Monthly Archives: April 2006

Montage

Buat saya mengerti bukan dengan kata-kata.

Tetapi genggam tangan saya dan utarakan semuanya dengan perantaraan jari-jari yang bertaut. Dan saya bisa merasakan semuanya tertumpah di sana. Ketika telapak tangan saya terasa dingin dan kamu bisa menghangatkannya, dan jari-jari kita bertemu dengan sempurna di setiap sudutnya.

Genggaman itu erat tetapi tidak menyakitkan. Satu detik ketika saya berada dalam genggamanmu dan saya merasa aman. Genggaman itu lembut, tetapi menguatkan. Satu detik ketika saya berada dalam genggamanmu dan saya merasa bahwa kamu dapat membantu saya melewati segala rintangan di dunia.

Saya bisa merasakan semuanya dari genggaman tangan kamu, semuanya cukup tertumpah dan terpusat pada satu genggaman tangan yang berlangsung tak lebih lama dari beberapa menit. Dan ketika suatu hari nanti genggaman itu memudar, saya pun tahu bahwa sesuatu telah hilang. Bahwa sesuatu itu tak ada lagi di sana.

Tetapi sementara ini, genggam tangan saya dengan hati-hati, seolah-olah ada cinta yang rapuh melayang di antara kedua telapak tangan kita yang saling berdekatan. Dan genggaman tangan kita menaunginya cukup rapat sehingga ia tidak dapat meluncur pergi, dan cukup renggang sehingga kita tidak membuat sayapnya hancur berantakan.

Genggam tangan saya, dan buat saya mengerti bukan dengan kata-kata. Ketika cinta yang berada dalam genggaman kita telah memiliki satu jiwa, bukannya dua. Dan kita tahu, dalam satu genggaman itu, bahwa kita memang ditakdirkan untuk bersama.

Bestfriends

“Litik pa kabar? Gi ngapain? How’s life? Udah took break lom?”

SMS itu saya terima pada hari Minggu, pada jam 16:10. Dan saya baru sadar bahwa di tempat asalnya, SMS itu dikirimkan pada pukul 3 atau 4 dini hari.
(Whazzup, bro? Lagi nggak bisa tidur ya? Hehehe …)

Tapi itulah satu momen lagi yang membuat saya percaya akan telepati. Bukan telepati untuk mengirimkan pesan terperinci atau petunjuk adanya suatu lokasi tersembunyi. Tetapi lebih seperti … sebuah koneksi … a mysterious connection between bestfriends.

Ketika Jonte mengirimkan pesan itu, persis pada hari itulah saya merasa bahwa saya memang sedang “take a break”. Bukan cuma dari pekerjaan saya, tetapi juga dari pikiran-pikiran dan perasaan saya yang belakangan ini penuh dengan huru-hara.

Saya dan Jonte bukan sepasang sahabat yang bertukar cerita setiap hari. Mengirim SMS beberapa hari sekali. Atau menelepon pada waktu-waktu yang telah terjadwal rapi. Tetapi pada saat-saat yang tidak bisa dijelaskan, kami meletakkan pesan singkat di testimonial Friendster masing-masing. Memberikan sepatah semangat, melempar kalimat-kalimat konyol, atau sekadar iseng-iseng “mampir”.
Bagaimanapun, kami sudah bersahabat selama hampir 11 tahun lamanya. Dan selalu tahu bahwa salah satu di antara kami akan selalu ada, kapanpun sebelah pihak ingin berbagi rasa. Mengenai kisah cinta yang tidak ada habis-habisnya; atau menerawang masa depan yang masih berupa cita-cita tanpa rupa.

Ada masanya ketika persahabatan bukan lagi mengenai kekhawatiran sehubungan dengan berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk seorang teman. Tetapi kekhawatiran akan berapa banyaknya waktu yang tersisa sehingga kita masih tetap dapat bertukar cerita.

11 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mengubah seseorang, tetapi mudah-mudahan persahabatan kita bisa bertahan, mengiringi kita yang seakan tidak pernah beranjak dewasa. Selalu ada satu sudut … di mana kita bisa menjadi diri kita lagi di masa lalu dan menertawakan hal-hal yang oleh orang lain dianggap tidak lucu.

Karena ada hal-hal yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang telah berbagi hati.

“Miss u and Bang Jo, bro!!! Kapan kita bisa kumpul-kumpul lagi???”

Bulan Berpendar

Ada nggak yang sempat melongokkan kepala keluar jendela kemarin malam, dan menengadah memandangi langit yang temaram hitam keabu-abuan? Kalau ada, mungkin tadi malam mata kita tertuju pada satu keindahan yang sama.

Kemarin malam, ada lingkaran halo di sekeliling bulan. Bayangkan membuat gambar lingkaran dengan sebuah jangka. Titik jarumnya adalah bulan yang bersinar pucat dan lingkaran pensilnya adalah cahaya halo yang berpendar. Apakah mata kita tertuju pada keajaiban yang sama tadi malam?

Langit malam selalu membuat saya merasakan romantisme dan melankoli yang tidak bisa dijelaskan. Saya betah berdiri di luar dan menengadahkan kepala memandangi bidang hitam yang begitu ekspresif dan tak berbatas. Dengan celana pendek dan kaus tanpa lengan, serta sandal kamar sapi berwarna putih hitam, saya bisa menghabiskan waktu semalaman sambil menggeletar kedinginan.

Cuma memandangi.

Dan saya ingat suatu waktu ketika kami terperangkap di lantai ke-20 sekian sebuah gedung bertingkat. Ketika club sudah semakin pekak dan penuh dengan asap, kumpulan kecil kami menyelinap keluar menuju atap. Meninggalkan hingar-bingar musik trance yang menghentak, dan berdiri di bawah keleluasaan. Memandangi bintang-bintang yang bersinar terang. I got high just by starring at the night sky :)

Sebagai anggota “clean clubbers society” (if any), who doesn’t drink, doesn’t smoke, doesn’t do drugs and doesn’t believe in free-sex, memandangi langit malam adalah satu hal yang bisa membuat saya kecanduan. Dan saya bisa dibiarkan larut dalam “musik trance” saya sendiri tanpa terusik. Mata yang biasa terpejam karena kantuk yang bersifat biologis dikalahkan oleh kenikmatan yang berbasis psikologis. Ini adalah setitik eskapisme mungil dalam dunia saya yang terlalu kecil. Satu hal sederhana yang masih bisa tertangkap mata tanpa perlu keluar biaya.

Dan kemarin malam, terlintas dalam benak saya: Langit ini terlalu luas untuk dipandangi sendirian …

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,112 other followers

%d bloggers like this: