Teach Me How to Fall In Love Again …

Minggu-minggu terakhir ini saya jadi punya ritual tersendiri begitu sampai di rumah at about 9 p.m.: berlama-lama mandi air hangat–berdiri yang lamaaa di bawah kucuran shower sambil nyobain berbagai aroma sabun yang tersedia. Minum secangkir susu cokelat, terus ngintip isi kulkas (nyari bangkuang) dan lemari makan (nyari tahu). Ngeluarin handphone dari tas dan mengaktifkan alarm. Ngambil bolpen dan diary saya … and start to write about every little thing I’ve done sambil tengkurap di atas tempat tidur sampai ngantuk. Dan kalau udah mulai nguap-nguap gitu, I’ll turn off the light. Trus pasang my moshimaro bed-side lamp yang cahayanya oranye temaram, sambil dengerin CD-nya Yiruma di DVD player dengan volume sayup-sayup. Loncat lagi ke tempat tidur, menendang-nendang bantal sapi dan boneka Teddy Bear saya ke karpet (biar legaaa), terus langsung menarik selimut dan meringkuk diam-diam dalam gelap until I fell asleep.

Justru pas lagi meringkuk diam-diam seperti itulah biasanya pikiran saya ngelantur kemana-mana. Dibilang ngelamun enggak, ngehayal juga nggak, tapi… apa ya, nggak tau deh. Pokoknya tiba-tiba jadi banyak pikiran yang masuk aja ke kepala saya, past memories, wajah orang-orang yang saya kenal … semuanya, numpuk-numpuk jadi satu. Gak jelas. Mungkin itu yang disebut twilight zone … keadaan antara terjaga dan terlelap. Keadaan persis beberapa detik sebelum kita jatuh tertidur. Such an interesting state of mind ya pada saat itu? Karena gak ada orang yang bisa inget kan kapan persisnya dia beralih dari “awake” ke “asleep”. It all happens automatically.

Nah, kemarin itu, sebelum tidur, tiba-tiba pikiran yang terlintas di benak saya adalah: I want to be able to fall in love again! Hahaha, so pathetic! ;p Tahun-tahun terakhir ini saya jadi agak-agak cynical about love. Bukan dalam arti I don’t believe in love any longer, tapiii … probably I’m (still) afraid of falling in love. Beberapa tahun yang lalu, Ifel sempet bilang,”mungkin lo agak trauma gitu. Atau masih penasaran karena being dumped for no reason at all”. Hmm, mungkin juga. It’s not fair aja. I juz wanna know the reason why. Bodo amat apakah mungkin dia selingkuh with somebody else, atau mungkin dia udah bosen ama saya… juz let me know the exact reason why! No fights, no quarrels, nothing … dan di tengah keadaan yang serba adem ayem itu tiba-tiba aja he said “It’s over”. Oh, alright.

It’s not that I’m still in love with him. Nggak, sih. Saya udah bener-bener nggak ada feeling apa-apa lagi sama dia. Cuma to start a new relationship lagi… jadi nggak PD aja, mungkin ya? Merasa bahwa I’m not good enough. That I don’t deserve it. Berpikir bahwa those guys are not serious. They’re not loyal. They’ll cheat. Mungkin mereka cuma pengen mempermainkan saya aja. Jadi punya pikiran jelek-jelek kayak gitu, sih. Efek yang sangat merugikan … ;p hehehe.

:(

Waktu di nikahannya Ditik hari Minggu kemarin, ketika banyak cowok lucu dan cewek lucu berseliweran dari segala penjuru, saya dan Pupz sama-sama berpandangan dan bilang “Come on, udah hampir 5 tahun, gitu lhooo!”, dan kita ketawa bareng (ketawa getir) Hehehe. Ditik udah married. Amonz udah jadian. Mumz udah mau married ;p sementara saya sama Pupz kok masih in the middle of nowhere. (Kamu jadian duluan, gih, Pupz… mungkin abis itu my luck will come ;p)

Mungkin nggak sih, kita sama-sama trauma, Pupz? Bukan “trauma” yang gimana banget, sih. Cuma mungkin kita sama-sama takut mulai lagi. Takut jatuh cinta yang “dalem” lagi sama seseorang dan dikecewakan setelah itu. Takut kalau-kalau kita bakal menghabiskan beberapa bulan (bahkan tahun) mourning… crying… feeling desperate. Walaupun memang saya sama kamu beda kasus, sih, Pupz. I’m glad you’ve been trying to get over your past by chasing “her”. Itu sih yang penting. Nggak jadi soal dapet atau nggak, yang penting usaha, ya. Daripada saya? Yang masih statis gini. Hahaha.

Kayaknya saya butuh seseorang yang bisa menunjukkan sama saya bahwa there’s such thing as a loyal, sincere, and honest guy. Bahwa there’s such thing as love.

I wanna be able to fall in love again.

To trust in love again.

Teach me how…


Pour Toi, Chris!

(8 days left…)

The other day, I wrote “18 days left”.

Well, I was wrong. I’ll be leaving sooner … !!! All these things have made me feel a bit sentimental in some way, but come on, nothing’s gonna change. It’s only a matter of a different “status” (that I’m no longer an employee of the company)–but I could come and visit everyone anytime. We’re only 15 minutes apart (by taxi). And I could just “pop-up” at UHAMKA when everyone’s having lunch. ^_^ I’ll be missing all of you!!!

Anyway, I wrote this blog in English for Chris’ sake. ;p I came to the office early this morning and found a message from him on my FS inbox. I felt guilty knowing that he had tried to read my blog but he couldn’t understand it, simply because it is written in Indonesian. Sorry, Chris … never thought that a crazy American like you would want to visit my blog. Hahaha.

When Jonte told me that he was going to come home, I thought Chris would go along with him. But then Jonte showed up all by himself. And when I asked him,”Where’s Chris?”. Jonte said that Chris didn’t come along because he was afraid to be kidnapped by some terrorists or militants. Oh, Chris … come on. It is more likely that you’ll be kidnapped by some agressive Indonesian girls who are hysterically attracted to American guys!;p

It’s amazing how you come to love this city when you’ve spent years in it. When you’ve become a part of it.

A friend of mine who loves to speed told me that he was so bored driving in Melbourne because he couldn’t “pursue his maximum potential”. ^_^ You don’t deal with crazy ojeks or bajajs or the orange devil (metro mini) in Melbourne. Driving in Melbourne is less-challenging, so he said.

Someone should invented a playstation game called Jakarta Crazy Streets. Probably it could be imported to European or American countries, mainly to help everyone who will have to stay in Jakarta–for business or personal reasons. A Jakarta-based driver knows exactly how to drive his car in Melbourne, or Dedham. But a Melbourne or Dedham-based driver lost their skills when they hit Jakarta’s traffic for the 1st time. Hopefully, the game could help them… a little.

About 2 months ago, there were Daniel, a Deutsche guy who served as an apprentice in our company. Before he left us, he said we should add some contents in our “city-guide” machines. About lost and found. About what should you do if you lost your wallet. Or your laptop. Or your mobile phone.

Everyone at the meeting room laughed. Cause there is an unwritten rules stated: If you lost something in Jakarta, the only thing you can do is pray. If you don’t believe in God–an atheists or sumthin’, then … well, there’s nothing left for you to do. You can always punch the wall in anger, but there’s no point in doing such a stupid thing.

But still, I love this city. The adrenaline-rush when you have to jump off from the bus (because it doesn’t really stop to let people get in and off. It just move slower). The traffic-jam that allows you to view some more details on those billboards with interesting themes.

The food stall with its cheap & delicious foods served from grossy “kitchen-like” area (just make sure you don’t look at how the plates and spoons are washed, and I promise you, the taste will be delicious).

I love the short story collection titled THE EXPAT by Kirk Coningham, which captured Jakarta and its maddening characteristic precisely. These are stories of the city from a viewpoint of an expat… probably I should send one copy of it to Chris.


Teardrops

Hari ini Pupz sidang! Good luck ya, Pupz! Maaf juga tadi nelepon kok saya malah curhat dan mengeluarkan unek-unek ;p tapi seneng kan, bisa menghilangkan ketegangan menjelang sidang?!! ^_^ Abisnya saya mau telepon Mumz kok nggak bisa nyambung, ya? Nggak ada nada apa-apa gitu… apa dia belum bangun tidur, ya? Kapan ngumpul lagi, ya? Kita udah lama banget ga buka forum bareng ampe jam 3 pagi yaaa, kayak waktu di Puncak. Kangen deh. I miss u all!!!

Makin terasa deh kangennya karena saya lagi sedihhh. Duh, saya lagi capek banget, nih. Emotionally exhausted. Dan udah mulai nggak enak badan. Tau, nih, mungkin bio-rythym saya lagi berada dalam fase terendah, ya? Bener-bener butuh refreshing.

Probably hari Jumat-Sabtu saya spending times with Jonte, karena bentar lagi dia mau cabut (what about a surprise farewell party?). Terus hari Minggu ke nikahannya Ditik. Sounds great, sih. Saya bisa ketawa puas sampe sakit perut kalo ngumpul sama orang-orang itu (walaupun cuma main ular tangga di Jawara Cafe sambil minum ice lemon tea).

But to be honest, hal yang paling ingin saya lakukan saat ini adalah to cuddle in my bed, hug my lil’ teddy bear, turn on my moshimaro bed-side lamp, and listen to some melancholic song on my DVD player (preferably Josh Groban, Yiruma, or Reamonn). Nah, itu BARU namanya refreshing!!!

Atau lari sekenceng-kencengnya at the botanical garden pagi-pagi buta. Terus cooling down dengan jalan ke rumah anggrek, smell the fragrance of the orchids dan duduk di depan air terjun buatan—membiarkan wajah saya basah kena percikan air dan ngerasain basahnya kabut buatan yang jatuh ke atas kulit saya. How fresh!

Udah lama nggak pergi ke gunung, nih. Kangen sama alam bebas. Pengen cabut lagi ke perkebunan teh dan berdiri di puncak bukit yang deket sungai kecil, merendam kaki di air yang jernih dan dingin itu, terus memandang seluruh kota yang terhampar di bawahnya samar-samar (karena tertutup kabut tebal), lalu teriak sekeras-kerasnya sampai suara serak.

Jadi inget, dulu-dulu waktu masih pulang-pergi berlima sama Pupz, Mumz, Amon dan Cathy, setiap kali ada yang lagi BT berat, kita bakalan buka kaca di jalan tol ketika mobil lagi ngebut-ngebutnya dan teriak keras-keras, “SHITTTTTTT!!!”.

Rasanya ada beban yang sedikit berkurang setelah teriak gitu. Nggak jelas kenapa. Meluapkan emosi, kali, ya? Mungkin itu juga sebabnya ada orang yang suka nonjok tembok waktu lagi BT.

But I hate punching the walls.
It hurts my arms.

Sedihhhhhhhhhh. Hari yang berattt. I just wanna go home and lay my head upon my pillow, spending the whole night crying until finally I fell asleep…


What’s In A Gentleman?

(18 days left …)

Nggak tau kenapa, saya kagum dan respect banget sama cowok-cowok yang punya “gentleman traits” in them. I’m not talking about paying bills setiap kali kita keluar having dinner (walaupun ada yang bilang bahwa the guy should pay the bills, tapi saya nggak pernah menganggap seorang cowok nggak gentle kalau in the end kita bayar our meals sendiri-sendiri). Yang saya maksud dengan “a gentleman” di sini lebih kepada cara seorang cowok memperlakukan cewek.

Misalnya?
Kalo saya masuk ke satu ruangan, cowok itu bukain pintu buat saya. Atau kalau pintunya adalah pintu kaca yang tinggal didorong, dia akan tahan pintu itu buat saya dan membiarkan saya masuk lebih dulu. Terus, kalo bagian nyebrang jalan, ketika mobil datang dari sebelah kiri, dia akan pindah ke sebelah kiri saya. Menyetop mobil yang lewat dan membiarkan saya nyebrang dengan aman. Ketika mau keluar dari satu ruangan pun, dia nunggu sampai saya bangkit duluan dari kursi dan jalan keluar dari ruangan itu, baru dia nyusul saya dari belakang.
Kalo dia jemput saya di rumah, dia akan turun dari mobil, mengetuk pintu, and say hello to my parents first before we left. Waktu nganterin saya pulang, dia akan buka jendela dan nunggu di mobil sampai saya masuk rumah, baru dia meluncur pergi. Atau kalau kita pulang naik kendaraan umum (jaman SMP-SMU dulu), dia akan temenin saya nunggu angkot. Kalau saya udah naik ke atas angkot, baru deh dia cari angkot buat dia sendiri. Simple things, sih. Yang sebenernya nggak penting-penting amat. Tapi buat saya, that’s my type of guy!

You can call me a conservative. A spoiled brat. Whatever you like, just name it. I’m not a feminist, so I don’t give a damn. Hehehe. Memang sih, sekarang jamannya emansipasi. Dan banyak cewek sudah menolak diperlakukan “berbeda” oleh para cowok.

Tapi saya sih selalu merasa tersanjung dan respect sama cowok-cowok gentle yang masih memperlakukan cewek with certain manner kayak gitu. Dan yang terpenting, yang namanya cowok gentle, dia akan bersikap gentleman kepada semuaaa cewek. Gak peduli apakah cewek itu cuma temen dia, ibu-ibu yang nggak dikenal, atau bahkan nenek-nenek. Jadi kalo ada cowok yang cuma menjadi “gentleman” ketika dia lagi jalan sama ceweknya, well, I don’t think he’s a real gentleman…

Saya sendiri nggak tau kenapa saya selalu punya penghargaan yang lebih sama cowok-cowok gentle. Mungkin karena selama ini saya selalu bertemen dengan cowok-cowok yang punya traits seperti itu, ya?

Uhm, yang pasti Pupz—he is such a gentleman. Walaupun saya ama dia cuma temen doang, tapi he treats me very well. Dan bukan saya aja, dia memperlakukan semua cewek dengan baik, sih. That’s the reason why banyak cewek yang nggak kenal deket sama Pupz suka salah sangka. Mengira bahwa Pupz lagi PDKT sama mereka. Hehehe, kasiaaan deh, padahal sih memang Pupz adalah cowok yang sangat perhatian dan sangat “melindungi” cewek-cewek (mudah-mudahan kamu nggak baca blog ini, Pupz. Bisa tambah narsis!). Even si Amon, jelek-jelek begitu (hehehe teteppp lho, Mon, saya mendiskreditkan engkau ;p) dia termasuk cowok gentle juga!

Terus siapa lagi, ya? Banyak, sih. Mayoritas temen-temen cowok saya punya that special traits in them. Most of my highschool mates adalah cowok-cowok yang punya karakteristik seperti itu. Bahkan cowok-cowok paling caur pun kalo memperlakukan cewek … tetep aja, mereka treat us with respect and appreciate us more. But of course, mungkin itu di Bogor doang, ya?

Kalo dipikir-pikir … kebanyakan cowok di Jakarta sih memang jarang yang se-gentleman itu (gak bermaksud untuk stereotyping yaaa—ini berdasarkan pengalaman pribadi aja, kok—saya tidak menggeneralisir ^_^). Apa mungkin karena cewek Jakarta juga udah nggak ambil pusing lagi dengan segala macem “special treatment”, ya? Bisa jadi. Atau mungkin di Jakarta semua orang udah serba cuek, dan hal-hal kayak gitu dianggap udah nggak penting lagi? Mungkin aja. Ataukah paham emansipasi dan feminisme sudah merebak di kota metropolitan ini? Make sense, sih.

Probably ini cuma masalah selera. Personal taste. Saya nggak bilang bahwa cowok should be a “gentleman”. Dan bukan berarti cowok yang nggak bukain pintu buat cewek itu adalah cowok yang “nggak baik”. Nggak begitu juga sih cara ngeliatnya. Pada akhirnya tinggal preferensi kita aja, sih. Lebih suka sama cowok cuek–atau cowok yang gentleman … it’s up to you to decide.

Untuk saya pribadi sih, di jaman yang serba sibuk ini, ketika orang udah mulai nggak peduli sama urusan orang lain, I’ll consider such a gentle treatment as a cute and sweet little thing. It’s great when a guy treats you with such respect—even if he were only a stranger. Efeknya nyaris seperti dikasih little surprises.

Sesuatu yang bisa membuat kita tersenyum kecil waktu sedang mengalami hari yang berat. Something that will brighten up your day. Something that will make your heart feels a bit lighter…


Should I Leave?

Umumnya, setiap orang di dunia ini akan mencari sesuatu yang lebih baik dan berusaha mendapatkan yang lebih baik. Tapi masalahnya, apa sih yang bisa dikatakan sebagai ‘lebih baik’ itu?

Let’s say, seorang cowok mutusin ceweknya dengan alasan dia ingin mendapatkan cewek yang lebih baik. Kata “lebih baik” di sini bisa diartikan lebih cantik. Lebih muda. Lebih seksi. Atau, bisa jadi … “lebih baik” yang dimaksud adalah better traits and personality. Atau lebih baik di sini menjelma dalam seorang cewek yang lebih pengertian. Banyak, sih… sehingga kalau dipikir-pikir, ketika kita mengharapkan sesuatu jadi “lebih baik”, sebenernya we don’t even scratch the surface.

Coz what is the exact definition of “better”?

I’ve just got such an interesting offer… dan sekarang saya nggak tau mesti berbuat apa. Some of my friends bilang saya bodoh banget karena nggak langsung mengambil tawaran “yang lebih baik” itu. Tapi… gimana, dong? I love this office. Udah saya anggap my second home. And I feel so damn comfortable with it. I love every little things about the office.

Bahwa tiap hari saya bisa pulang-pergi ngantor bareng lil-Q dan kita bisa nyanyi di taksi (nyari suara dua lagu “we could be in love”). Ngerekam suara di voice recorder handphone. Ketawa-ketawa sampe sakit perut. Bahwa kita bisa cabut makan siang bareng anak-anak dan jalan ke UHAMKA atau BU VES sambil ngeledekin Chris yang selalu aja diikutin tukang es WALLS. Belum lagi kenyataan bahwa di sini, kita bisa teriak-teriak, ngeledekin orang, ketawa-ketawa, jerit-jerit, beranjing-anjing ria (hehehe). Buat saya it’s such a privilege yang kemungkinan besar nggak akan bisa saya temuin lagi di tempat lain.

So, then again, what is the exact definition of better?

Saya masih nggak tau juga. Makin lama dipikirin makin pusing. Jadi dilema. Cuma, menurut saya sih, ketika saya ditanya “what is the exact definition of better”, saya akan jawab:

There’s no such thing as “better”.

Nothing is better than something else. Nggak ada satu hal pun yang “lebih baik” dari yang lain. We’re not looking for a perfect something. Cos perfection is extremely boring (percaya, deh).

“Di sini” nggak pernah bisa lebih baik dari “di sana”.

If only I could be in 2 places at one time, mungkin masalahnya bisa selesai (pemikiran bodoh dari orang yang lagi bingung… lihat aja, kalimatnya pun dimulai dengan kata “if”).

