Monthly Archives: February 2006

The Story Behind An Unsent Letter

Tentang An Unsent Letter …

Dia bilang saya terlalu puitis–menuliskan kata-kata itu untuk seseorang yang sama sekali jauh dari kesan romantis. Seseorang yang lain mengira bahwa saya masih menyimpan perasaan yang sama. Kemudian saya yakinkan dan tegaskan pada mereka: Itu masa lalu.

Dulu saya pikir suatu hari saya akan memiliki keberanian untuk mengirimkan surat itu pada seseorang yang tak pernah minggat dari benak saya barang sedetik pun (walaupun benak saya tengah dipenuhi huruf dan angka-angka).

Kini ketika saya sudah memiliki cukup keberanian untuk mengirimkan surat itu, saya tak lagi menyimpan perasaan yang sama untuknya. Tiba-tiba saja isi surat itu menjadi tidak relevan dipandang dari sudut manapun. Dan ide mengenai saya yang pernah mencintai dia di masa lalu menjadi menggelikan.

Mungkin ini adalah kisah cinta yang terlambat atau bahkan terlalu cepat datang. Momennya tidak pernah pas. Tak ada yang berpihak pada saya dan dia. Segala situasi dan kondisi secara konsisten memisahkan kami dan tidak membiarkan kami bersatu. Tetapi saya masih ngotot dengan segala analisis dan pembenaran yang tidak perlu.

Seisi dunia telah memberikan tanda-tanda bahwa kisah cinta ini tidak akan berakhir bahagia. Dan meneriakkannya keras-keras. Tapi saya menutup telinga; dan berpikir bahwa ini semua adalah konspirasi dari mereka yang tak sudi kami saling jatuh cinta.

Jawabannya ada di depan mata saya; tetapi saya menolak menerimanya dan mengubah pertanyaannya. Berharap jika saya terus mengubah pertanyaannya, saya akan mendapatkan jawaban yang berbeda. Jawaban yang saya inginkan.

Never. The answer remains the same.

Sekarang saya melihat dunia sebagai buku besar yang penuh dengan jawaban atas semua pertanyaan saya. Tapi saat ini, saya tidak perlu jawaban-jawaban itu.

Karena saya tidak punya pertanyaan apa-apa.

An Unsent Letter

Di sini, aku menunggumu.

Masih menunggumu seperti yang aku lakukan sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Aku tidak berkata-kata, tidak melambaikan tangan, atau berusaha menarik perhatianmu dengan melakukan hal-hal yang akan membuatmu sadar bahwa aku tengah menunggumu. Aku menunggumu dalam keheningan. Keheningan yang begitu hening sehingga kau bisa mendengar keheningan itu berbisik kepadamu jika saja kau lebih sabar mendengarkan.

Aku tidak mencoba untuk memanjat jendelamu, tidak mencoba untuk berlari menyongsongmu, atau berusaha menolehkan wajahmu ke arahku dengan melakukan hal-hal yang akan membuatmu sadar bahwa aku tetap menunggumu. Aku menunggumu dalam ketenangan. Ketenangan yang begitu tenang sehingga kau bisa merasakan ketenangan itu memelukmu jika kau mulai kehilangan kesabaran.

Aku tidak meneriakkan perasaanku dari depan halaman rumahmu, tidak mendesakmu, atau berusaha membuatmu merasa bersalah karena telah membiarkan aku menunggu dengan melakukan hal-hal yang membuatmu sadar bahwa aku terus menunggumu. Aku menunggumu dalam keyakinan. Keyakinan yang begitu yakin sehingga kau bisa membiarkan keyakinan itu menangkapmu jika kau mulai jatuh.

Di sini, aku menunggumu.
Mungkin aku akan pergi sebentar, atau menghilang, tetapi aku masih menunggumu walaupun aku sedang tidak berada di depan pintu rumahmu. Diamlah di tempatmu, dan suatu hari nanti, jika aku sudah siap, aku akan mengetuk pintu. Kau tak perlu berlari terburu-buru untuk membukakan pintu. Ini kan cuma aku :)

Tetapi sebelum saat itu tiba, aku akan tetap di sini. Menunggumu. Seperti yang sudah aku lakukan sejak pertama kali aku bertemu denganmu … dan menyadari bahwa aku mencintaimu.

~ nie ~

We All Need Somebody Else

A friend is someone who stays beside you when you’re pursuing your dreams. A bestfriend is someone who stays beside you when you’re walking through reality.

Kadang-kadang sesuatu bisa begitu sedih … sehingga kita tidak lagi bisa menangis. And we’re laughing instead. Menertawakan diri sendiri. Dan itu bagus. Ketika kita bisa menertawakan diri sendiri, berarti kita telah menjadi orang yang lebih kuat. Ketika air mata tidak lagi membuat kita lemah, tetapi menjadi reminder agar kita tidak lengah.

Kita memang bisa menjadi sangat bodoh. Itu sebabnya kita membutuhkan teman–yang bisa menjadi cerminan diri sendiri. Beberapa waktu lalu saya sibuk memberikan nasihat kesana kemari. Menjadi love advisor semua orang, sementara kehidupan cinta saya sendiri berantakan.

But that’s OK.

That’s why we need someobody else. Karena kita tidak bisa menasihati diri sendiri. Kita butuh orang lain yang melihat segala sesuatunya secara lebih objektif dan mengatakan pada kita bahwa there’s something totally wrong with us.
Kemarin saya mendapatkan pesan darinya, setelah jejaknya menghilang dalam 2-3 bulan terakhir. Perasaan lama menggulung saya dalam utopia yang sama, tetapi reaksi saya sudah jauh berbeda. Daripada menggunakan kesempatan itu untuk melakukan hal-hal yang akan semakin mendekatkan saya dengan dia, saya menghapus pesannya seketika. Dan tidak ada sesal di sana.

Sekarang, melihat kembali tumpukan buku harian di sudut kamar saya, foto-foto itu, halaman-halaman itu, kata-kata cinta itu, keputusasaan itu … saya merasa sangat bodoh. Karena saya telah menghabiskan waktu selama bertahun-tahun untuk mengejar sesuatu yang bahkan tidak bisa saya pegang bayangannya.

Ironisnya, saat ini saya merasa bahwa sesuatu itu bahkan tidak pantas untuk saya kejar. Now I do believe that love is blind.

Tetapi bahkan kebutaan bisa meraba. Dan “melihat” ternyata tidak harus dengan mata. Dalam satu bulan seluruh dunia saya seperti berubah. Dulu saya berusaha menahan satu hal sekian lama–enggan untuk melepaskan.

Beberapa waktu lalu saya melepaskan satu hal itu. Dan tiba-tiba saja, saya menyadari bahwa kini saya mendapatkan segalanya :)

*dedicated to M.E. – you make me see things clearly! I owe you one, my friend, definitely!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,115 other followers

%d bloggers like this: