Monthly Archives: September 2005

When A Man Really Loved A Woman, He Would Wait.

After an IM session with Chris yesterday, saya jadi ngerasa lebih lega. Walaupun dalam session itu sebenernya Chris yang lebih banyak curhat hehehe (kepancing khan sama Hanny?!!) ;p … tapi at least karena percakapan kemarin saya jadi ngerasa nggak sendirian. Ternyata I’m not a “freak” (seperti kata Sami hehehe). Ternyata memang ada orang yang bisa ngertiin perasaan saya dan even mengalami hal yang sama seperti yang saya alami…

To have a crush on someone is one thing.
To fall in love with someone is another thing.

Dan saya sadar benar akan hal itu. Makanya kalau ada yang tanya kenapa saya memutuskan to stay single for almost 5 years now, saya akan bilang: karena saya ingin menunggu sampai saya bener-bener fall in love with a guy. Saya nggak mau jadian dengan seorang cowok kalau saya memang baru naksir-naksir aja. It’s fun to have a boyfriend, I admit it. Tapi … menurut saya, nggak adil buat cowok itu kalau saya bilang “I do” tapi dalam hati saya masih bertanya-tanya whether I’m definitely in love with him or not.

Dan saya tau, dalam hal ini saya berbeda pendapat dengan kebanyakan temen-temen saya. Menurut mereka masa PDKT saya yang berkisar antara 6 bulan sampai 1 tahun itu terlalu lama… dan most of the times, cowok jadi kehilangan kesabaran karena merasa nggak dapet kepastian.

Uhm, mungkin juga. Mungkin karena kebiasaan. Dari dulu saya selalu jadian sama orang-orang yang udah cukup lama kenal sama saya. Yang udah jadi temen-temen saya. Probably that’s why I’m feeling more comfortable dengan masa PDKT yang cukup lama. Sehingga saya punya cukup waktu untuk mengenal my future boyfriend.

Tapi kalau cowok-cowok itu memang nggak sabar nungguin saya, well, saya nggak pernah menghalangi mereka untuk pergi. Itu hak mereka, kok. Dan saya juga nggak merasa “terintimidasi” kalau akhirnya mereka mengurungkan niatnya. Hehehe. ;p Soalnya … kalau cowok itu nggak sabar menunggu, mungkin dia nggak bener-bener sayang sama saya.

When a man really loved a woman, he would wait.

My Regrets …

What are your regrets?

Saya sempat berpikir bahwa semua orang pasti punya penyesalan masing-masing; dan menyesalinya dengan cara mereka sendiri-sendiri. Ada orang-orang yang dengan cepat bangkit dari penyesalan mereka dan memaafkan diri sendiri (walaupun tidak mungkin melupakan), namun ada juga orang-orang yang terpuruk dalam penyesalan mereka dan belum mampu meninggalkan penyesalan itu di belakang ketika mereka melangkah ke depan.

So, what are your regrets?

Untuk saya sendiri, ada banyak hal yang saya sesalkan dalam kehidupan saya. Contohnya, kenapa saya nggak pernah punya keberanian untuk mengatakan I LOVE YOU sama seseorang beberapa tahun yang lalu. Mungkin kalau saya mengatakan itu segalanya akan berubah. If I try … if only I could turn back time, but I guess I’ll never knew (seperti dalam lagu WHAT IF-nya Kate Winslett).

Penyesalan lainnya adalah, kenapa saya nggak menghabiskan waktu lebih lama untuk benar-benar mengenal dan memperhatikan seseorang… sehingga ketika dia pergi, saya benar-benar merasa kehilangan dia. Dan menyadari bahwa saya nggak punya jejak-jejak kenangan apapun tentang dia. Menyesali kenapa saya nggak pernah menyimpan surat-surat yang dia kirimkan, kartu-kartu ulangtahun darinya, atau bahkan kertas tagihan sewaku kita makan siang sama-sama … Dulu saya merasa bahwa saya nggak perlu mencetak foto-foto kita berdua. Karena saya pikir dia nggak akan pergi kemana-mana. Tapi sekarang, away from him, saya mengerti betapa pentingnya hal-hal kecil itu untuk membantu saya mengingat. Mengingat dia seperti dia yang dulu.

Another shot of regret: kenapa saya most of the times terlalu baik sama orang? Terlalu percaya sama orang, berpikir bahwa semua orang itu pada dasarnya baik. Dan ended up being stabbed by the person I’ve helped. Kenapa saya nggak bisa rada “tegaan” sedikit, say “no” to people. Kenapa mau aja sih, dimanfaatin sama orang?!! Sampai bela-belain ngelakuin segala sesuatu buat orang itu, dan pada akhirnya saya tau bahwa dia cuma manfaatin saya. Yang lebih gilanya lagi, meskipun saya udah tau orang itu cuma manfaatin saya, saya masih nggak berkeberatan. Cause I care about him. Naif–atau bodoh?

Do you have some regrets?

Memang nggak akan ada habisnya kalau kita terus merunut hal-hal apa saja yang pernah kita sesali dalam hidup ini. The list will be endless. Karena saya bisa aja menyebutkan penyesalan kecil yang banyak terjadi; seperti penyesalan saya karena beli kasetnya Five For Fighting instead of Anggun, karena nggak beli semua novel Jostein Gaarder pas saya punya uang (karena sekarang agak susah lagi nyari the remaining of his novels …)

Ada orang yang bilang penyesalan itu nggak ada gunanya.

Saya pikir, pendapat itu salah. Penyesalan jelas ada gunanya. As a reminder. Sesuatu yang lebih terkesan seperti punishment. Kalau kita udah tau sakitnya “menyesal”–ya, jangan sampai terjadi lagi. Jangan diulangi lagi. Dan jangan menyesal yang berkepanjangan… jangan hidup di masa lalu … lupakan dan lanjutkan hidup dengan senyuman!!!

Klise. Hehehe.

Easy to talk, ya! Kalau dipikir-pikir… sementara sebagian besar aspek kehidupanku berjalan maju, sekeping hati saya masih tertinggal di masa lalu, terkubur di bawah penyesalan-penyesalan saya tentang cinta. Past love. Dan kalau ada satuuuuuu aja hal yang paling saya sesali SAAT INI, itu adalah ketidakmampuan saya untuk melepaskan diri dari penyesalan-penyesalan saya tentang cinta. Dari bayang-bayang di masa lalu.

From all the tears of sadness and betrayals…

Another Day in The Life of A Lover

Part 1. Farewell …

Pas mau berangkat dari rumah jam 6:30 pagi gitu, saya baru sempet ngeliat handphone lagi (setelah semalem saya charge di deket TV). Ternyata ada SMS dari Jonte: “Litik daku pamit dl ya. Tekker ya… Keep in touch ya. Sukses ya”. Ha? Dan saya pun me-reply message itu, nanya dia naik flight yang jam berapa. Teryata yang bales SMS itu malah his lil’ sister, Thya.

Dia bilang Jonte udah berangkat naik flight yang jam 6 pagi. HAH? Trus saya liat lagi SMS dari Jonte dan ternyata SMS itu dikirim jam 00:34. Walahhh… maaf, bro! Saya udah tidur banget kali jam segitu ya, sampe nggak denger SMS.

Menyebalkan, ih! Orang pamit kok tengah malem! Kenapa nggak kemarin sore, gitu? Gak bilang-bilang lagi mau naik penerbangan yang sepagi itu!

Aduh, tapi jadi merasa bersalah juga nih, belum sempet saying goodbye! Tapi nggak usah, lah. Tahun depan balik lagi aja ke sini yaaa… hehehe, atau saya yang nyusul ke sana? (Bener ya, janjinya akomodasi plus makan gratis… si Chris harus ikutan nyumbang buat biaya hidupku sebulan di sana!).

Trus hari ini juga, Mas Deddy cabut dari kantor. Meninggalkan suvenir berupa post-it warna-warni. Dan kemarin saya masih sempet “mencuri” buku dia (NAKED MARKETING) yang saya kebut habis kemarin malam sebelum tidur, dan di dalam bis dari Bogor ke UKI pagi-pagi.

Yah, later on next week it’ll gonna be my turn to say “goodbye”. Eh, jangan ah, I’ll just say “CU later!”—karena saya memang pengen ketemu lagi sama semuanya, and I’ll manage to skip some times so I could hang around with “GATESTERS” (komunitas GATES … hehehe ^_^).

Part 2. The Love Story Continues …

Kemarin sempet dengerin lagunya Usher yang “Separated” 4-5 kali. Dan jadi mellow gitu, deh. Hehehe. Dasarrr kerjaannya mellow terus neh belakangan ini. Di rumah juga dengerin Did You Ever Loved Somebody (Jessica Simpson) dari OST.nya Dawson’s Creek berkali-kali. Liriknya itu, lho!

Did you ever love somebody so much that the earth moved?
Did you ever love somebody even though it hurts to?
Did you ever love somebody nothing else your heart could do?
Did you ever love somebody who never knew?

Did you ever lay your head down on the shoulder of a good friend
And then had to look away somehow, had to hide the way you felt for them
Have you ever prayed the day would come
You’d hear them say they feel it too
Did you ever love someone who never knew?

I do.

And if you did, well, you know I’d understand
I could, I would, more than anybody can … Did you ever love somebody like I love you…?

(Huaaaa … kisah nyataaaaaaa ;p hehehehe. “Kena” banget tuh lagunya!)

Kemarin itu saya sempet bilang that I want to be able to fall in love again. And you know, what? I think I AM falling in love!!! ^_^ No, probably, it’s just a lil’ crush, but however, it’s nice (after such long time) to have those lil’ butterflies flying in my stomach once again everytime I stand next to him, everytime I see his silhouette from a distance, take a glimpse of him passing by… his voice, his smile, his gestures… everything about him makes my day a lil’ bit brighter by the minute!

This is what I like the most from falling in love. I blush, I smile, I laugh, I sing, I whistle. Even in my lowest, the images of him could make me soar. ^_^

Probably that’s the greatest thing of falling in love. It’s not about whether you’re gonna get that guy or not. It’s not about whether you’re going to smile or cry in the end.

It’s all about how love could make you become such a better person.

A person with hope and dreams.
A person who believes in miracles…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,194 other followers

%d bloggers like this: