:: menilai

Setelah membaca ratusan karya dalam waktu 3 hari saja, kini masih tertinggal 215 karya lagi yang harus dicermati. Dan proses seleksi menjadi lebih sulit karena memilih yang terbaik di antara yang terbaik bukanlah perkara mudah.

Belum lagi ditambah dengan kesempurnaan dan ketidaksempurnaan yang berbaur dalam setiap cerita. Setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Lantas bagaimana memilah kekuatan mana yang lebih tinggi dari kekuatan lainnya; atau kelemahan mana yang lebih patut tereliminasi dibandingkan kelemahan lainnya?

Menghadapi 215 karya yang tersisa membuat saya diliputi perasaan bersalah; karena saya tidak ingin memilih yang satu dan mengeliminasi yang lain–tetapi harus. Dihadapkan pada subjektivitas yang mau tak mau selalu ada ketika kita menilai sesuatu secara kualitatif juga tidak membuat keadaan menjadi lebih baik.

Tetapi… mungkin dalam hidup ini, sadar atau tidak, kita selalu menilai. Menyisihkan yang satu dan merangkul yang lain. Lebih kerap, pilihan kita bukan didasarkan pada baik-buruknya sesuatu secara fisik–maupun non-fisik. Tetapi didasarkan pada seberapa jernih pilihan itu mencerminkan diri kita.

Diri kita yang tidak sempurna…

PS: Untuk seluruh panitia kumcer, selamat bekerja! Tetap semangat!


:: satir pagi hari

Insiden itu terjadi tepat di perempatan kecil tak jauh dari Apartemen Prapanca.

Sebuah bajaj menabrak sebuah gerobak kosong yang ditarik seorang lelaki. Lampu depan bajaj itu pun terlepas dan menggelinding di jalanan, nyaris tergilas roda depannya sendiri; sementara si gerobak melenggang santai dalam kondisi sempurna—tak kurang suatu apa.

Yang kemudian terjadi adalah saya dan kawan-kawan yang terbahak-bahak di dalam mobil, dua orang Polantas yang melihat kejadian tersebut seraya menahan tawa, penarik gerobak yang tertawa keras terang-terangan, dan pengemudi bajaj yang nampak sedikit kesal, namun tidak berniat ribut-ribut. Untuk apa ribut-ribut? Bagaimana si pengemudi bajaj bisa menuntut ganti rugi pada si penarik gerobak? Siapa di antara mereka berdua yang mengasuransikan ‘kendaraannya’?

Insiden kecil pagi itu pun ditutup dengan derai tawa, sedikit gondok di hati bagi si pengemudi bajaj, dan tekad untuk melanjutkan hari yang masih pagi.

Kemudian saya teringat: beberapa minggu lalu, sedan seorang teman tak sengaja bersinggungan dengan SUV seorang ekspatriat dalam perjalanan menuju kantor. Dan insiden ini diikuti dengan tuntutan bertubi-tubi, klaim asuransi, tarik urat leher karena teman saya diminta menyediakan mobil pengganti untuk sang ekspatriat yang sebenarnya masih memiliki 2 buah mobil di garasi rumah mewahnya.

Benarkah bahwa semakin banyak yang kita punya; semakin besar keterikatan kita terhadapnya?


:: ingatan tentang kerikil dalam segelas ice lemon tea

Perempuan itu duduk di bawah kehangatan sinar matahari; menjemur kulitnya yang terasa dingin setelah diterpa air conditioner selama beberapa jam, sementara lagu itu berputar-putar dalam benaknya yang mengantuk. Better Together-nya Jack Johnson. Dan kalimat yang sama merayap di sela-sela kerikil abu-abu yang tergilas sepatu haknya:

Yeah, we’ll look at the stars when we’re together.
Well, it’s always better when we’re together.

Ia menggilas lebih banyak kerikil lagi dengan ujung-ujung sepatunya, membuat suara-suara berkeletik dan bergemeretak yang terasa nyaman di telinganya. Suara yang bergema dari sudut-sudut kaca yang mengelilinginya. Masa lalu selalu menjadi candu dalam hidupnya.

Maka ia pun berusaha menghentikan suara-suara kerikil itu dengan segelas ice lemon tea. Namun suara kerikil lain mengisi dasar gelasnya dan terperangkap di sana selama beberapa waktu:


“KEHIDUPANKU terbiasa melalui jalan setapak yang lurus—dengan semak-semak berbunga yang menyenangkan untuk dilihat di sepanjang jalan. Tetapi sejak kamu hadir, jalan itu mendadak dipenuhi kerikil dan batu-batu besar, juga sedikit lubang, yang menyebabkan aku sering terantuk ketika tengah tidak siap, atau jatuh tersandung ketika tengah begitu terburu-buru mengejarmu di lain waktu.

Itulah sebabnya aku membutuhkan seseorang tempat aku berpegangan jika aku nyaris jatuh. Seseorang yang dapat berjalan di sisiku; sehingga ada dua bayangan yang tercipta di atas tanah yang kupijak. Tidak menyenangkan jika aku hanya punya satu bayangan, sementara kamu yang berjalan beberapa meter di depanku, selalu memiliki dua bayangan. Bayangan yang begitu berdekatan.

Maka aku memutuskan untuk mencari satu bayangan lagi yang akan membuatku merasa diinginkan. Agar aku tak selalu merasa ditinggalkan ketika kamu berjalan bersisian dengan kekasihmu. Dan agar kamu tahu bahwa ada orang lain yang menginginkanku—meskipun orang itu bukan kamu.

Tetapi ternyata bayangan itu hadir dalam dirinya.

Dia, yang begitu berbeda denganmu; karena dia putih, seperti aku. Kami begitu mirip satu sama lain. Ketertarikanku padanya begitu platonis, meski ia sangat romantis. Tetapi ledakan-ledakan yang kurasakan saat aku bersamamu tak bisa kurasakan dengannya, sekeras apapun aku mencoba. Tak ada kupu-kupu yang beterbangan dalam perutku; tak ada getar-getar itu; tak ada letupan kecil ketika tak sengaja tangan kami bersentuhan. Tak ada percikan kembang api itu ketika aku menatap matanya.

Kemudian kusadari bahwa semakin keras aku mencoba mencari dirimu di dalam dirinya, semakin aku tak menemukanmu; dan semakin aku kehilangannya…”


:: rockin’ girl blogger award

Saya merasa demikian tersanjung ketika Ayu–seorang kawan di komunitas penulis kemudian.com, ‘menghadiahi’ saya Rockin’ Girl Blogger Award yang berwarna merah muda itu :)

Karenanya, sesuai dengan ritual Rockin Girl Blogger Award, kini adalah saat bagi saya untuk memberikan penghargaan ini kepada 5 orang blogger perempuan yang telah begitu banyak memberikan inspirasi dalam hidup saya:

1. Atta, dalam negeri kecilnya, negeri dimana langit selalu senja. Atta yang selalu berusaha memaknai hidup; bahkan sampai pada detail-detail terkecilnya. Atta yang mencari cinta, yang berusaha mengatasi kehilangan dan akhirnya mendapatkan tambatan hati. Atta, yang tulisan-tulisannya selalu saya nanti-nanti.

2. Nila Tanzil, teman berbagi kebahagiaan-kebahagiaan kecil: notes lucu, pensil-pensil kayu, berondong jagung, hingga cerita-cerita sebelum tidur yang dibisikkan di bawah kelambu. Yang dalam beberapa tahun terakhir ini terus ditimpa berbagai cobaan namun tetap berjuang untuk tegar, karena dia istimewa.

3. Mbak Lita, yang selalu bisa memberikan saya insight ke dalam kehidupan seorang ibu yang bekerja; dan memahami bagaimana kehidupan dan cinta yang mengikat seorang ibu dan anaknya adalah hadiah terindah yang bisa diberikan hidup untuk kita. PS: Mbak, aku sudah tanya, penerima award ini tidak harus ‘girl’ kok :)

4. Marianne, yang tulisan-tulisannya saya cetak dan saya jilid sehingga dapat saya baca setiap malam. Karena melalui tulisan-tulisannya saya merasa tidak sendirian.

5. Mbak Eva, a true zinester, yang selalu bisa membuka mata saya terhadap berbagai hal yang ada di dunia ini; yang selalu memiliki ide-ide menarik (sehingga saya selalu ingin turut ambil bagian di dalamnya). Seseorang yang selalu menjadi dirinya sendiri, apa adanya, karena ia tidak tahu bagaimana caranya menjadi orang lain. How cool is that?

Ah, terima kasih karena telah memberikan inspirasi. Kini giliran kalian yang memberikan award ini kepada 5 blogger perempuan lainnya…

Pass it on, ladies :)


:: 24

Ulang tahunnya yang ke-24, dan lelaki itu menghadiahinya sekotak terang dan secangkir kehangatan yang sudah lama ia idam-idamkan; sesuatu yang ia pikir tak akan pernah ia dapatkan seumur hidupnya.

Maka ia berkata pada dirinya sendiri hari itu, bahwa ulang tahunnya yang ke-24 itu adalah ulang tahunnya yang terindah selama 24 tahun hidupnya–setidaknya sejauh yang bisa diingatnya.

Bagaimana tidak?

Selain sekotak terang dan secangkir kehangatan yang diberikan lelaki itu, ia juga mendapatkan 3 buah perayaan kecil dan 3 buah kue ulang tahun (cokelat, blueberry, dan lemon-cheese),‘seekor kucing berwarna kuning’, dan sebuah cerita.

Ulang tahunnya yang ke-24, dan untuk yang pertama kalinya, karena satu dan lain hal, atau semata karena kecanggihan teknologi yang selalu mengingatkan tanpa diminta, lelaki itu tidak melupakan ulang tahunnya (seperti yang sudah-sudah).

Lelaki itu bahkan menghadiahinya sekotak terang dan secangkir kehangatan yang sudah lama ia idam-idamkan; sesuatu yang ia pikir tak akan pernah ia dapatkan seumur hidupnya.

Ia tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya; sekotak terang dan secangkir kehangatan itu; karena semuanya terasa memercik tenang tetapi tidak meledak-ledak. Jauh berbeda dari yang ia bayangkan sebelumnya. Mungkin karena ia tidak lagi jatuh cinta. Mungkin karena ia sudah menunggu terlalu lama. Mungkin karena ia tidak percaya lagi pada getaran-getaran yang dulu selalu dinantinya.

Ulang tahunnya yang ke-24, tetapi ia merasa seperti berusia 17. Hanya saja, kali ini, ia bahagia.

——————

PS: Lilin dalam gambar ini bisa dipesan lho :)


:: ketika seorang perempuan kehilangan kepercayaan

Perempuan yang tidak pernah ingin beranjak dewasa itu tertipu lagi–oleh seorang kawan baik.

Bertahun-tahun lalu ia pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak terlalu baik pada orang lain, bahkan pada kawan sendiri–karena kawan-kawannya seringkali menikamnya dari belakang; dan bahkan tak menyadari bahwa mereka telah menyakiti perasaan perempuan itu.

Dan pengkhianatan yang dilakukan seorang kawan seringkali terasa jutaan kali lebih menyakitkan.

Tetapi tahun ini, perempuan yang tidak pernah ingin beranjak dewasa itu memutuskan untuk memulihkan kepercayaannya pada pertemanan dan membantu seorang kawan lama. [Ah, kali ini ia pasti sungguh-sungguh membutuhkan bantuan dan bukan hanya ingin memanfaatkanku, pikir si perempuan]. Maka ia pun merelakan akhir minggunya dihabiskan dengan begadang hingga dini hari, meskipun minggu-minggu itu ia terserang flu.

Kemudian perempuan yang tidak pernah ingin beranjak dewasa itu ditinggalkan begitu saja; janji yang seharusnya dipenuhi sang kawan tiba-tiba tak terdengar kabar beritanya. Si perempuan mengirimkan SMS bertubi-tubi; masih sangat sopan; menagih janji yang seakan terlupakan.

SMS-nya tidak berbalas.

Si perempuan mengutuki diri sendiri karena telah tertipu lagi. Karena telah membiarkan dirinya bersedia membantu dan mengorbankan banyak hal hanya demi pertemanan; tanpa menyadari bahwa ia hanya dimanfaatkan oleh sang kawan.

Perempuan yang tidak pernah ingin beranjak dewasa itu sedikit marah, sedikit sedih, sedikit kecewa, sedikit geram, namun lebih banyak terluka. Ini bukan yang pertama, kedua, ketiga, atau keempat kalinya ia dikhianati oleh kawan baiknya.

Perempuan itu pun berjanji tidak akan pernah percaya lagi sepenuhnya pada kawan-kawan dan ia pun semakin meragukan apakah kawan-kawan benar-benar ada…


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,869 other followers