lajang. Saya segan. Bukan karena tidak mau membuka hati, tetapi mungkin karena pengalaman pribadi yang tidak bisa dibilang menggoda untuk dicoba lagi.

Entah kenapa, saya selalu tidak beruntung jika dijodohkan. Semua perjodohan yang dirancang mati-matian oleh kawan-kawan saya biasanya gagal total karena satu dan lain hal. Ada yang terlalu pendiam, ada yang terlalu ramai. Ada yang terlalu blingsatan, ada juga yang terlalu kalem. Ada yang terlalu serius, ada juga yang terlalu tidak serius. Ada yang terlalu percaya diri, ada yang terlalu rendah diri.

Uh.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin semua itu dikarenakan ego saya juga; yang sekadar ingin membuktikan pada teman-teman saya bahwa perjodohan yang mereka atur tidak akan berhasil…

Atau memang saya saja yang masih membandel dan memilih untuk sendiri ketimbang harus berkompromi?

:: potong rambut

[Di salon sore tadi, sambil melihat-lihat model rambut dan menunggu waktu berbuka puasa, saya asyik mendengarkan percakapan tiga orang ibu-ibu yang tengah mempercantik diri dan duduk berjajar dalam satu barisan…]

Ibu X: Lho, Ibu piara anjing, toh? Saya sih piara kucing… soalnya… anjing kan haram. Lagipula, kucing itu binatang kesayangan Nabi.

Ibu Y: Oh, saya juga Muslim, Bu. Kalau saya tidak salah, dalam agama kita ada kisah tentang seorang pelacur yang memberi minum seekor anjing yang kehausan; dan pelacur tadi malah diangkat masuk ke surga. Bukankah anjing juga ciptaan Tuhan, Bu? Ayo, lebih baik mana, memelihara anjing atau korupsi? Kalau memberangkatkan orang tua naik haji dengan uang hasil korupsi, haram tidak? Atau lebih baik memelihara dan memberi makan anjing dengan uang halal?

[Saya tersenyum-senyum sendiri sambil menimbang-nimbang apakah akan meng-highlight rambut saya atau tidak.]

Ibu Z: Eh, eh, kalau poligami bagaimana? Memang diperbolehkan, ya, di agama situ?

Ibu X: Oh, iya, Nabi juga kan berpoligami. Poligami itu mengangkat harkat para janda.

Ibu Y: Lho, kenapa mau mengangkat harkat saja harus berpoligami? Memangnya kalau ada janda yang bisa meraih sukses dan berdiri di atas kaki sendiri itu tidak terhormat? Masak mau mengangkat harkat saja harus berpoligami dan menikah dengan suami orang? Kalau saya sih, emoh.

Ibu Z: Cuma dalih laki-laki saja itu sih, ya, Bu?

[Saya beringsut-ingsut menuju ruang sebelah untuk mencuci rambut, namun suara mereka masih terdengar nyaring di telinga…]

Ibu Y: Yah, memang lelaki, kalau ditanya tentang poligami, pasti berdalih karena ingin mengikuti teladan Nabi. Lha, kucing itu kan binatang peliharaan Nabi; binatang kesayangan Nabi. Kok di jalanan banyak kucing terlantar, terus ditendang-tendang, dilempar batu. Gimana, ini? Kan terbalik-balik, toh. Meneladaninya milih-milih; pilihan favoritnya poligami.

Ibu Z: Iya, ya, Bu. Benar, benar. Saya setuju itu.

Ibu Y: Mana, mana, kebersihan juga katanya sebagian dari iman. Lha, harusnya Indonesia ini jadi negara paling bersih, dong. Katanya penduduk Muslim-nya paling banyak di dunia… nyatanya, mana? Sama Singapura saja jauh kemana-mana…

[Syurrr. Keran dinyalakan. Sementara rambut saya mulai dicuci, rambut ibu-ibu tadi mulai di-blow. Di tengah deru hair dryer yang begitu kencang, saya tidak bisa lagi mendengar kelanjutan percakapan menarik itu. Tetapi ketika saya kembali dari mencuci rambut, Ibu X tadi sudah tak kelihatan lagi batang hidungnya–dan yang tertinggal hanyalah sisa-sisa rambut ikalnya.]