Anyway, saya pikir, even if I finally left (sometime, somehow), my heart will always be here. Bakal ada saatnya saya ketawa-ketawa sendiri kalo denger orang bilang “anjing” atau “asu”. Ada saatnya saya bakal nyengir lebar kalo denger musik tukang es walls. Senyum-senyum sendiri kalo liat ban orang pecah di pinggir jalan. Atau ngerasa kangen tiba-tiba kalo suatu waktu saya lagi ngantri beli jus buah atau ayam bakar.

In that case, menurut saya, kalaupun one day saya bener-bener pergi, I have brought a part of this office with me. The sounds. The laughter. The faces. The memories…

Therefore, di manapun saya berada, this office will always be nearby.


‘Till We Meet Again!

Hari ini (during lunch) secara nggak sengaja saya mendapat penegasan mengenai berita bahwa someone in the office bakal resign on sept 1st. Ternyata bener ya, he’s gonna leave us. So sad. Padahal saya masih pengen belajar banyak dari orang itu. I always consider him as a bright person with bright ideas … tiap kali ngobrol sama dia selalu dapetin ilmu baru, soalnya.

Pertama kali masuk kantor dan denger orang ini angkat suara di internal meeting, pulangnya saya sama lil-Q langsung ngebahas tentang dia. Dan kita sepakat bahwa orang yang satu ini memang smart banget! (sama kayak istrinya… cute couple ^_^) And he surely knows how to motivate people. Wahhh, hari-hari setelah 1 September bakal jadi sepi banget, nih! (menghela napas).

Sedihnya lagi, masih di tanggal 1 September yang sama, Jonte juga bakal balik ke Dedham. Yaaaaah, berarti harus nunggu 1 tahun lagi sampai orang gila yang satu ini pulang ke Indo. Itu juga kalo dia pulang. Saya sih turut mendoakan biar dia bisa dapet kerjaan di US, ya. Karena gimana pun, dapet kerjaan di sana jauh lebih menjanjikan dari di sini, kok.

Cuma … yaaa kangen aja, karena jadi nggak ada lagi pembicaraan-pembicaraan bodoh setiap weekend … hahaha. Gak ada lagi kebingungan di dalem mobil ketika nggak tau mau nongkrong di mana (semua tempat tongkrongan di Bogor udah dikunjungin, soalnya). Tapi that’s fine. Toh ini juga kita baru ketemu lagi setelah 4 tahun terpisah … tapi obrolan kita masih nyambung-nyambung aja. Lagian dulu-dulu juga kita tetep seru ngobrol lewat e-mail atau telepon (kalo lagi kaya).

Duh, kehilangan seseorang tuh memang nggak pernah mudah, ya? Walaupun saya tau, ketika kita melepaskan seseorang dan membiarkan dia pergi, itu berarti kita juga membiarkan orang lain datang ke dalam kehidupan kita dan meninggalkan kenangan lain untuk kita ingat selamanya.

Just remember the fact: that everything happens for a reason.

Bahwa sebenernya semua orang yang kita temui meninggalkan pelajaran-pelajaran tertentu buat kita. Bahwa nggak peduli apakah orang-orang ini sudah kita kenal seumur hidup atau baru kita kenal selama satu-dua hari, mereka semua hadir untuk mengajari kita sesuatu. Kadang-kadang kita nggak pernah tau pelajaran apa yang kita dapat dari mereka sampai berbulan-bulan kemudian. Kadang-kadang kita nggak pernah tau alasan kenapa kita dipertemukan dengan seseorang sampai bertahun-tahun kemudian. Tapi yang pasti setiap orang yang kita temui meninggalkan jejak dalam hidup kita … and they’ve changed us into who we are now.

Seperti kata Chester Swor dalam puisinya “Brush Against The Walls of My Life” (my favorite poem of all times!):

It seems
wherever I go
people come into my life and go out of it
touching me where I can feel it
then leaving only a memory
like the fairy tales of childhood;
and I wasn’t through knowing them yet.

How do you know
when you are seeing for the last time?
How do you stop
together and keep all those around you that
you’ve ever known and loved?

And how do you keep
fairy tales from losing their magic?

So come–
brush against the walls of my life
and stay long enough for us to know each other,
even though you know
we’ll have to part sometime;
and we both know
the longer you stay the more I’ll want you back
when you are gone.

But come anyway
cause fairy tales are the happiest stories I know
and great books are made of little chapters.


The Little Girl

ARRRGGGGGGHHHHHHHHHHH … akhirnya lulus juga!!! ;p Hehehe.

Setelah melalui sidang yang cukup singkat (cuma sekitar setengah jam—padahal yang lain bisa sampai satu jam lebih), akhirnya saya dinyatakan LULUS! Senangnyaaa!!! Lega banget. Kayaknya satu kewajiban lagi udah berhasil saya penuhin.

