It Sucks!

Of all people in the world, he forgot her birthday.
It sucks, because she loves him so dearly.

She doesn’t care if her birthday was forgotten. What hurts her is the fact that her birthday was forgotten by him. One “happy birthday” wish from a guy you love with all your heart is a perfect gift that will keep you smiling all year long.

Sadly, it didn’t happen to her today.
I could feel that her heart was torn apart.
I told her to give him a chance.
To give love a chance.

Sometimes, ‘nothing’ means ‘everything’ for someone who loves you.
Just think about it for a while … and be kind.
Be kind.

(Happy birthday, gurl …)

Such A Mess …

I’m sooo fucked up!” he screamed, staring blankly at the screen of his cell phone that was blinking frantically. “God, I miss her so much!”

“Then why don’t you pick up the phone?” I muttered.

“Shit, no way! It’ll be too easy for her!” he shouted in anger as he slipped back that cell phone into the pocket of his jeans.

We looked at each other and sat in silence for a few minutes, before we realized the fact that it was 3:30 a.m. and the word “sleep” sounded tempting.

So we went to sleep.
It wasn’t a nice sleep after all.
Our so-called ‘pride’ was just too much for the pillow to bear.

Sepatu dan Sandal Jepit

Jadi, kamu butuh penjelasan mengenai perasaan saya tentang dia?

Well, here it is:

Saya punya sepasang sandal jepit yang sudah tua. Kulitnya sudah ‘keriput’ dan solnya sudah sedemikian tipis, sehingga lumayan berbahaya jika nekat dikenakan untuk berjalan-jalan di luar rumah. Tapi saya suka mengenakan sandal jepit ini karena konturnya luar biasa ‘pas’ di kaki saya. Rasanya nyaman sekali berjalan-jalan dengan sandal jepit ini terpasang di kaki. Seperti melangkah tanpa rahasia, tanpa sisi-sisi tersembunyi.
Ini saya. Seada-adanya.

Di sisi lain, saya punya sepasang sepatu hak tinggi yang saya pakai karena sepatu itu terlihat elegan dan mampu membuat saya terlihat lebih tinggi. Tentu saja, jika dikenakan terlalu lama, kaki saya akan terasa sakit. Tapi kadang-kadang kita harus mentoleransi sedikit rasa sakit untuk merasa ‘lebih baik’.

Saat ini…
Saya masih menunggu seseorang yang dapat menggantikan sandal jepit usang itu. Seseorang yang bisa membuat saya merasa istimewa, hanya dengan menjadi diri saya sendiri, apa adanya.

Sementara dia adalah sepatu hak tinggi yang menawan sekaligus menyakitkan itu. Yang saya pakai hanya untuk membantu membuat saya merasa lebih tinggi, tapi akan cepat-cepat saya lepaskan pada akhir hari dengan perasaan lega yang tak bisa ditahan lagi.

Dan saya akan buru-buru menyelinap ke dalam sandal jepit tua saya itu; dan merasa bahagia seutuhnya, sekali lagi. Kebahagiaan yang akan saya pilih jika kita bicara tentang ‘selamanya’.

Sekarang, kamu mengerti kan, maksud saya?

IMG. http://img.timeinc.net/instyle/images/v2/weddings/091505_shoes_01.jpg

My Selfishness

Kamu masih ingat sofa itu?

Tempat kita biasa menghabiskan waktu berjam-jam bicara tentang hal-hal yang tidak punya makna–tapi menuai rasa.

Sejak kamu pergi, sofa itu sudah jarang disinggahi; apalagi ditiduri 🙂 Saya pun enggan duduk-duduk di situ lagi. Saya jadi sedih kalau tahu bahwa masa lalu tidak akan pernah kembali.

Tapi kemarin, saya duduk-duduk di situ dengan seseorang. Dan bicara panjang lebar sampai malam menjelang. Kemudian saya jadi senang tidur-tiduran di sofa itu lagi. Melamunkan tentang seseorang yang istimewa, dan merasa bahagia lagi. Sekarang saya jadi semangat mengetahui bahwa masa depan masih belum menjelang.

Hmm, kalau masa lalu memang tidak bisa diulangi, saya harap masa depan bisa membawa kamu kembali. Tapi, maaf kalau nanti saya tidak bisa mengajak kamu duduk-duduk di sofa itu lagi. You belong to the past.

I just want you to want me. It doesn’t mean that I want you…

*dedicated to my selfishness

IMG. http://www.handprint.com/HP/WCL/IMG/PAINTERS/couch.jpg

Untuk Seseorang yang Membuat Saya Kesal Hari Ini

Saya kesal sekali sama kamu hari ini.
Ini hari yang sibuk dan kamu membuat pikiran saya tambah semrawut.
Kamu ternyata sangat arogan.
Dan saya paling alergi dengan orang-orang arogan.

Sejak awal, saya tidak pernah suka sama kamu.
First impression saya tentang kamu sudah terlanjur minus.
Sampai akhirnya kita bertemu—
dan kamu terkejut ketika melihat saya, entah kenapa.
Tiba-tiba sikap kamu berubah 180 derajat;
dan di akhir pertemuan itu kamu menggoreskan satu pesan kecil bernada menggoda di dalam buku catatan saya.
Jika kamu pikir saya tergoda, maaf, kamu salah.
Saya hanya berusaha agar tetap terlihat ramah.

Saya lelah.
Terlebih lagi sekarang,
ketika saya semakin yakin bahwa first impression memang tidak pernah salah.

… 6 jam kemudian …

Kekesalan saya sudah mereda, tapi bukan berarti saya lupa.
Hanya saja… sekarang saya malah jadi kasihan sama kamu.

Ketika saya sudah bisa bersantai di rumah, ditemani segelas susu cokelat, beberapa butir jerawat, dan sepiring otak-otak, kamu masih harus menghadapi malam yang lumayan berat.
Hari ini juga bukan hari yang indah buat kamu.

Dan karena saya tidak mau membuat kamu tambah sengsara…
Ya sudahlah.
Nggak usah dibahas.