So this is how it feels to be free.

Probably it started out that day, when we had a small reunion on Friday night to celebrate a friend’s birthday. No, actually, we forced the birthday boy to treat us dinner :)

So, there we were, laughing like hell in a small Japanese food-stall along Pajajaran street. It was like going back to those days when we were still in highschool. We surprised Rey, the lucky birthday boy, with a blueberry cake with 5 candles on top of it. (Sorry, we only got 5 candles for free ;p)

The blueberry cake was yummy, as well as the food … and the laughter we had was more than satisfying.

I couldn’t remember the last time I laughed this way; laughing until my stomach hurts like hell, my throat is getting sore, and my eyes get teary. There were six of us: me, the birthday boy, my lovely brother, the tulalit CEO, the Dusaspun guy, and my orange sister.

We laughed out loud the whole night, like the world was ours. Like nobody else were eating at that small Japanese food-stall. Like they weren’t bothered by the loud noise we created. We just didn’t care. At that time, we are the world.

So this is how it feels to be free…

I came home that night with this beautiful feeling lingering inside of me. I guessed I was tired of being sad. Tired of being this melancholic brat who whined about her love life all the time. Tired of waiting in uncertainty. Tired of spending my life this way. On top of that, I’m tired of loving someone so selfishly …

Crossed my mind then, that it must have been a burden for him to be loved this way, to be loved with lots of sadness, anger, and disappointment.

I blamed him for the condition I was in, but I have never admitted the fact that I was the one who drawn myself into this condition. I have chosen to put myself in this unlikely situation (and I was kind of enjoying the pain it caused–does it mean that I have a tendency of being a masochist?!!)–and it wasn’t fair that I cursed him for all my sufferings.

To be bold, it was all my fault.
I should be held responsible for all the ‘misfortune’ that have happened in my life, and he’s got nothing to do with it.

Now I know where did the ‘guilty feeling’ came from. It wasn’t from the regret for not being able to tell him my true feelings, but it was creeping from this unconscious mind of mine, telling me that I was wrong for I have loving him so selfishly.

That my love hurts him in many ways I can’t comprehend. That the negative energy did struck him in one and other way, and have made him unhappy.

Darling, for this late consciousness, I owe you an apology.
I am really sorry.

I will always pray for you: that you will live a happy life, be blessed with lots of love, and have such a wonderful relationships along the way … and I hope you’ll remember this:

Yes, I do have beautiful old memories about you,
and I cherish those memories with all my heart,
and that you will always have a friend in me.

This I promise you :)

IMG. http://www.glarkware.com/media/product_main_u_sorry.jpg
IMG. http://www.glarkware.com/media/product_main_g_sorry.jpg


The New Me!

Hello to a lovely new beginning!!!

Finally, no more ‘it’s-complicated’ thing on my friendster profile, nor in my heart. I am now simply single, and … happy, and proud of being one :) And yes, my heart does feel a little (no, a lot!) lighter.

I’m free to fly! Are you? :)


minal aidin wal faidzin …

First of all, let me say “minal aidin wal faidzin” to you all, lovelies ☺

To me, this year’s Eid is amazing. Amongst those amazing things that happened to me since Monday, the fact is, I have received around 100-and-so Happy Eid text messages up to now!

Wow. That was just fantastic. It’s better than best! I mean, I’m not a famous person—not even close. 50 SMS is too kind. Can you imagine how it feels when the numbers go to 100?

Awesome! ☺

I was astonished yet afraid that I have accidentaly missed replying some messages. So, if you feel like I haven’t respond to yours, please forgive me. I didn’t mean to. Seriously.

Anyway, have a wonderful Eid-il-Fitr, silent soulers! May peace lead us to our own humble glory, always. And remember that a genuine smile is another form of prayer ☺

————————————————————


Late-Afternoon Love Maze

Lagi, sore yang sepi di sini dan di hati, ketika saya mengingat percakapan yang terjadi di lain hari.

Kemarin sore, lewat sebuah jendela kecil berwarna biru dan abu-abu , saya menyapa seorang sahabat lama. Di tengah suasana yang didominasi kantuk dan penat, saya pun mengajukan satu pertanyaan absurd padanya: “Kalau di dunia ini orang-orang yang jatuh cinta bisa dikategorikan ke dalam 3 kelompok, kelompok apa sajakah itu, dan seperti apakah karakteristiknya?”

Awalnya, dia meminta pertanyaan lain yang lebih ‘mudah’. Tetapi akhirnya, setelah beberapa pertanyaan absurd meluncur keluar, dia bilang: “Gue coba jawab yang pertama, deh.”

Dan inilah jawabannya.
Ada 3 kategori orang yang jatuh cinta di dunia ini.
Kategori pertama adalah orang-orang yang BERANI, mereka ini tak segan-segan menunjukkan perasaannya pada orang yang dicintainya.
Kategori kedua adalah orang-orang yang BINGUNG, mereka ini plin-plan dan banyak berpikir–tepatnya kebanyakan mikir.
Kategori terakhir adalah orang-orang BODOH, mereka adalah orang-orang yang tidak pernah memiliki keberanian untuk menunjukkan perasaannya, dan menghabiskan hidupnya hanya untuk menunggu …

Saya tersentak. Dan spontan membalas: “Shit. Saya masuk kategori terakhir!”

Kemudian hari ini, jendela itu terbuka lagi. Dia menjengukkan kepalanya ke dalam, dan kalimat itu muncul di bingkai jendela, kata per kata, menusuk saya lebih dalam. “Emang siapa sih yang elo tunggu?”

Ternyata dia me-rewind hidup saya ke bulan Januari, dan sampai pada episode The Prom, The Racoon Girl, and A Strawberry Splash. Saya pun bertanya, apa yang akan dia lakukan jika dia tahu ada seorang perempuan yang menunggunya selama 9 tahun? (Ngeri dan berpikir betapa psycho-nya perempuan ini?).

Tetapi dia menjawab: “Terharu kali, ya … “

Bukannya bereaksi pada kata ‘terharu’ itu, saya malah mengunjungi satu halaman itu, yang selalu bisa saya datangi setiap kali saya mengangankan keberadaan dia di sini.

Menggerakkan kursor itu pada wajahnya yang semakin lama semakin tidak familiar … membaca pesan-pesan dari kawan-kawannya yang tidak saya kenal … saya merasa kami semakin jauh … dan perasaan saya padanya mungkin sudah tidak lagi utuh. Rasa dingin yang merambati jari-jari saya tiap kali membuka halaman itu telah jauh berkurang–dan berpindah ke halaman-halaman lain …


Sungguhkah saya sudah merasa cukup akan ketidakhadirannya; ataukah ini adalah salah satu momen di mana saya merasa bahwa kebodohan saya sudah berakhir padahal tidak? Bahwa saya hanya sedang lelah dengan ketidakpastian dan berusaha mengingkari kenyataan? Bahwa perasaan ini sesungguhnya mengungkapkan keputuasaan yang tidak berkesudahan?

Pertanyaan yang menyeruak kemudian adalah: Masihkah saya menunggunya? Setelah 9 tahun, masihkah dia layak mendapat tempat di hati saya–sementara saya tahu bahwa penantian saya sesungguhnya akan berakhir sia-sia?

Apakah saya bisa hidup di dunia tanpa impian–di mana ketika kita menolehkan kepala, yang terlihat hanyalah dinding-dinding bertuliskan kenyataan? Ataukah hanya impian yang membuat saya bisa tetap hidup di dunia di mana kenyataan seringkali tak sesuai dengan apa yang kita harapkan?

—————————
IMG. http://www.bakerlite.co.uk/pics/Club%20stuff/morning-mist.jpg
IMG. http://www.chinavista.com/suzhou/pics/morning_mist.jpg


Still Inside The Love Maze

Biarkanlah dia dengan mereka yang dia cintai dan ijinkanlah diri kamu untuk tetap mencintai dia; karena cinta itu energi. Dan tau sendiri hukum kekekalan energi, kan? Energi tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan. Jadi, biarkan cinta itu mengalir, mengisi hati dan mengambil bentuk lain dalam hubungan kalian berdua. Sebagai teman atau sepasang kekasih, apakah masih menjadi masalah seperti apa hubungan yang kalian miliki, jika kita sama-sama tahu bahwa semua itu berakar dari satu cinta yang sama?


Love Maze

Gue ingin punya cinta yang hanya ada di antara gue dan orang yang gue cintai saja.

Dan saya menjawab: “Bo, di dunia ini, yang namanya cinta memang nggak pernah bisa bener-bener buat berdua. Selalu ada orang ketiga. Selalu ada kenangan-kenangan lama. So, jangan pernah berpikir bahwa lo bisa memiliki seseorang ‘seutuhnya’. Cause it will never happened”.

Saya membaca jawaban saya sekali lagi. Terkejut dengan nada tegas sekaligus tergesa yang tertuang dalam pesan singkat itu. Apakah saya sudah benar-benar seskeptis itu? Ataukah saya telah mampu untuk melihat cinta secara lebih realistis? Adakah cinta realistis? Ataukah cinta mutlak romantis sekaligus ironis?

Ini adalah ‘puzzles-of-love-effect’ akibat mendiskusikan cinta di sore yang dingin; dengan perut kosong–yang jika punya mata sesungguhnya sedang terus melirik jam dinding, menunggu saat berbuka …


One Single Wish

This is getting worse.

I thought I am going to be OK since the fever had reduced a bit, but I was totally wrong. The flu and the cough stays up to now.

So many things to do–so many problems to solve; which feels terribly uncomforting at the moment.

I want to go home. Snuggling in my bed, surrounded by those little pillows. Armed with a glass of water, anti-flu tablets, lots of tissues, and Kafka on The Shore. Oh, my blanket … I just want to sleep a dreamless sleep;
and wake up in the morning, with this light feeling over my heart.

The feeling of knowing that I can live my life to the fullest and don’t have to worry about one single thing.

With this watery eyes and nose, I wish.

 

IMG. http://pictures.escapia.com/Breen/2022927524.jpg


More tissues, please!

Karena sebuah insiden kecil hari ini, saya jadi teringat kamu.

Seandainya waktu itu kamu yang bersama saya, keadaan mungkin akan jauh berbeda. Kita akan menikmati waktu-waktu yang kita habiskan bersama dengan ledakan tawa yang tidak ada habis-habisnya. Mungkin kita akan bertengkar sebentar, ketika lagi-lagi kamu melupakan detail-detail kecil yang tidak luput dari perhatian saya. Tetapi semua itu akan terlupakan dengan serangkaian SMS yang dibanjiri tanda titik dua dan kurung tutup, atau tanda titik koma dan huruf ‘P’ kecil.


Ketika kamu penat, saya selalu bisa membuat kamu tertawa. Dan ketika saya nyaris putus asa, kamu mengajak saya bercanda—dengan taraf ‘kegaringan’ kamu yang entah kenapa selalu lucu di mata saya.

Di tengah demam ringan dan pilek yang semakin menggila, dengan hidung memerah dan berlembar-lembar tisu mengisi tempat sampah oranye terang di pojokan, saya mengintip keberadaanmu. Satu halaman yang bisa memuaskan rasa kangen saya padamu, ada wajah kamu, gambaran-gambaran kamu di masa lalu, dan cerita-cerita terbaru tentang dirimu.

Penuh harap, saya melirik sebaris kata di deretan paling atas halaman itu … single.

Single?

Jantung saya berdetak sedikit lebih cepat, dan mata saya segera bergerak ke halaman bagian bawah. Tempat deretan foto-foto kamu tersenyum menghadap kamera. Dengan berbagai pose dan gaya. Dengan teman-teman dan orang-orang yang nampak tidak terlalu familiar. Foto itu hilang. Foto kamu dan dia. Tidak ada. Bulan lalu ketika saya mampir, masih ada foto kalian berdua. Mesra.

Apa yang terjadi? Did you two …? Is it over? Atau kalian hanya sekadar berselisih paham dan sedang saling jual mahal?

Sekarang, saya setengah berharap agar insiden kecil hari ini berujung runyam. Dengan demikian, saya akan punya kesempatan untuk ketemu kamu lagi. Dan bulan-bulan mendatang akan dipenuhi kita yang tertawa dan menghabiskan waktu bersama. Semua terasa wajar karena tak ada yang mengira bahwa hubungan kita lebih dari sekadar teman…

Dan jika ternyata kita ingin melangkah lebih jauh… perlukah mereka tahu? Tidak ada yang salah. Kita hanya dua orang yang sedang sama-sama sendirian, memutuskan untuk berteman, kemudian cinta hadir tanpa peringatan. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada perselingkuhan. Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada pembenaran atau alasan-alasan yang dibuat untuk menyembunyikan kenyataan. Tak ada rambu-rambu moral yang kita langgar.

Tetapi … kenapa saya ragu?
Apakah ini karena saya belum sungguh-sungguh percaya bahwa saya bisa menyayangi kamu sebagaimana saya menyayangi dia?
Do I really want you? Or probably… I just want you to want me?


Maafin, ya …

+ Saya minta maaf…
Minta maaf buat apa?
+ Yah, buat semua kesalahan saya.
Kesalahan yang mana?
+ Ya, semuanya, lah. Pokoknya kalau saya punya salah sama kamu, saya minta maaf.
Memang kamu punya salah apa sama saya?
+ Hmm, yah, banyak, kan?
Misalnya?
+ Ya, pokoknya saya minta maaf kalau saya pernah bikin salah.
Kalau? Jadi kamu belum tentu punya salah sama saya?
+ Yah, yaaa, gitu deh …
Kalau kamu nggak punya salah ngapain minta maaf?!!

————

Saya nggak ngerti. Dan menjadi sedikit kesal. Bagaimana seseorang bisa sungguh-sungguh minta maaf jika tidak tahu (atau tidak mau) menyebutkan kesalahannya?

Bukankah ide sebuah permintaan maaf adalah untuk menunjukkan niat baik dan penyesalan seseorang; dan tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan? Bagaimana bisa kita tidak mengulangi suatu kesalahan jika tidak tahu perbuatan mana yang salah dan tidak boleh diulangi?

Ini rumit. Sudah hampir waktu buka puasa. Martabak di meja tengah itu luar biasa harumnya. Terlintas dalam benak saya: ya sudah, saya maafkan sajalah …


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 11,859 other followers