Walaupun agak-agak sedih juga, sih. Karena harus ninggalin kampus yang udah banyakkk banget mengubah saya (into a better person, I think) dan terutama ninggalin temen-temen yang selama ini selalu men-support saya in every little thing I do. Hikssss jadi sentimentil gini. Apalagi saya inget ada seseorang yang pernah ngomong sama saya bahwa kampus adalah tempat terakhir di mana kita bisa menemukan sahabat sejati.

Soalnya, menurut dia, ketika seseorang udah memasuki dunia kerja, itu artinya dia udah siap melepaskan kesempatan untuk membina persahabatan. There’s no such thing as friendship in the office! Dunia kerja itu sangat individualistis. Semua orang saling sikut to get to the top. Dunia kerja itu dunianya orang dewasa. Dan orang dewasa selalu sibuk. Selalu kekurangan waktu. Sementara yang namanya persahabatan justru membutuhkan banyak waktu. It takes time to build a friendship. Orang-orang dewasa nggak pernah punya waktu untuk membina persahabatan.

Saya sering bertanya-tanya dalam hati: apa bener begitu?!!

Soalnya, belum lama ini Joyce cerita sama aku tentang pengalamannya di salah satu biro iklan ternama di Jakarta. Ternyata ide dia untuk sebuah iklan sabun disabot sama bosnya sendiri!!! Hi, nggak ngeriii kan tuh? Dan setelah itu dia didepak karena dibilang “kamu nggak berkembang di sini. Ide-ide kamu dangkal”. Wih, nggak sewot kan tuh?

Banyak banget sih yang mengiyakan pernyataan di atas: bahwa kesempatan kita memiliki sahabat-sahabat sejati itu cuma sampai kampus. Setelah di kantor, don’t expect for such a thing!!!

Dulu saya juga punya pikiran kayak gitu. Tapi sekarang … di kantor ini, dengan orang-orang yang tiap hari kerjaannya becanda melulu, orang-orang yang mau direpotin dengan berbagai permintaan tolong (yang sebenernya bisa aja ditolak secara halus maupun kasar), orang-orang yang selalu care dengan perkembangan terbaru dalam kehidupan salah satu di antaranya … saya mulai berpikir, bahwa mungkin pernyataan di atas nggak sepenuhnya benar.

Ada beberapa teman yang pesimis yang bilang,”Belum aja. Mereka belum keluar sifat aslinya. One day juga mereka bisa nusuk lo dari belakang.”

Iya, sih. Bisa jadi mereka benar.

Tapi…
mungkin aja mereka salah. Iya, nggak?

Mungkin aja di tengah dunia orang dewasa yang hectic dan egois, individualistis dan materialistis, ada juga orang-orang dewasa yang nggak pernah melepaskan “anak kecil” dalam diri mereka. Yang selalu punya banyak waktu. Yang punya hati yang lebih besar untuk menampung segala perbedaan yang ada. Yang punya lebih banyak cinta. Yang punya lebih banyak ketulusan.

Kemampuan untuk menerima kemenangan dan kekalahan dengan kapasitas yang nggak jauh beda. Jujur pada diri sendiri. Bisa ketawa lepas dan nggak larut dalam stres yang berkepanjangan. Seperti orang-orang di sekitar saya ini… yang lagi pada ngetik, dengerin musik, terima telepon, yang sibuk sama kerjaannya masing-masing tapi nggak pernah kekurangan waktu untuk becanda, ketawa, atau simply pergi makan siang bareng.

Saya sendiri pernah nulis sebuah janji dalam diary saya on my 17th birthday: saya nggak mau tumbuh dewasa menjadi orang-orang yang saya benci. Orang-orang dewasa yang dengan alasan “memenuhi kebutuhan hidup” menyingkirkan idealisme dan hati nurani mereka. They believe in nothing but money. And every single day I pray … semoga saya nggak tumbuh dewasa menjadi orang-orang seperti itu.

Mudah-mudahan I could keep the little girl inside of me all my life—and die as a happy little girl as well.

What about you?


Being Alive

Kemarin pas balik dari kantor dan mau naik bis di UKI, saya sama lil-Q ngeliat bis AGRA MAS ke Bogor yang gak pake AC. Tapi karena berpikir bis itu bakalan lebih cepet jalan daripada bis Bogor yang ber-AC, maka melompatlah kita berdua ke dalamnya dan duduk agak ke belakang, di bangku yang buat bertiga. Supaya legaaa.

Pas bisnya udah jalan dan lampu dalemnya mulai dimatiin, I feel the thrill … the excitement … kenapa? Karena bisnya ngebut! Hahaha. Nggak tau kenapa, saya suka banget dibawa ngebut. Apalagi di jalan tol. Tapi ngebut di sini ngebut yang pake perhitungan, ya. Maksudnya, yang nyetir memang harus jago ngebut, udah lihai, dan yang paling penting: harus pinter nyalip. Bukan tipe-tipe orang yang main kebut aja tapi bentar-bentar nge-rem mendadak dan bikin kepala jadi pusing.

Serunya lagi, dari jaman dulu sampai sekarang saya selalu aja punya temen-temen yang jago ngebut. Mulai dari jaman SMA waktu ngurusin Recis Fiesta ke Jakarta, ada Steven sama Evan yang asik banget ngebutnya (apalagi kalo denger bunyi knalpot racingnya itu, lho!).

Udah gitu, di antara “gank” Bogor, ada Amon yang kalo suasana hatinya lagi senang bisa ngebut dengan mulus (tapi kalo lagi jutek ngebutnya kayak orang mau bunuh diri). Ternyata masih ada regenerasi juga … ada Mumz, muridnya Amon yang sering disetan-setanin saya dan Cathy untuk membalap mobil-mobil dengan pengemudi keren sepanjang jalan tol on the way home from campus.

Terus di Jakarta sendiri ada my soul sister, Ditik, yang walaupun badannya mungil tapi nyalinya gede banget. (Inget banget pas kita balik dari Grande jam 11 malem dan ngebut ke Bogor dengan kecepatan maksimum, sampai lampu-lampu di terowongan tuh jadi oranye blur).

Balik lagi ke bis AGRA MAS non-AC tadi malem, kebetulan jalan tol-nya memang rada kosong, dan supir bisnya keren juga ngebutnya. Kenceng tapi gak bikin pusing, dan mulus banget cara dia pindah dari jalur kanan ke tengah, ke kiri, sampai ke kanan lagi. Seruuu!!! Apalagi saya duduk di deket jendela, dan ngeliat keluar ke gelapnya malam … somehow lampu-lampu mobil dan lampu jalan seperti menyatu jadi pita-pita panjang berwarna oranye, merah, dan putih. Bagus banget. Apalagi saya buka sedikit celah di jendela, jadi bisa denger hembusan angin yang kenceng abis …

Mungkin memang rada-rada gila juga, seneng dibawa ngebut di jalan tol. Mungkin ada perasaan “escaping” yang nggak bisa dijelasin waktu lagi dibawa ngebut gitu. Ada perasaan “pasrah” sama yang lagi nyetir, di sisi lain ada juga semangat yang meledak-ledak karena rasaya kayak lagi main simulator (atau main Grand Turismo di PlayStation) and being a part of the game.

Orang yang nyetir mungkin nggak bisa senikmat saya. Karena deep down inside, mereka sadar bahwa mereka lagi megang nyawa orang di tangan mereka. Tapi saya? Yang duduk di jok belakang dengan wajah menempel di jendela, merasa nggak punya beban apa-apa. Lepas. Menggantungkan hidup sama orang yang ada di belakang kemudi.

Untuk sesaat merasa bahwa pada detik ini, anything could happen to me … saat-saat ketika langit dan bumi sepertinya jadi satu, dan detak jantung menjadi semacam musik hipnoterapi yang justru membuat kita merasa tenang. Damai. Merasa … hidup. Mungkin efeknya seperti orang-orang yang kecanduan extreme sports seperti paragliding atau bungee jumping.

On the other side, you can feel your heartbeat during yoga meditation. Walaupun saya latihan hatha-yoga (lebih untuk menyehatkan tubuh dan bikin kita keringetan walaupun gerakannya nggak pake loncat-loncat), di sela-sela cooling down biasanya kita meditasi sambil tiduran gitu. And you can hear your heartbeat. You can feel it. And finally, you ARE your heartbeat. Mungkin bakal lebih seru lagi kalau saya nyoba meditative yoga yang mengharuskan kita untuk mengheningkan pikiran, trus memejamkan mata, dan menenangkan diri sambil dengerin musik-musik Zen gitu.

Anyway, saya rasa setiap orang rindu akan perasaan of being alive. Kesibukan sehari-hari membuat kita sering nggak sadar akan keistimewaan HIDUP itu sendiri. Ada orang-orang yang berusaha melepaskan kerinduan mereka terhadap gimana rasanya hidup dengan melakukan hal-hal yang menyerempet bahaya. Soalnya, kegiatan menyerempet bahaya itu deket banget sama yang namanya kematian. Dan perasaan deket sama kematian itu pasti ngasih kita the thrill of being alive. The thrill of breathing. The thrill of seeing, hearing, believing …

Di sisi lain, ada juga orang-orang yang berusaha melepaskan kerinduan mereka terhadap gimana rasanya hidup dengan mengosongkan pikiran. Karena untuk merasakan hidup, you’ve got to let go off your mind. Merasakan itu kan nggak pakai otak. Merasakan itu pakai hati. Dan di tengah kesibukan kita, kita sering menyamakan yang namanya kehidupan itu dengan aktifnya fungsi otak (padahal orang yang punya otak tapi nggak punya hati bisa diibaratkan mumi).

Saya sendiri, memilih untuk melakukan kedua-duanya. Ngebut—dan yoga. Dua-duanya memberikan excitement tersendiri yang membuat saya merasa lebih hidup. Memiliki experience for being alive. Consciousness that we’re all living beings …

Between life and death …
Free your mind …
Free your soul …

Dan pada saat-saat seperti itu, yang ada dalam benak kita bukanlah ketakutan atau ketegangan. Bukan juga kegembiraan yang berlebihan. Bukan emosi. Pada saat-saat seperti itu ada kedamaian yang aneh yang menyelusup dalam hati kita. Ketika kita tidak berpikir dan cuma merasa. Dan tiba-tiba terlintas wajah-wajah mereka yang kita cintai …

Karena satu-satunya saat di mana kita merasa HIDUP adalah saat ketika kita tengah dicintai, dan mencintai seseorang.


The Sky is Getting Crowded

Dalam perjalanan pulang dari kampus suatu malam, taksi yang saya dan Lil-Q tumpangi melewati sebuah papan bertuliskan “Ada pembangunan Monorail”.

Dan saya langsung bilang sama Lil-Q, “Ah! Gila! Langit makin penuh aja. Suatu hari nanti kalau kita ngedongak ke atas kita nggak lagi lihat langit, tapi cuma lihat gedung-gedung dan rel berseliweran di atas kepala kita!”

Waktu itu Lil-Q cuma bilang,”Ya ampun, berlebihan banget kali, Buuu!”

Nggak tau kenapa, tapi dari dulu saya memang paling suka ngeliat langit dan segala yang ada di atasnya. Mulai dari matahari, bulan, bintang, awan, sampai pesawat terbang. Sampai sekarang kalau ada pesawat terbang di langit saya pasti bakal ngeliatin pesawat itu sampai hilang dari pandangan. Saya pernah baca di beberapa buku bahwa orang yang suka ngeliatin langit adalah orang yang tengah merindukan sesuatu. Hmmm, nice interpretation … :p

Waktu kecil saya suka banget ngeliatin awan, how it feels in my hand if I touched it. Saat itu saya janji sama diriku sendiri bahwa kalau saya kaya nanti saya bakal beli tangga yang banyak dan saya tumpuk terus, terus, dan terus, sampai akhirnya saya bisa nyentuh awan.

Waktu kelas 2 SMP juga saya lagi di dalem mobil sendirian, nungguin bokap lagi beli nasi goreng, tiba-tiba ngeliat bintang jatuh! Bagus banget yaaa … dan langsung make a wish. Sampai saat ini saya masih inget saya minta apa. Dan sampai detik ini juga belum terkabul ;p (hari gini masih aja percaya bahwa bintang jatuh bisa mengabulkan permintaan hehehe…)

Anyway, apart from those childhood memories, saya sebelll banget kalau setelah proyek monorail ini ada proyek lain lagi. Mungkin jalan tol bakalan bertingkat 3 atau 4, kayak di film Back to The Future … langit jadi penuh dengan benda-benda yang seharusnya nggak ada di sana. Terus burung-burung jadi nggak bisa leluasa terbang lagi …

(Ngomong-ngomong soal binatang, waktu hari Senin saya marahhhh banget ngeliat a bunch of Korean kids ngelemparin kucing putih di kantor saya pake batu dan mereka ketawa-ketawa senang! Untung aja si putih berhasil ngumpet di dalem bak sampah sehingga anak-anak itu gak bisa mengenai dia. Rasanya pengen bales ngelemparin anak-anak itu pake batu, biar mereka tau gimana rasanya!!! Kalo anak-anak aja udah kejam kayak gitu gimana dunia ini bisa jadi tempat yang lebih baik?)

Kalau orang yang suka ngeliatin langit diinterpretasikan sebagai orang yang tengah merindukan sesuatu, one day ketika langit semakin penuh, mungkin saya akan berhenti menengadah ke langit dan memilih untuk menyelam di laut (I think I need to take a diving course). Meskipun saya udah nggak bisa ngeliat langit lagi, saya masih menjadi seseorang yang merindukan sesuatu. Saya akan merindukan langit yang bersih. Yang kelihatan tinggi dan biru dan luas. Yang gelap dan mendung. Yang hitam dan berbintang.

Sekarang, selagi masih banyak tempat memiliki pandangan ke langit yang gak terhalang, saya bakalan puas-puasin ngeliatin langit. Di belahan dunia yang lain… mungkin ada juga orang-orang yang lagi ngeliat ke langit. Lagi memandangi bintang yang sama. Kejatuhan tetes hujan yang sama. Mengagumi cambukan kilat yang sama … we’re all longing for someone, missing someone, or make a wish for that someone …

Langit membuat saya merasa bahwa kita semua satu. That no matter where we are, no matter who we are, we’re never too far away from each other.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 12,004 other followers