:: taksi, dan 60 kilometer di depan

Ya, 60 kilometer jarak yang memisahkan antara Bogor dan Jakarta memang bisa diterjemahkan secara beragam: 45 menit, 1 jam, 1.5 jam, sampai 2 jam–tergantung padat atau lengangnya arus lalu-lintas. Dan pada beberapa kesempatan ketika saya harus pulang larut malam, saya pun menempuh jarak 60 kilometer itu dengan armada taksi yang satu ini.

Karena beberapa bulan terakhir ini saya agak kerap ‘menumpang’ burung-burung biru ini untuk pulang, saya pun mulai memilah-milah dan me-rating pengalaman saya selama perjalanan, dari bangku belakang taksi-taksi yang saya tumpangi.

Ternyata, meskipun mereka bernaung di bawah perusahaan yang sama, dengan pengemudi yang berbeda-beda, saya tetap saja memiliki pengalaman yang berbeda-beda; yang saya urutkan mulai dari yang paling ‘menyenangkan’ sampai yang paling menyebalkan:

Di peringkat pertama dalam daftar favorit saya adalah ketika mendapatkan pengemudi yang ramah dan bisa menyetir dengan mulus sepanjang perjalanan; kemudian dia berkata dengan penuh pengertian,”Mbak, kalau ngantuk istirahat saja, lho. Nanti saya beri tahu kalau sudah dekat Bogor.”

Wah, dan saya pun akan langsung menatap keluar dari jendela di sisi kiri wajah saya, melamun, berpikir, menulis dan menabur aksara dalam benak yang diterangi lampu-lampu rem merah menyala dan ilusi gelap-terang gelap-terang yang menyirami wajah saya ketika tengah melaju di jalan bebas hambatan. Waktu untuk berpikir dan berkontemplasi selalu menjadi keistimewaan tersendiri bagi saya. Terima kasih karena sudah mengerti, Pak Pengemudi! :)

Di peringkat kedua adalah ketika mendapatkan pengemudi yang ramah, bisa menyetir dengan mulus sepanjang perjalanan, dan kami akan mengobrol terus tentang berbagai hal hingga taksi berhenti di depan pagar rumah. Yang paling mengagumkan adalah jika mendengar pengemudi-pengemudi yang sudah 10, bahkan 17 tahun bekerja di perusahaan taksi yang sama.

Menarik sekali mendengar bagaimana mereka bercerita tentang perusahaan mereka, kebijakannya, orang-orangnya, maintenance untuk taksi-taksi mereka, keamanan, kenyamanan, dan sebagainya. Saya selalu menemukan topik ini menarik, karena si pengemudi dengan asyik bercerita dan saya bisa mendengarkan sayup-sayup sampai :)

Perjalanan jauh pun tidak terasa karena kami terus berbincang. Mereka punya bakat natural menjadi juru bicara perusahaan!

Di peringkat ketiga adalah ketika mendapatkan pengemudi yang ramah, bisa menyetir dengan mulus sepanjang perjalanan, dan ia akan mulai bercerita mengenai kehidupan pribadinya. Saya tahu kisah perantauannya, kisah cinta, masalah rumah tangga, anak-anaknya, sampai orangtuanya [Duh, too much information…]

Kemudian ia bertanya:
“Maaf, kalau Mbak sudah menikah?”

Kemudian saya jawab,”Belum.”

Dan saya mulai sebal ketika ia berkata,”Mbak, sih, mungkin terlalu pilih-pilih…” dan mulai ‘menceramahi’ saya, “Iya, memang sekarang ini perempuan kebanyakan mau berkarir, tidak memikirkan pernikahan. Padahal…”

Huh. Dan saya pun, berkata,”Maaf, Pak. Ada telepon…” dan pura-pura berbicara di telepon dengan teman yang tidak ada di line seberang :) [Maaf, Pak, that issue you brought up is too personal…]

Tapi yang berada di peringkat terakhir adalah ketika mendapatkan pengemudi yang tidak komunikatif sama sekali, sekaligus menyetir dengan cara yang membuat saya khawatir. Rem-gas-rem-gas dan menyalip dengan manuver yang tidak meyakinkan. Serba salah. Terbangun saya bosan, tertidur merasa tidak aman.

