Pudar.

It hurts.
Saya melesak semakin dalam bersama setiap kata yang kamu ucapkan. Ternyata pertemuan ini sama sekali tidak menyenangkan. Kenapa kamu selalu kembali di saat saya sudah merasa baik-baik saja sendirian?

Saya muak.
Cerita ini selalu berulang dengan akhir yang berbeda setiap kalinya, tetapi tidak pernah berakhir sesuai dengan apa yang saya inginkan. Episode ini semakin lama menjadi semakin tidak lucu.

Saya capek.

Kemudian getar itu mengalihkan perhatian saya dari duniamu yang tidak pernah bisa saya mengerti (karena saya tidak pernah sungguh-sungguh ada di dalamnya).

“I’m at Kafe Pisa. Wish you were here; helping me with this yummy bella-ritz.”

Saya terharu. Bukan karena getar itu hadir ketika saya sedang merasa sedemikian terpuruk. Bukan pula karena bella-ritz ternyata masih ada setelah sekian lama. Tetapi karena dia ingat.

Inilah satu-satunya dunia yang saya pahami. Dan kamu tidak ada di sana.


The supergirl got ill part 2

Lying sick in my bed from Wednesday throughout last weekend, my bedroom had turned into a small clinic. There were glasses of hot water, tea, and Swiss Miss chocolate, bottles of orange juice and vitamin C, a carton of UHT milk, biscuits and fruit pies, pills and tablets of all kinds, aspirin and peppermint syrup, thermometer, extra blankets …

On Wednesday and Thursday I practically couldn’t do anything beside sleeping and eating, because whenever I opened my eyes, this terrible headache struck me. I spent those days sleeping like a log. I slept from 6 am to 10 am, woke up to wash my face, ate a little this and that, and got back to sleep from 12 to 5 pm, had dinner, and got back to sleep at 9. When I was awaken by a loud voice or something and I couldn’t get back to sleep, I turned on the TV as a mean of entertainment; but I muted the volume because the sound made my headache worse.

The high fever persisted until Saturday, but the headache ended on Friday morning—good news! I spent the whole weekend snuggling in my bed, burning jasmine incense while finishing Chris Anderson’s The Long Tail, Rilke’s Letters to A Young Poet, and Steven Johnson’s Everything Bad Is Good For You.

Ah, so sad. Actually I’ve planned to giggle and have fun during my night out with the Mavs on Friday: having dinner, go-carting, and clubbing at Embassy. I heard the go-carting part didn’t go as planned since it was raining heavily (my luck!) hehehe.

Anyway, I was about to SMS Yasha on Friday, asking him if Joko Anwar would come to our sharing session that afternoon. But I decided not to do so. I was afraid that Yasha would answer my SMS with a YES, and broke my heart in an instant. I came to the office this morning and found out that Joko’s sharing session would be rescheduled. What a relief! Don’t you dare to throw a sharing session with Joko if I’m not around, ya! Just access our Google calendar to find out my available schedule hehehe ;p

IMG. http://img.engadget.com/common/images/3126770688156435.JPG?0.5232411011347333


We don’t have much, but we have each other…

Sebuah jendela yang sudah lama tak terbuka.

Saya bahkan tidak tahu bahwa jendela itu ada. Sampai akhirnya dia membuka jendela itu dan muncul di hadapan saya.

Kami mulai dari nada; sesuatu yang sejak dulu menjadi kegemaran kami berdua, kemudian jendela itu terisi dengan kata-kata, begitu saja; baris demi baris memenuhi bingkainya dengan masa-masa ketika kami belum dewasa.

Tetapi waktu mengubah segalanya, juga cara dia memandang dirinya. Dia, pelan-pelan melepaskan mimpinya. Dia, yang dulu begitu yakin dengan apa yang dia punya, kini mengaku telah lebih ‘realistis’ dalam menjalani hidupnya. Dia, yang justru saya kagumi karena talenta dan rasa percaya diri yang dimilikinya, memutuskan untuk menjalani hidup secara ‘biasa-biasa’ saja.

Tetapi dia memang sudah dewasa, karena dulu, tidak pernah terlintas dalam benak saya bahwa ia akan mengatakan sesuatu seperti ini: “We don’t have much, but we have each other“.

Kita semua memang sudah dewasa; tetapi haruskah kita tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang skeptis dan realistis, orang-orang dewasa yang selalu kita benci ketika kita masih sangat muda; ketika kita masih percaya bahwa kita bisa melakukan apa saja?

Saya masih percaya bahwa kita bisa melakukan apa saja. Meskipun kita sudah dewasa. Dan saya berharap kamu juga masih memiliki keyakinan yang sama.

IMG. http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/db/Window2006-05-21.JPG/
180px-Window2006-05-21.JPG


Terlambat untuk saat ini, terlambatkah untuk nanti?

Bahkan lama setelah kamu pergi, saya masih bisa mengingatmu dengan intensitas yang jauh lebih kerap dibandingkan saat-saat yang sudah lama lewat; saat-saat ketika kamu masih di sini.

Betapa jarak 20 sentimeter pada globe seukuran bola basket yang memisahkan titik tempat saya berdiri dan tempat kamu berada justru membuat kamu terasa lebih dekat; ketika detail-detail mengenai kamu melekat lebih erat, ketika saya bisa melebur semua tentangmu yang tiba-tiba menjadi jauh lebih pekat.


Ketika jarak justru menghadirkanmu layaknya saripati: menjelma sekeping biji kopi yang mampu menghadirkan rasa pada bercangkir-cangkir kehangatan; dan menyisakan keterjagaan pada malam-malam yang terlalu panjang untuk dilalui sendirian.

Tetapi ternyata dia yang menemani saya menghabiskan salah satu malam yang terlalu panjang itu. Malam-malam yang biasanya saya lalui sendirian. Ternyata dia yang menunggu di depan pintu ketika sendok, cangkir, dan piring kecil berakhir di pinggir bak-bak cuci piring, ketika bangku-bangku berkaki tiga diletakkan secara terbalik di atas meja, ketika satu per satu lampu dipadamkan dan kerai-kerai diturunkan.

Ketika bait-bait terakhir dari Nelly Furtado semakin sayup-sayup pada telinga saya yang tak lagi ingin mendengar: flames to dust, lovers to friends, why do all good things come to an end…

Dan yang terpenting, dia hadir ketika sekeping biji kopi hanya mampu menyisakan seonggok ampas di dasar gelas.

Dia.
Bukan kamu.

“Wah, udah lama ya, kita nggak ketemu. Nggak ngobrol-ngobrol lagi kayak dulu. Gimana kabar kamu? Anything new?”

Terlambat mungkin bukan kata yang tepat. Saya juga tidak bermaksud secepat ini undur diri. Hanya saja, untuk sementara waktu, biarkan saya terbiasa dengan rasa nyaman tanpa kehadiran kamu di sini. Untuk bisa sekali lagi menikmati waktu yang berjalan lebih pelan, dan mencermati kehidupan saya yang bergerak dengan lebih terkendali sejak kamu pergi. Jangan kembali secepat ini.

“Ijinkan saya untuk jatuh cinta lagi dengan seseorang selain kamu.”

Ini belum saatnya kita memulai kembali. Saya belum menginginkan air mata itu lagi. Mungkin nanti. Semoga ampas itu masih menyisakan rasa. Walau sedikit. Semoga. Because I miss you. I really do.


Awan yang aneh …

Minggu siang yang lengas, langit cerah. Segaris awan yang aneh di saat terik mencapai klimaks. Klik.


Terabadikan.


Pindah.

Akhirnya saya kembali ke sudut ini, dekat dengan jendela-jendela kaca yang menghadap ke taman. Bisa melihat hujan. Daun-daunan. Bebatuan. Tikus-tikus kecil berlarian. Sekarang juga ditingkahi ‘telur’ Shilla yang menyala putih terang. Kadang-kadang terlihat seperti bulan.

Ketika sibuk pindahan pada Jumat petang sebelum liburan, (setelah menyelesaikan satu ‘porsi’ jigsaw puzzle di meja tengah bersama seluruh Mavericks) saya menemukan beberapa keping CD tanpa label. Baru kemarin saya sempat memutar CD-CD itu atas nama keingintahuan.

Ternyata ada kamu di sana, muncul di layar secara mengejutkan. Kamu yang tengah dilanda kesibukan tetapi entah bagaimana tetap terlihat mengagumkan. Suara kamu terdengar samar-samar, di latar belakang.

Lalu ada saya, muncul di kejauhan. Hanya terlihat separuh badan. Ada dinding di antara kita. Kursi-kursi. Kawan-kawanmu. Kawan-kawan saya. Ada jarak. Terlalu jauh. Jarak yang tidak bisa lagi diisi dengan rangkaian SMS di pagi buta, ketika kantuk enggan datang menyela.

Oh, well, mungkin memang sudah saatnya bagi saya untuk ‘pindah’.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,006 other followers