Jadilah saya duduk tegak di jok belakang, menatap jalanan dan mobil-mobil yang lalu-lalang, sambil berdoa sekaligus misuh-misuh dalam hati.

Di luar keempat kasus itu, saya juga menemukan pengemudi yang ‘jujur':
“Mbak, mohon maaf sebelumnya. Saya baru 2 hari bawa taksi ini. Jadi saya belum tahu jalan, maaf sekali.”

Karena kebetulan saya tahu jalan, tidak masalah bagi saya, hingga kemudian kami tiba di depan Plaza Bapindo dan berhenti beberapa lama di depan entrance. Akhirnya saya jengukkan kepala ke depan. Ada apa, ya… dan si pengemudi pun menoleh ke belakang.

“Mbak ini kok karcisnya nggak keluar…”
“Oh, harus ditekan dulu, Pak, tombol yang itu…”

Dan si pengemudi tersenyum malu-malu,”Oh, begitu. Maaf, Mbak, baru sekali ke gedung ini.”

Kali lain, saya masuk ke dalam taksi dan duduk di jok belakang, ketika si pengemudi menoleh dan menawarkan sekotak permen pedas dan sekantong keripik. “Silakan, Mbak. Mau?”

Saya terkejut.
“Oh, ya, terima kasih, Pak. Saya sedang makan permen juga, kok.”

Lalu Bapak di depan menjulurkan dua botol air mineral.
“Mbak, kalau haus silakan minum, lho.”

Saya makin terkejut; hingga Bapak pengemudi mengulurkan beberapa majalah.
“Kalau mau baca-baca, silakan…”

Keterkejutan saya pun mencapai puncaknya. “Es kelapa ada, Pak?” saya bertanya, untung-untungan. “Wah, sejak kapan armada ini menyediakan layanan ini, Pak?”

“Nggak, ini cuma di taksi saya saja, Mbak. Biar beda,” jawab si Bapak sambil tertawa.

Wah, canggih juga.

Rupanya Bapak ini ingin mengikuti salah satu waralaba ayam goreng, yang punya gerai eksklusif di Kemang–berbeda dengan gerai di tempat-tempat lainnya.

:: blogosophy

Pernahkah kamu merasa begitu kecil dan tidak berarti?

Tahu, kan?

Perasaan yang tiba-tiba menyelinap ketika kamu tengah berjalan-jalan di tepi pantai dan melihat matahari terbenam (klise). Atau ketika tengah berada di boncengan ojek pada malam hari, dengan rambut berkibar-kibar tertiup angin, kemudian menengadah dan memandangi bintang-bintang di langit (tidak terlalu klise dan tidak memakai helm ;p)

Baru-baru ini perasaan yang sama mengitari saya seperti genangan air semata kaki, yang selalu berkecipak ketika terpijak. Ya, ketika beberapa waktu lalu saya bertemu blogger-blogger terkemuka yang saya kagumi tulisan-tulisa
nnya. Yang pengetahuannya tentang blog jauh melebihi saya. Ya, saya, yang masih begitu bangga dengan diri sendiri hanya karena bisa memiliki expandable post alias kata-kata read more yang bisa di-klik di bawah posting-an saya.

Tetapi bertemu dengan wajah-wajah di balik lembar-lembar yang saya kagumi itu, live, masih terasa seperti mimpi. Dan saya pun berpikir, kapan saya bisa seperti mereka? Menggunakan blog saya untuk sesuatu yang lebih berguna? Sesuatu yang lebih universal alih-alih personal? Memberikan inspirasi sekaligus motivasi?

Mudah-mudahan suatu hari nanti saya juga bisa seperti mereka, ya.
Ah, doakan :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,116 other followers

%d bloggers like this: